Skip to main content

Posts

Showing posts from 2018

Menjelang Subuh

Teruntuk diri ku yang tak bisa tidur dan menanti detik-detik subuh. Sadarkan diri mu bahwa ada yang menjerit dalam tubuh. Semua helaan napas yang kamu lakukan selalu berkata bahwa kau butuh. Banyak hal yang seharusnya kamu perhatikan seperti pola makan, jam tidur, bahkan kondisi tubuh. Jangan harap bisa berkembang kalau kamu belum tumbuh. Teruntuk diri ku yang masih bergulat dengan pemikiran sebelum fajar. Tidak semua pertanyaan harus terjawab dengan wajar. Tuhan bekerja bahkan dengan cara yang tak masuk nalar. Entah kenapa kamu terus mempertanyakan banyak hal yang bahkan tidak dapat terjawab walau samar. Mungkin harus kamu tolehkan pandangan mu yang telah nanar. Teruntuk diri ku yang masih menghitung domba-domba menuju tidur. Tidak kamu jenuh dengan semua perjalanan mu yang tak beralur. Jika saja kamu dapat menyederhanakan ekuasi mu yang bercampur. Dan mungkin memperkuat iman mu yang telah luntur. Maka bisa saja kamu mendapat jawab dari tanya yang kamu tutur. Teruntuk diri...

Berbeda karena Setara

Terkadang kita merasa "Kenapa aku berbeda?" Kadang karena fisik kita tak serupa, kadang karena selera musik kita tak sama, kadang karena pandangan hidup yang berseberangan, kadang karena ya memang beda saja. Kita mempertanyakan diri kita karena kita berbeda dari kebanyakan orang di sekitar kita. Apakah kita salah? Apakah kita benar? Bagaimana cara memperbaikinya? Kemudian kita bertemu dengan dunia maya. Tempat kita dapat memilih dan menyaring orang-orang yang berada di sekitar kita. Kita memilih mereka yang sepaham. Kita memilih mereka yang serupa. Kita memilih mereka yang sama. Hingga kita menciptakan sebuah benteng perlindungan akan ideologi yang kita punya. Kita dapat berkata bahwa kita memang lumrah dan benar adanya karena kita punya lingkungan yang mendukung hal yang kita pegang teguh. Kemudian kita menciptakan stigma bahwa yang berbeda adalah salah. Kita memberikan cap pada mereka yang berbeda. "Ah dasar garis keras." atau "Ah memang cebong." ata...

Where to Find Me?

Menginjakkan kaki di rumah ketika sudah pukul 11 malam hari itu terasa berbeda dari malam lainnya. Bukan karena hari ini merupakan hari perayaan wisuda yang lama dinantikan, tapi lebih ke kepuasan yang ku dapatkan. Lucunya, sama sekali tidak ada hubungannya dengan wisuda. Hari itu aku menatap wajah-wajah gembira dan sumringah dari kebanyakan orang tua dan para wisudawan yang hadir. Kebanyakan. Sebagian kecil lainnya ada wajah kecewa karena orang tuanya tidak dapat hadir secara lengkap. Sebagian lainnya kecewa karena berbagai riasan wajah yang dipolesnya mulai luntur akibat keringat. Sebagian lainnya juga ada yang bersedih karena baru kehilangan seseorang yang penting di hidupnya, padahal sangat dinantikan kehadirannya. Sebagian hanya bisa berdiri dan menatap dari kejauhan sambil menanti siapa yang akan mengisi ceritanya hari ini. Aku memang kurang suka kerumunan, terlalu banyak manusia, dan aku memang sangat suka memperhatikan setiap detail. Alhasil, kepala ku kelebihan...

Distress Signal

So, here I am again fighting with constant conversation in my head about what is the meaning of life? Not philosophically, but more like questioning myself. Do I really still needed as a person? What is the meaning of me being alive? And is there a person out there who cared whether I'm alive or not? Because the last time I check, no one seems to care enough. Yes, they asked about how's life recently, when will I get married, when will I graduated, what is my plan for the next few years, and et cetera. But, it's just for the sake of keeping up with the competition. It's like "Well, he already achieved that, so I must be better." type of conversation. It will always end up with they showing off what they have done in life. I don't really care about the tangible things, to be honest. I don't like the talk about how much money you produced in a month. I don't even care about your plan to get married before you turned 25. I don't really want...

