Skip to main content

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu
Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu
Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu?
Nestapa ku begitu dalam begitu pilu
Itikaf mu begitu lama begitu sendu
Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu

Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya
Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya
Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa
Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa
Andai ini semua selalu ada
 
Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki
Ini janji yang aku buat untuk mu nanti
Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai
Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi
Seperti rintik hujan di penghujung musim semi
Oasis ku membekali mu dan mengisi
Nayanika mu menguatkan, membangkitkan berulang kali
Opus kata-kata ku menjadi perwujudan ku yang abadi

That's it, hope that you like it. My writings' getting rusty right now, so I need to keep writing until I found my passion again.

See you!!

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta raƱjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...