Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2018

Distress Signal

So, here I am again fighting with constant conversation in my head about what is the meaning of life? Not philosophically, but more like questioning myself. Do I really still needed as a person? What is the meaning of me being alive? And is there a person out there who cared whether I'm alive or not? Because the last time I check, no one seems to care enough. Yes, they asked about how's life recently, when will I get married, when will I graduated, what is my plan for the next few years, and et cetera. But, it's just for the sake of keeping up with the competition. It's like "Well, he already achieved that, so I must be better." type of conversation. It will always end up with they showing off what they have done in life. I don't really care about the tangible things, to be honest. I don't like the talk about how much money you produced in a month. I don't even care about your plan to get married before you turned 25. I don't really want...

Bertanya pada Siapa?

Kepala ku penuh tanya akan banyak hal seperti dunia, langit, laut, kota, rumah, energi, logika, gaib, dan kita misalnya. Seringkali aku berdebat dengan diri ku tentang apa maksud ku dan apa mau ku. Tak jarang semuanya berakhir dengan jalan buntu. Tapi sering pula ditutup dengan jawaban singkat nan lugu. Aku masih sering bertanya mengapa kita bertemu kalau bukan untuk bersatu. Nyatanya memang tidak semua harus bersatu. Air yang bertemu dengan minyak tak selama nya beremulsi menjadi kesatuan yang fungsional. Langit yang tak pernah menyentuh tanah menjadi satu kesatuan bernama bumi. Jadi harusnya kita memang begini adanya. Tapi terkadang melelahkan disaat aku tahu perasaan ku untuk mu memang bukan hanya perasaan sementara, akan tetapi semesta berkata memang kita bukan untuk bersama. Tapi terkadang menyedihkan disaat aku tahu perasaan mu untuk ku bukan hanya perasaan sekejap mata, akan tetapi sang surya pun tetap tenggelam di akhir hari kita. Indahnya kasih kita hanya menjadi kisah...

Menilik Kini

Menaiki pesawat selalu terasa ajaib. Melangkah memasuki pintu dan kemudian berdiam selama beberapa waktu hingga tiba di suatu tempat dengan perbedaan zona waktu biasanya. Ajaib karena kita tidak melihat prosesnya. Semua terasa tiba-tiba. Tidak seperti berkendara dengan mobil atau motor yang kita berinteraksi langsung dengan proses perjalanan kita. Entah berbenturan dengan kendaraan lain, atau mengerem akibat lampu merah. Tidak pula seperti kapal atau kereta yang kita melihat pergerakannya. Getaran dari rel yang dilalui, atau gemericik ombak yang terhabur baling-baling kapal. Kemudian turbulensi menyadarkan kita dari hipnotis keajaiban pesawat. Benturan hebat, penurunan tekanan, bahkan perubahan ketinggian secara mendadak membuat kita sadar bahwa kita melalui sesuatu. Aliran udara dari tempat bertekanan tinggi ke tekanan rendah menciptakan angin yang menggerakkan awan, benda yang cukup ringan untuk menggantung di langit bumi tetapi cukup kuat untuk menggoncang seisi pesawat. Belum l...