Bertanya pada Siapa?

Kepala ku penuh tanya akan banyak hal seperti dunia, langit, laut, kota, rumah, energi, logika, gaib, dan kita misalnya. Seringkali aku berdebat dengan diri ku tentang apa maksud ku dan apa mau ku. Tak jarang semuanya berakhir dengan jalan buntu. Tapi sering pula ditutup dengan jawaban singkat nan lugu. Aku masih sering bertanya mengapa kita bertemu kalau bukan untuk bersatu. Nyatanya memang tidak semua harus bersatu. Air yang bertemu dengan minyak tak selama nya beremulsi menjadi kesatuan yang fungsional. Langit yang tak pernah menyentuh tanah menjadi satu kesatuan bernama bumi. Jadi harusnya kita memang begini adanya. Tapi terkadang melelahkan disaat aku tahu perasaan ku untuk mu memang bukan hanya perasaan sementara, akan tetapi semesta berkata memang kita bukan untuk bersama. Tapi terkadang menyedihkan disaat aku tahu perasaan mu untuk ku bukan hanya perasaan sekejap mata, akan tetapi sang surya pun tetap tenggelam di akhir hari kita. Indahnya kasih kita hanya menjadi kisah...

Menilik Kini

Menaiki pesawat selalu terasa ajaib. Melangkah memasuki pintu dan kemudian berdiam selama beberapa waktu hingga tiba di suatu tempat dengan perbedaan zona waktu biasanya. Ajaib karena kita tidak melihat prosesnya. Semua terasa tiba-tiba. Tidak seperti berkendara dengan mobil atau motor yang kita berinteraksi langsung dengan proses perjalanan kita. Entah berbenturan dengan kendaraan lain, atau mengerem akibat lampu merah. Tidak pula seperti kapal atau kereta yang kita melihat pergerakannya. Getaran dari rel yang dilalui, atau gemericik ombak yang terhabur baling-baling kapal. Kemudian turbulensi menyadarkan kita dari hipnotis keajaiban pesawat. Benturan hebat, penurunan tekanan, bahkan perubahan ketinggian secara mendadak membuat kita sadar bahwa kita melalui sesuatu. Aliran udara dari tempat bertekanan tinggi ke tekanan rendah menciptakan angin yang menggerakkan awan, benda yang cukup ringan untuk menggantung di langit bumi tetapi cukup kuat untuk menggoncang seisi pesawat. Belum l...

Menjadi Fitrah

Idul Fitri 1439 H. Dirinya kembali mendapat ceramah panjang dari pamannya. "Telpon bunda mu. Udah berapa lebaran kamu ga ngehubungin dia? Biar bagaimana pun dia kan bunda kamu." Kata pamannya yang sedang sibuk menyiapkan perayaan besar esok hari. Dia menundukkan kepala sambil tetap berusaha mendengarkan alunan musik yang di telingannya. Baginya, Lebaran memang hanya momen yang biasa saja. Akan selalu diceramahi tentang hubungannya dengan bundanya. Akan selalu bertemu keluarga-keluarga yang tak begitu dia kenal. Akan selalu mendengar kisah-kisah sukses anggota keluarganya. Akan selalu dibanding-bandingkan dengan saudara-saudaranya. Akan selalu ditanya mau sekolah dimana, kerja dimana, kapan nikah, kapan punya rumah, dan segala tuntutan lainnya. Baginya, lebaran tidak lebih dari sekadar ajang penelanjangan diri di hadapan umum. Memalukan. "Biar bagaimana pun dia kan orang tua kamu. Terserah dia mau kayak gimana, tapi kamu ga boleh durhaka, ntar susah ke depannya....

