Aku kehilangan renjanaku.
Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta rañjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021)
Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana...
Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondasi bagi hal besar yang aku mau berikan untuk dunia. Bagaimana kehidupan masa lalu ku membentuk mimpi ku hingga halus tak bercela. Setiap detail, setiap lekukan, setiap benturan punya maksud. Terkadang kesombongan ku terbawa dalam kalimat-kalimat sakti yang ku ceritakan ke teman-teman ku. Hingga akhirnya mereka percaya kalau aku bisa mewujudkan itu.
Namun aku dihadapkan pada mereka yang sekarang menatap ku sambil termenung. Kemana kamu? Kenapa jadi begini? Kami takut kamu tak lagi sama. Kami benci melihat kamu berubah seperti itu. Dan yang paling menyakitkan... Kamu kehilangan mimpi mu...
Kalau ditanyapun aku tak tahu. Kapan terakhir kali aku melihatnya? Meletakkannya di mana pun aku lupa. Rupanya samar-samar masih ada di dalam benak. Tapi tetap saja menurutku abstrak. Aku tidak tahu renjana ku apa....
Dan semalam aku menangisinya. Tersedu-sedu sambil diselingi teriak kesakitan. Rasanya hampa menusuk dan tubuhku seperti mau runtuh ditelan lubang hitam. Aku tidak tahu mengapa... Aku hanya bisa menatap, langit-langit putih sambil menahan mata ku yang sembab. Aku menangis, aku lelah, aku tertidur, aku terbangun, aku berteriak, aku kesakitan, aku menangis, dan terulang. Sangat sulit mendeskripsikan rasa sakit yang begitu hampa. Seperti tubuh ku kosong tapi aku tahu harusnya berisi. Seperti terjatuh dan tak pernah berhenti. Seperti tertiup angin malam musim dingin di Dresden menjelang fajar. Seperti tenggelam dalam larutan jernih yang bukan air, sesak, lengket, dan berat, tetapi jelas terlihat semuanya. Seperti necrosis di ujung-ujung jari hipotermia. Seperti entupan tawon ke seratus yang kamu alami. Seperti minum tapi tidak menghilangkan dahaga. Dan aku hanya bisa berkubang dalam hati ku yang terpuruk, bobrok, dan busuk.
Aku mencari kepingan-kepingan itu, yang ku simpan kata demi kata di ribuan orang yang bertemu diri ku. Di ratusan artefak masa lalu yang ku kumpulkan seiring perjalanan ku. Di puluhan kota tempat ku menginjakkan kaki dan mengabadikan nama ku. Aku benar-benar berharap aku bisa kembali menemukan renjana ku.
Aku merasa kehampaan ini adalah kutukan yang ku ciptakan sendiri. Sebagai pencipta yang menelantarkan ciptaannya, sangatlah wajar aku merasa sakit ketika tahu renjana ku hilang. Karena dahulu dia tersemat begitu dekat dengan nadi ku. Berdetak bersama setiap ritme jantung ku. Terhela dan tersampaikan dalam setiap hembusan nafas ku. Oh renjana ku... Aku harus apa tanpa mu....
Semoga hanya aku, yang masih tertinggal di 2018 sambil menangisi diri ku yang sudah tiada. Aku membunuh diri ku seperti aku membuang renjana ku, tidak sadar namun ingat...
Berikan aku kekuatan untuk kembali meniti jembatan itu lagi, yang setipis rambut manusia dibelah tujuh. Yang aku tahu hanya aku yang bisa mejawab-Nya. Namun sebelum aku menjawab, izinkan aku memohon untuk diberi kekuatan dan ketabahan, agar aku mampu mempertanggungjawabkan semua yang ku perjuangkan.
Aku akan memulai petualanganku mencari renjana ku lagi. Dan semoga diujungnya nanti, aku akan ditemani oleh orang-orang yang setia dan jujur kepada ku.
Sampai nanti...
Comments
Post a Comment