Skip to main content

Membunuh Diri Berulangkali

Hari ini terasa panjang karena aku mengitari kota untuk sekadar refleksi diri. Meratapi jalanan aspal yang dulu ku lalui. Melihat setiap detail yang mungkin aku lewatkan dulu karena aku terlalu fokus dengan diri ku sendiri. Aku harus mengulang lagi semua proses terapi yang pernah terjadi. Membuka setiap lembaran lama untuk mencari lagi aku yang dulu melangkah di sini.

Aku terus kehilangan diri ku karena ku membangunnya dengan pondasi yang tidak terisi. Kebanggaan yang ku bangun selalu runtuh bersama dengan beban kebohongan yang aku ucap agar ku merasa lebih percaya diri. Depresi adalah teman baik yang selalu datang menghampiri. Tidak kaget dan tidak kecewa, menurut ku malah sesuai ekspektasi. Kehadirannya menutup ruang-ruang kosong yang selalu bingung mengisinya. Pada akhirnya bentuknya terpatri jelas membentuk ruam di permukaan hati ku yang sulit aku sembunyikan. Sebesar apapun aku berusaha, aku adalah orang yang paling ku benci.

Menghilang bersama tiupan angin, melebur di laut menjadi buih, atau sekadar terhapus perlahan bersama hujan adalah perasaan yang lebih dari mimpi yang terus berulang. Aku tidak mampu menatap mata ku sendiri di dalam cermin hari ini. Perasaan jijik yang tidak bisa ku hilangkan walau sudah 29 tahun aku bersamanya. Menghitung hari sampai genap 30 lamanya. Ingin aku robek dan aku pijak dengan kaki agar tidak lagi berbentuk, tidak lagi berupa. Ingin aku lempar ke perapian agar menjadi abu yang tidak dikenali orang. Serasa mau muntah setiap teringat dan setiap bertatapan. Sebenarnya aku apa...

Aku masih ingat nama ku. Lengkap dengan setiap ejaannya.
Aku masih ingat tanggal lahir ku. Detail dengan setiap kejadian yang mengiringinya.
Sisanya kabur seperti campuran antara kenyataan pahit yang tertutup trauma dan tembok delusi yang ku bangun karena aku ketakutan.

Bu.... Aku kenapa ya? 12 tahun sudah aku ga cerita sama ibu. Biasanya aku pulang dan kena omel sama ibu padahal badan lelahnya setengah mati. Sekarang aku terseok-seok tapi aku tidak pernah merasa pulang. Mungkin karena omelan ibu yang selama ini menjadi pelindung ku dari kesalahan-kesalahan yang ku buat dengan sengaja.

Pak.... Aku takut. Duduk bersama bapak setiap pagi dan sore mengajarkan ku lebih banyak tentang kehidupan dibandingkan bangku kuliah ku. Mungkin itu yang membuat ku tidak betah di kelas sejak SD dulu. Karena bukan sama bapak aku sekolah. Bukan sama bapak aku diberi contoh. Bukan bapak yang aku jadikan tujuan walau seharusnya aku bisa.

Mas.... Aku tidak mampu. Kehampaan yang aku rasakan sejak hari itu seperti lubang yang tidak berdasar. Sebanyak apapun aku mengisinya, lubangnya malah bertambah besar dan gelap. Aku terjatuh dan tidak berhenti terayun terombang-ambing tanpa tahu nasib ku nanti di dasar. Aku mengecewakan kamu yang jadi kompas ku setiap ku mencari arah.

Aku ingin pulang.... Rumah ku tidak lagi ada. Atau setidaknya tidak bisa ditemukan. Serpihannya hilang bersama diri ku yang ku buang perlahan di sepanjang jalan. Di makan hewan liar dan tersapu derasnya arus kendaraan. Tidak lagi dapat dibedakan dari sampah ataupun ludahan.

Dalam keadaan limbung aku memutuskan refleksi diri ku harus berhenti sejenak. Ada hari yang harus ku hadapi lagi besok. Dan mungkin besoknya lagi. Dan mungkin seterusnya hingga aku kembali membangun rumah ku dengan pondasi yang lebih kuat dan kokoh.

Hidup memang bukan milikku sendiri. Harus mulai diisi dengan orang-orang yang benar-benar mengenalku. Yang menyimpan setiap kepingan diri ku di hari-hari ku bersamanya. Agar aku ingat kembali aku siapa, aku di mana, aku mengapa...

Kepada mu yang sedang tertidur nyenyak, aku harap kamu dapat bermimpi indah, karena aku sedang tidak bisa.

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta raƱjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...