A Poetry

When I write a poetry People guessing the meaning behind it Does it represent my feeling? Does it represent my views? Does it represent my history? Does it represent you? When I write a poetry It's not only about you I like to write about the blue sky I like to write about the big waves I like to write about people My poetry is not only about you I don't like when people said "It really tells your feeling for her" When all I want to say is "I'm feeling happy today" My poetry is not only about you I wish I can tell the world That my inspiration is not only you I see the news I see the society I see the ocean I see the cities My poetry is about the universe I kiss the earth beneath me I learn to fly with the wind I melt in the river I merge with the forest I scream to the raging storm I burn with the volcano I dissolve into millions of particle And be part of the universe But sometimes My poetry is abou...

Selalu

Pernah terjebak dalam kendaraan yang sedang melaju dan gapunya kendali atas arah melajunya? Like di mobil mudik keluarga, di bus rombongan karyawisata sekolah, atau di dalam suatu hubungan? Lo gabisa menentukan kemana dia jalan, dimana dia akan berhenti, dan kapan dia akan dapat menjawab kebutuhan lo. Well, that's some shit you hate right? Ga benci sih, mungkin cuma itu membuat lo ga nyaman. Seperti lo gatau mau apa, dan lo gatau juga kaalau dikasih kendali atas itu, lo bakal mau kemana. Tapi lo gasuka aja gapunya arah selain yang diarahin sama orang lain. Lo gabisa bilang lo maunya apa, tapi gapengen aja dipasangin kacamata kuda. Dan in the end, the only one you can get mad with is yourself. Situasi kayak gini sebenernya sering kita hadapi. Di sekolah misalnya, sering ga sih lo ngerasa lo gasuka belajar suatu mata pelajaran karena menurut lo ga guna, tapi klo disuruh belajar yang lain juga lo gatau (bahkan mungkin gamau) pelajaran apa yg pantes buat gantiin. Di dalam pekerja...

Tenggelam dalam Senyap

Lelah tak lagi sanggup menggambarkan apa yang gw rasakan. Terkadang gw mempertanyakan apakah yang gw lakukan selama ini benar? Karena faktanya begitu banyak kekecewaan yang gw rasakan dan gw sebabkan. Gw munafik kalau bilang bahwa gw ga pernah salah, karena toh memang gw selalu berada dalam posisi yang salah. Terlalu memaksakan kehendak terkadang. Terlalu ambisius terkadang. Terlalu pasif terkadang. Sampai ketika semua sudah terlambat, gw akan berada dalam keadaan di mana gw hanya bisa bilang "Ah, shit..." Gw sedang berada pada suatu persimpangan yang memaksa gw memilih untuk "Istirahat" atau "Maju". Manusia normal pada umumnya akan memilih untuk terus maju, terlepas dari situasi maupun kondisi mereka. Bagi sebagian besar orang, maju berarti progres, progres berarti berkembang, berkembang berarti baik, dan baik adalah tujuan semua orang. Terus pertanyaannya, ketika maju akan membuat lo sukses, tapi dengan konsekuensi lo kehilangan semuanya selain ke...

Hidup (Tidak) Hanya untuk Berdoa

Ketika gw dihadapkan pada sebuah dogma bahwa hidup hanya untuk berdoa pada Tuhan, gw mempertanyakan lagi kebenarannya. Benarkah kita hanya diciptakan untuk berdoa? Apakah Tuhan merupakan suatu eksistensi Maha Narsistik sehingga Dia dengan kemampuan Maha Pencipta-Nya menciptakan segala hal di muka bumi hanya agar mendapat pengakuan bahwa Dia yang Maha Segalanya? Benarkah kita hanya diciptakan untuk pemenuhan ego semata? Dengan segala kesemuan atas segala sesuatu di alam semesta, benarkah kita tak memiliki arti lain selain hamba? Ini aneh. Krisis identitas yang gw alami ketika gw memutuskan untuk menjadi seorang Nihilist selalu berujung pada kita memang hanya sebuah butiran debu di alam semesta yang tak terbatas. Tapi setiap detik dari sebuah lini waktu adalah hal yang berharga. Kita memang hanya bisa hidup 70 tahun lamanya (kalau lo tinggal di Indonesia, dan sesuai dengan angka harapan hidup). Dan 70 tahun itu ga sebanding sama sejarah manusia yang udah 12.018 tahun lamanya. Dan l...

