Gw kembali berbaring di atas kasur gw sambil meratapi nasib gw yang baru saja kehilangan tas berisikan laptop dan bahan-bahan skripsi gw.
Beberapa minggu terakhir gw dihadapkan pada beragam bentuk kehilangan dari mulai kehilangan pasangan hidup, kehilangan teman, kehilangan harta, kehilangan jabatan, dan lainnya. Hal ini membuat gw mempertanyakan kembali diri gw, "Am I that bad?" Sederhana aja, kata orang tua kalau kita gabisa menjaga sesuatu ya kita bakal kehilangan itu. It makes sense kalau kita membicarakan harta. Dan jauh lebih makes sense ketika konteksnya adalah hubungan dengan seseorang. Masalah yang gw hadapi adalah, karena gw yg ditinggal, apakah memang gw ga se-amanah itu?
Februari 2018 menjadi bulan paling panjang dalam hidup gw sekaligus bulan paling singkat. 4 minggu penuh kekacauan ini terasa begitu lama hingga gw sangat ingin semuanya cepat berakhir, dan somehow, secepat itu juga dia berakhir. Sigh....
Sebenernya gw gatau mau menulis apa. Begitu banyak hal yang terputar di kepala gw sampai gw gatau gimana cara milahnya. Dan sekarang gw gapunya orang yang bisa membantu gw untuk memilah isi kepala gw. Dulu semua terasa mudah. Dulu semua terasa ringan. Gaada beban aja, gw bisa dengan gampang menyortir apa yang gw pikirkan untuk membuat suatu pemikiran yang runut dan sistematis demi menjaga kelangsungan hidup gw. Sekarang, too much things happening at once.
Sometimes I'm questioning myself. Did I set the bar too high?
Gw capek mengejar ekspektasi yang gw sematkan sendiri. Hahahhaha..... Lucu emang. Berkali-kali gw menuliskan untuk "Just be yourself and fuck everybody's expectation." dan gw malah terjegal sama ekspektasi gw sendiri.
Bodoh lo Ry.
Sangat menyebalkan ketika lo tau apa yang salah dan lo cuma bisa diem... Ga sih, lo bisa ga cuma diem. Tapi lo ga punya cukup tenaga untuk bergerak dan mengubah situasinya. Lo jadinya cuma bisa ngikutin flow yang ada karena simply, lo ga punya tenaga ekstra. Gw yang udah 22 tahun hidup di dunia ini mulai ngerasa kelelahan. Jujur gw capek harus terus-terusan melangkah lebih cepat dari temen-temen gw untuk mencapai hal yang sama. Gw mulai ngerasa effort nya ga sebanding sama hasil yang gw dapatkan. Gw mulai ngerasa kalau gw cuma buang-buang tenaga aja. Dengan atau tanpa gw berusaha, hidup gw akan terus maju ke depan.... Cuma tinggal masalah laju nya aja.
Singkatnya, krisis identitas.
Gw capek... Banget.... Somehow keberhasilan yang diakui kebanyakan orang adalah sesuatu yang tangible kayak uang, jabatan, nilai, pamor, dan lainnya. Ya... ga salah sih. Sesuatu yang berwujud emang lebih mudah untuk dibandingkan dan jadinya semua berlomba-lomba mengejar wujud tersebut. Dan ya seneng ga sih lo disaat lo bisa dibilang lebih hebat dari orang lain? Bohong kalau lo bilang engga. Permasalahannya, terkadang apa yang kita inginkan bukanlah sesuatu yang tangible...
Gw cuma pengen bahagia melakukan riset-riset gw demi memajukan teknologi dan ilmu pengetahuan Indonesia. Sederhana. Tapi sulit.
Simply karena orang ngerasa itu bukan prestasi atau sesuatu yang tangible. Ga ngehasilin duit. Ga mudah dibandingkan dengan orang lain. Dan abstrak. Masalahnya bukan cuma mimpi gw yg untangible, tapi semua pencapaian gw selama ini. Dipandang sebelah mata bukan hal yang asing bagi gw. Dan ditinggal atau dijatuhkan banyak orang juga udah kayak rutinitas bagi gw. Tapi lama-lama ya capek...
Gw ngerasa kayak sampah. Bukan karena gw gabisa mencapai apa yang gw inginkan, tapi karena orang-orang banyak yang menganggap gw sampah. Jadinya udah kayak doktrinasi. Walaupun sebenernya engga, gw jadi ngerasa apa yang mereka katakan itu bener. Tanpa ada orang di sisi gw yang bisas bilang dan meyakinkan gw bahwa gw itu ga seburuk itu, gw jadi ngerasa super duper sendirian.
Ah Tuhan... Jika kau benar-benar ada, hamba lelah....
"Terus lo masa mau nyerah Ry? Namanya lari dong." Jadi orang kuat itu ga selamanya maju terus pantang mundur. Sebagai binatang, kita punya naluri yang masih melekat dalam otak kita ketika kita dihadapkan pada masalah, Fight or Flight. Kalau lo tau lo kuat dan bisa, ya fight. Hajar terus sampai titik darah penghabisan. Tapi kalau lo tau pasti gagal dan kalau pun menang akan tetap merugikan, ya lepaskan, buat apa? Gw pengen berbaring dan menatap langit seraya menyaksikan dunia berubah di sekitar gw... Terdengar menyenangkan dibandingkan harus melanjutkan perjalanan di jalan berbatu yang telah gw lalui selama ini.
Tapi... itu juga ga membuat gw bahagia. Udah gw ga punya pencapaian yang bisa dibanggakan ke orang-orang, gw juga ga berhasil menggapai mimpi yang gw idam-idamkan. Nilai gw Nol Besar...
Gw butuh lo sebenernya... Gw gatau harus apa... Wahai belahan jiwa yang telah lama hilang.
