Jika tak ada Surga, lalu apa?
Kehilangan kita akan suatu tujuan tak mengubah satupun hal di muka dunia. Tak membuat kita menjadi menginginkan neraka. Walau hidup pun bukannya tak lebih menyiksa. Tapi apa kemudian?
Jika tak ada hidup setelah mati, kemudian apa?
Ketidakpastian akan sesuatu setelah ini membuat kita menjadi takut dan menutup diri. Jauh dari kata memiliki. Ambisi dan keinginan untuk berlomba sebelum mati musnah seraya hilangnya arti dari eksistensi. Lalu apa?
Jika memang hidup itu kosong, lalu apa?
Pertanyaannya selalu sesuatu yang terjadi setelahnya. Permasalahannya adalah kita tak memiliki kemampuan untuk memastikan. Dan semua berujung pada ketidakpastian.
AAARRRGHHH!!!! (yang ini ga internally screaming, beneran teriak)
Gw capek. Gw gatau harus menggunakan kata apa lagi buat menggambarkan situasi gw sekarang. Been 2 weeks of grand mood swing. Bener-bener kerjaannya cuma nongkrong, ketawa, pulang, nangis, tidur, kuliah, nongkrong, ketawa, pulang, nangis, dan seterusnya sampai gw muak. Gw ga ngerti caranya. Kenapa selama ini gw bisa hidup biasa saja? GImana caranya? 24 jam terasa terlalu lama bagi gw. Ga bisa apa gw tidur, trus pas bangun udah selesai semua masalah gw.
Hampir semua permasalahan gw, variabel paling susahnya adalah waktu. Entah masalah timing, atau emang durasi. Waktu selalu tai. Tai buat gw at least.
Jadi, kemarin adalah hari ulang tahun gw. Hari yang seharusnya menjadi hari yg menyenangkan buat gw. Setidaknya gw harus bisa merayakan diri gw yang bisa mencapai umur 22 tahun dengan berbagai prestasi yang sebenernya juga ga lebih hebat dari orang lain, tapi ya itu gw berhasil capai. Somehow ingin bisa mengapresiasi diri sendiri ketika lautan kehidupan dipenuhi orang-orang yang mencari pembuktian bahwa "Gw bahagia" dari orang lain. Banyak-banyakan like misalnya. Dan ditengah usaha gw untuk mengapresiasi diri sendiri dan membuat perayaan kecil buat diri gw sendiri, gw malah duduk, diem, dan nangis dalam hati.
Do I really feel happy?
Bulan ini harusnya menjadi bulan paling istimewa. Setidaknya semenjak 2 tahun lalu, Februari itu harusnya bulan gw. Segudang perayaan penuh cinta dan kasih sayang sepanjang bulan dari Anniversary, ultah gw, Valentine, dan ultah dia. I used to cheerish the month so much. I loved this month. Dan yang membuat gw sedih bukan lah kesendirian yang gw alami. Hell, gw bukan jomblo ngenes yang ngemis receh kepedulian. Yang membuat gw sedih adalah, gw tau gw bisa mencegah ini terjadi. Sayangnya gw bego, payah, dan naif.
Gw menyayangkan diri gw yang dulu. Kenapa sih gw harus kayak gitu? Kenapa gw harus punya ego? Kenapa gw ga memperhitungkan risiko? Kenapa gw bodoh? Kenapa gw nyerah...? Pertanyaan terakhir sih yang paling ngehantam gw. Kemarin ketika gw bangun, ada satu pertanyaan yg terputar di kepala gw. Kenapa gw ga ngomong kalau gw masih sayang dan masih akan nunggu dia lagi ketika hari itu dia minta pisah? Kenapa gw malah ngomong kalau gw bakal pergi? Kenapa gw cuma diem trus ninggalin dia? Kenapa gw nyerah...
Entah, hasilnya mungkin gaakan beda. Tapi setidaknya gw tidak menyisakan sesuatu yang tidak terucap. Dan segala kesalahpahaman akan selalu terjadi bila komunikasi bentuknya ga langsung. Via telepon, chat, atau postingan blog pun gaakan bisa memperbaiki kesalahpahaman yang terjadi antara gw dan dia. Gw jahat sama dia...
Gw orang yang ga bisa lupa. Gw hampir selalu inget kejadian-kejadian kecil yang terjadi semenjak gw bisa mulai mengingat sampai sekarang. It's a gift, sih. Gw akan selalu ingat memesankan teh panas yang airnya panas banget buat dia dan dia selalu terkejut karena gw selalu tau. But it's a curse. Karena jadinya gw selalu reflek mesen kayak gitu, padahal gw lagi sendiri. Ujung-ujungnya gw cuma bisa nungguin tehnya dingin. Gw gabisa kayak dia yang bisa langsung minum teh dengan air mendidih tanpa nunggu teh nya dingin. Gw gabisa kayak dia... langsung menghadapi masalah tanpa nunggu situasinya reda dulu. Ya... gw pengecut....
