Skip to main content

Posts

Showing posts from 2026

My Eternity, My Torment, My Salvation

This is a series of poetry that I write about someone. I will publish it when I'm ready and the story has (at least what I thought) a clear ending. Hope you enjoy this. Aku (Sesali) Malam Itu Hujan tipis membasuh di Januari Sisa kesedihan Desember yang belum urung Andai aku lebih menyiapkan diri Mungkin aku tak lagi terkurung Andai aku bisa bertemu kamu dahulu kala Tidak akan seindah bayangan ku memang Setidaknya yang tersisa di diriku masih layak untuk dibaca Tidak untuk dimaklumi tapi setidanya tidak gamang Andai aku tahu cerita mu lebih lengkap Tidak perlu setiap menitnya, cukup hari ke hari Sepertinya aku bisa melangkah lebih tegap Tidak untuk menerobos benteng hati yang gagah berdiri Andai aku mendengar mu lebih jelas Tidak samar-samar karena fungsi telinga ku yang kurang Seharusnya indah suara mu terekam lebih tegas Tidak untuk diajak bicara setiap hari, hanya menyuarakan setiap pesan yang datang Andai aku tidak terlalu fokus dengan aku Tidak bergantung situasi untuk menelaah...

The Summer Fling that Last Forever

I believe most of us (or at least my reader here) have already watched (500) Days of Summer. I remember when the movie got released, I was in Singapore as an exchange students during my Junior High School years. My house buddy, Chen, has been repeatedly (and maybe religiously) watched it on the cinema every weekend. He can't stopped talking about how he felt Tom and how shitty Summer is. My 14 y.o.-self can only agrees and moved on with other conversation, because as far as I'm concerned back then, loving someone shouldn't feel shitty. Oh.... how wrong I am.... For you who may have forgotten the plot, the story is about Tom, a hopeless romantic guy with quarter-life crisis that stuck on a not-so-rewarding job of being a copywriter for a greeting card company (yes people used to exchange card for saying somethings, I still do tho), who met Summer, a new secretary in the company that never believed in love nor she ever felt one. The movie explore their journey of meeting each...

Menghadapi Ketakutan di Tengah Reruntuhan

 Sekelilingnya dipenuhi semak belukar. Sesekali tanah longsor menutupi jalurnya. Hilang sudah akar-akar pohon yang dulu menjaganya. Bersamaan dengan gugurnya naungan daun-daun di atasnya. Aliran sungai Aquarius tak selalu sama. Kadang kala deras dan berbahaya. Sering kali terbendung hingga seperti kering. Namun ada kalanya dia tenang dan aman. Aquarius pernah hilang arah. Erosi mengikis badannya dan menggesernya jauh ke tempat yang tak seharusnya. Dulu dia tak tahu kemana dia akan bermuara. Gunung dan batu-batu besar di hulu kadang terbawa oleh alirannya dan merusak rumah yang berada di sekitarnya. Hilirnya dangkal terisi endapan tanah yang dibawanya sepanjang perjalanan. Hingga akhirnya tertutup rapat dan dia terpaksa berubah haluan. Dari kejauhan, hentakan kaki terdengar lirih. Tertatih-tatih. Masih gagah berdiri, Sagitarius menatap tajam ke arah sungai Aquarius. Di kepalanya bermunculan seribu pertanyaan. Apakah sungai ini bersih? Apakah airnya aman diminum? Apakah cukup untuk m...

Meratapi Pemikiran dalam Peti Selebar Bahu

 Tidak banyak ruang untuk bergerak. Mayoritas berisikan bantal!bantal empuk untuk membuat tubuh ku nyaman. Hangatnya kain yang menyelimutiku tetap tak mampu mengalahkan dinginnya ujung-ujung jemari ku yang biru. Aku mempertanyakan mengapa ku berakhir disini. Bukan tentang sebab tapi terkait waktu. Benar kata orang, bahwa manusia yang buruk pergi dengan penuh penyesalan. Aku tak berhasil menjadi apa-apa yang ku inginkan. Hanya menjadi bagian mesin raksasa kapitalisme yang berputar karena harus, bukan karena mau. Aku memikirkan mu. Apakah kamu menyesal pernah mengenalkan? Dengan segala hal hina yang melekat pada diri ku, mengapa masih dapat kau yakin bahwa aku bisa menjadi sesuatu. Dari semua hal yang ku takutkan, tak pernah aku takut aku kecewa, karena memang selalu begitu adanya. Tapi yang aku takutkan adalah aku menyakiti mu karena aku tak bisa menjadi apa yang kamu pikirkan aku mampu. Dan pandangan ku terbatas tak sampai 30cm ke atas. Peti yang luas ini seakan menghimpit napas ku...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...