Sayang...
Beberapa minggu terakhir gw dihadapkan pada beragam bentuk kehilangan dari mulai kehilangan pasangan hidup, kehilangan teman, kehilangan harta, kehilangan jabatan, dan lainnya. Hal ini membuat gw mempertanyakan kembali diri gw, "Am I that bad?" Sederhana aja, kata orang tua kalau kita gabisa menjaga sesuatu ya kita bakal kehilangan itu. It makes sense kalau kita membicarakan harta. Dan jauh lebih makes sense ketika konteksnya adalah hubungan dengan seseorang. Masalah yang gw hadapi adalah, karena gw yg ditinggal, apakah memang gw ga se-amanah itu?
Februari 2018 menjadi bulan paling panjang dalam hidup gw sekaligus bulan paling singkat. 4 minggu penuh kekacauan ini terasa begitu lama hingga gw sangat ingin semuanya cepat berakhir, dan somehow, secepat itu juga dia berakhir. Sigh....
Sebenernya gw gatau mau menulis apa. Begitu banyak hal yang terputar di kepala gw sampai gw gatau gimana cara milahnya. Dan sekarang gw gapunya orang yang bisa membantu gw untuk memilah isi kepala gw. Dulu semua terasa mudah. Dulu semua terasa ringan. Gaada beban aja, gw bisa dengan gampang menyortir apa yang gw pikirkan untuk membuat suatu pemikiran yang runut dan sistematis demi menjaga kelangsungan hidup gw. Sekarang, too much things happening at once.
Sometimes I'm questioning myself. Did I set the bar too high?
Gw capek mengejar ekspektasi yang gw sematkan sendiri. Hahahhaha..... Lucu emang. Berkali-kali gw menuliskan untuk "Just be yourself and fuck everybody's expectation." dan gw malah terjegal sama ekspektasi gw sendiri.
Bodoh lo Ry.
Sangat menyebalkan ketika lo tau apa yang salah dan lo cuma bisa diem... Ga sih, lo bisa ga cuma diem. Tapi lo ga punya cukup tenaga untuk bergerak dan mengubah situasinya. Lo jadinya cuma bisa ngikutin flow yang ada karena simply, lo ga punya tenaga ekstra. Gw yang udah 22 tahun hidup di dunia ini mulai ngerasa kelelahan. Jujur gw capek harus terus-terusan melangkah lebih cepat dari temen-temen gw untuk mencapai hal yang sama. Gw mulai ngerasa effort nya ga sebanding sama hasil yang gw dapatkan. Gw mulai ngerasa kalau gw cuma buang-buang tenaga aja. Dengan atau tanpa gw berusaha, hidup gw akan terus maju ke depan.... Cuma tinggal masalah laju nya aja.
Singkatnya, krisis identitas.
Gw capek... Banget.... Somehow keberhasilan yang diakui kebanyakan orang adalah sesuatu yang tangible kayak uang, jabatan, nilai, pamor, dan lainnya. Ya... ga salah sih. Sesuatu yang berwujud emang lebih mudah untuk dibandingkan dan jadinya semua berlomba-lomba mengejar wujud tersebut. Dan ya seneng ga sih lo disaat lo bisa dibilang lebih hebat dari orang lain? Bohong kalau lo bilang engga. Permasalahannya, terkadang apa yang kita inginkan bukanlah sesuatu yang tangible...
Gw cuma pengen bahagia melakukan riset-riset gw demi memajukan teknologi dan ilmu pengetahuan Indonesia. Sederhana. Tapi sulit.
Simply karena orang ngerasa itu bukan prestasi atau sesuatu yang tangible. Ga ngehasilin duit. Ga mudah dibandingkan dengan orang lain. Dan abstrak. Masalahnya bukan cuma mimpi gw yg untangible, tapi semua pencapaian gw selama ini. Dipandang sebelah mata bukan hal yang asing bagi gw. Dan ditinggal atau dijatuhkan banyak orang juga udah kayak rutinitas bagi gw. Tapi lama-lama ya capek...
Gw ngerasa kayak sampah. Bukan karena gw gabisa mencapai apa yang gw inginkan, tapi karena orang-orang banyak yang menganggap gw sampah. Jadinya udah kayak doktrinasi. Walaupun sebenernya engga, gw jadi ngerasa apa yang mereka katakan itu bener. Tanpa ada orang di sisi gw yang bisas bilang dan meyakinkan gw bahwa gw itu ga seburuk itu, gw jadi ngerasa super duper sendirian.
Ah Tuhan... Jika kau benar-benar ada, hamba lelah....
"Terus lo masa mau nyerah Ry? Namanya lari dong." Jadi orang kuat itu ga selamanya maju terus pantang mundur. Sebagai binatang, kita punya naluri yang masih melekat dalam otak kita ketika kita dihadapkan pada masalah, Fight or Flight. Kalau lo tau lo kuat dan bisa, ya fight. Hajar terus sampai titik darah penghabisan. Tapi kalau lo tau pasti gagal dan kalau pun menang akan tetap merugikan, ya lepaskan, buat apa? Gw pengen berbaring dan menatap langit seraya menyaksikan dunia berubah di sekitar gw... Terdengar menyenangkan dibandingkan harus melanjutkan perjalanan di jalan berbatu yang telah gw lalui selama ini.
Tapi... itu juga ga membuat gw bahagia. Udah gw ga punya pencapaian yang bisa dibanggakan ke orang-orang, gw juga ga berhasil menggapai mimpi yang gw idam-idamkan. Nilai gw Nol Besar...
Gw butuh lo sebenernya... Gw gatau harus apa... Wahai belahan jiwa yang telah lama hilang.
Sayang...
Comments
Post a Comment