Let's Throw Everything Behind

Will you love yourself throughout the year babe? Because I'm questioning my own self. ------- Jadi, sekarang udah seminggu berlalu di bulan Maret. Dan gw menemukan bahwa, bubur diaduk itu lebih enak daripada engga. Wkwkwkwk, ga deng. Gw kembali biasa aja. Yeah, february hit me like a truck. Tapi ya mau sampai kapan gw harus bersedih atas segala hal yang di luar kendali gw? Gw terlalu sering menasehati orang tentang cara menjadi bahagia tapi semua yg gw sampaikan ke mereka adalah yang tidak gw lakukan. Ya.... bukan munafik sih. Lebih kayak gw ngerasa gw tau rasanya ga bahagia dan gw pengen orang lain bahagia. Gw seneng ngeliat orang lain bahagia. Sampai di satu titik dimana gw ngebentak diri gw sendiri "NAIF LO NJING!" Lo pasti pengen bahagia! Lakuin semua yang lo bilang ke orang2. Tinggalin masa lalu lo. Move on. Cintai diri lo sendiri. Lakuin hal yg selama ini gabisa lo lakuin. Lepasin ikatan lo dari rantai-rantai duniawi yang ngebelenggu lo. Cari arti diri...

Membohongi Diri Sendiri

Gw kembali berbaring di atas kasur gw sambil meratapi nasib gw yang baru saja kehilangan tas berisikan laptop dan bahan-bahan skripsi gw. Beberapa minggu terakhir gw dihadapkan pada beragam bentuk kehilangan dari mulai kehilangan pasangan hidup, kehilangan teman, kehilangan harta, kehilangan jabatan, dan lainnya. Hal ini membuat gw mempertanyakan kembali diri gw, "Am I that bad?" Sederhana aja, kata orang tua kalau kita gabisa menjaga sesuatu ya kita bakal kehilangan itu. It makes sense kalau kita membicarakan harta. Dan jauh lebih makes sense ketika konteksnya adalah hubungan dengan seseorang. Masalah yang gw hadapi adalah, karena gw yg ditinggal, apakah memang gw ga se-amanah itu? Februari 2018 menjadi bulan paling panjang dalam hidup gw sekaligus bulan paling singkat. 4 minggu penuh kekacauan ini terasa begitu lama hingga gw sangat ingin semuanya cepat berakhir, dan somehow, secepat itu juga dia berakhir. Sigh.... Sebenernya gw gatau mau menulis apa. Begitu banyak ha...

Seonggok Daging yang Menyerupai Manusia

Jadi, anggap lo bisa menggambil sebuah sel dari tubuh lo. Dan lo menumbuhkan sel tersebut hingga menjadi suatu jaringan. Dan jaringan tersebut dapat dipakai sebagai pengganti kulit lo kalau lo menjadi korban luka bakar. Atau mengganti pembuluh darah lo yang tersumbat kolesterol. Atau memperbaiki paru-paru lo yang kena kanker. Keren kan? Stem cell technology atau teknologi sel punca emang lagi ngetren sekarang. Digadang-gadangkan sebagai pengobatan masa depan. Dan yang paling penting, memperbesar angka harapan hidup manusia. Kita lagi hidup di masa dimana dunia lagi penuh-penuhnya gara-gara generasi baby boomer yang doyan bikin anak pasca Perang Dunia 2. Tapi rate of death kita mulai menyusul rate of birth kita. Kalau kita bakteri dalam reaktor, udah mulai menjelang masa-masa Stationary Phase lah. Sampai suatu saat kita akan menuju masa dimana kematian akan datang jauh lebih cepat daripada kelahiran. Populasi kita akan menurun drastis hingga ada saatnya, kita punah. Penyeba...