Tentang Perasaan Takut yang Menghantui Malam

Jika ditanya apa yang membuat ku takut, aku takut aku menjadi sesuatu yang aku tidak pernah bayangkan. Sosok besar yang terus menatap dari sudut ruang berwujud samar bernama kesalahan. Aku menatap dengan sensasi familiar yang sulit aku jelaskan. Aku mengenalnya walau asing, seakan terlalu lama rutinitas ini terjadi hingga terasa aneh jika tidak demikian. Aku berusaha memahami mengapa dia disitu. Terdiam tertunduk sambil terus melafalkan yang ada di masa lalu. Tak peduli baru kemarin atau sudah sewindu. Tragedi demi tragedi yang memahat diri ini menjadi aku. Sulit rasanya memisahkan antara aku dan dia. Karena memang sejatinya hanya ada satu raga. Setiap pilihan dan keputusan yang diambil sudah melalui proses berpikir yang panjang dan nyata. Namun memang penyesalan datang setelahnya. Aku binatang. Buas dan jalang. Terbentuk dari ribuan cacian yang malang melintang. Melintasi hari dengan segala keresahan dan hati yang bimbang. Bagi ku, kehadiran ku tak ayalnya barang antik yang usang. Set...

Percakapan Tengah Malam

 Heyyy, ada banyak sekali hal yang ingin aku tanyakan kepada mu tapi ini akan terasa seperti interogasi. Tapi, nampaknya, aku sudah terlanjur jatuh hati. Jangan tanya kapan dan bagaimana itu terjadi. Aku pun lupa urutan kejadian yang kita lalui. Apa yang kamu usahakan? Benar-benar dari kamu? Atau karena dipaksa? Kamu aslinya ingin apa? Kalau boleh memilih, apa yang akan kamu tinggalkan? Kalau waktu bisa kamu putar, apakah kamu akan pilih jalan yang sama? Kenapa? Aku sangat ingin bisa membantu mu. Meniti jembatan kecil yang sulit dan sempit hanya untuk menyentuh hati mu. Bergandengan beriringan menjadi pribadi yang lebih matang dan dewasa. Menghadapi sisi kekanak-kanakan kita yang belum terobati lukanya. Melalui rintangan demi rintangan yang Tuhan persiapkan untuk kita sebagai ujian yang kelak akan membuat kita sadar bahwa itu semua memang harus dilalui walau berat sebenarnya. Aku melihat bibir mu tersenyum, tapi mata mu sayu. Seakan kesedihan mu bisa kamu sembunyikan dengan sentuha...

Membunuh Diri Berulangkali

Hari ini terasa panjang karena aku mengitari kota untuk sekadar refleksi diri. Meratapi jalanan aspal yang dulu ku lalui. Melihat setiap detail yang mungkin aku lewatkan dulu karena aku terlalu fokus dengan diri ku sendiri. Aku harus mengulang lagi semua proses terapi yang pernah terjadi. Membuka setiap lembaran lama untuk mencari lagi aku yang dulu melangkah di sini. Aku terus kehilangan diri ku karena ku membangunnya dengan pondasi yang tidak terisi. Kebanggaan yang ku bangun selalu runtuh bersama dengan beban kebohongan yang aku ucap agar ku merasa lebih percaya diri. Depresi adalah teman baik yang selalu datang menghampiri. Tidak kaget dan tidak kecewa, menurut ku malah sesuai ekspektasi. Kehadirannya menutup ruang-ruang kosong yang selalu bingung mengisinya. Pada akhirnya bentuknya terpatri jelas membentuk ruam di permukaan hati ku yang sulit aku sembunyikan. Sebesar apapun aku berusaha, aku adalah orang yang paling ku benci. Menghilang bersama tiupan angin, melebur di laut menjad...

Why My Noon Starts to Darken

 I've been struggling with inability to sleep properly since I can remember. It starts with a hyperactivity during the day and the routine of Tahajud and Subuh prayers my late Grandma tried to push to me since I was 4 years old. It's not like I can't fix it. But it's easy for it to crawl back and bite me back. And this day is not so different from others. The more actions going to happened tomorrow, the wider these eyes opened. So yeah... I'm stuck with this, whatever this is... I will just use this moment to write some things up. To regulate my feelings. To regulate my emotions. To regulate my sanity. Before it fades away... Mengapa Siangku Menjadi Gulita Aku menyusuri kembali jalanan kota Jakarta malam tadi sambil menikmati guyuran hujan yang membasuh perih itu pergi. Ketika ku coba cari setiap grafiti yang ku sematkan dalam perjalanan masa lalu yang terus berulang tanpa dapat ku hentikan. Usang sudah semua mimpi yang ku pupuk dengan cinta dan kasih sayang menurut...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta raƱjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...