Gw lagi dalam mode self-loathing. Karena ya... gatau aja. Apakah tidak ada satupun alasan dari lo membenci diri lo sendiri? Yeah gw tau kebanyakan acara motivasi dan quotes inspiratif yg viral selalu bilang untuk bisa mencintai diri sendiri. Tapi artinya akan selalu ada alasan juga untuk membenci diri lo sendiri. The thing is, gw seorang nihilist. Dilemanya adalah, dari sudut pandang eksistensial, gw harus bisa menemukan purpose gw sendiri. Dari sudut pandang cosmic, nothing matters. Jadi di satu sisi karena gw harus bisa menemukan tujuan gw sendiri, gw ngerasa sangat membenci diri gw yang sekarang karena gw melakukan banyak banget kesalahan yang gabisa gw ubah dan itu akan terus melekat di diri gw sampai gw tua nanti dan mungkin akan mempengaruhi gw dalam mencapai tujuan gw. Sedangkan kalau gw cuma ngerasa nothing matters and moved on as an cosmic nihilist, gw akan sangat ga mengerti mengapa gw harus ngerasa kayak gini. Semua bentuk perasaan yang gw rasakan dalam tubuh gw hanyalah serangkaian reaksi kimia hormon-hormon dalam tubuh gw yang akhirnya mempengaruhi kinerja organ-organ dalam tubuh gw yang memberikan efek seperti rasa sakit hati. I shouldn't have lingered in the void of cosmic nihilist from the start.
Okay, gw coba menjelaskan secara sederhana. Gw membenci diri gw. Karena banyak banget kesalahan yang gw lakukan dan sebenernya gw bisa mencegah itu kalau gw sedikit lebih mendengarkan logika dibandingkan perasaan sesaat. Ga cuma soal hubungan, tapi soal kehidupan. Jujur gw kecewa, sama diri gw sendiri. Man, lo udah punya segalanya yang lo butuhkan untuk bisa melawan dunia dan menciptakan dunia yang lebih baik. Tapi satu persatu lo lucuti dari diri lo sendiri cuma karena lo bego. Dan sekarang, udah gaada yang bisa gw lakukan untuk memperbaikinya. Gw cuma bisa "Move On".
Kemudian kayak judulnya, karena Lalu dan Kemudian. Pertanyaan paling menakutkan adalah abis ini bakal kayak gimana? Lalu apa? Apa yang terjadi kemudian? Semua kata keterangan waktu masa depan itu sangat menakutkan karena gaada kepastian di dunia selain kecepatan cahaya. Percuma lo nanya abis ini gw bakal kayak gimana. Gw punya rencana, tapi ga semuanya 100% pasti berhasil. Dari sekian mekanisme mesin Goldberg dalam hidup gw, cuma sekian mekanisme yang bisa gw pastikan 99% berhasil. The chain reaction of life ga pernah berada pada pengaturan paling sempurna.
Gw gatau abis ini kayak gimana. Bisa jadi gw masih mempertanyakan eksistensi umat manusia. Bisa jadi gw menemukan jawaban gw sebagai seorang nihilist. Bisa jadi gw malah nyerah dan jadi budak korporat. Entah, banyak kejutan yang disiapkan entropi dalam hidup gw. Dan Tuhan selalu punya caranya. Jadi gw cuma bisa jalanin aja. Ya, gw sedih kemarin, dan mungkin sepanjang bulan Februari. Ya gw gabisa menjamin gw bakal bisa merasa baik-baik aja di masa depan. Gw juga gabisa menjamin bahwa gw gaakan nyerah suatu saat nanti. Yang jelas, sekarang gw cuma pengen trus melangkahkan kaki, entah kemana pun itu. Gw gamau berenti disini. Gw gabisa berenti disini. Gw gaboleh berenti disini.
Dan semoga kalian yang lagi ngerasa kayak gw, bisa menemukan jawaban kalian sendiri.
Salam,
Ksatria Malam
Kehilangan kita akan suatu tujuan tak mengubah satupun hal di muka dunia. Tak membuat kita menjadi menginginkan neraka. Walau hidup pun bukannya tak lebih menyiksa. Tapi apa kemudian?
Jika tak ada hidup setelah mati, kemudian apa?
Ketidakpastian akan sesuatu setelah ini membuat kita menjadi takut dan menutup diri. Jauh dari kata memiliki. Ambisi dan keinginan untuk berlomba sebelum mati musnah seraya hilangnya arti dari eksistensi. Lalu apa?
Jika memang hidup itu kosong, lalu apa?
Pertanyaannya selalu sesuatu yang terjadi setelahnya. Permasalahannya adalah kita tak memiliki kemampuan untuk memastikan. Dan semua berujung pada ketidakpastian.
--------
Gw... Lelah. First of all, I congratulate myself untuk masih bisa hidup sampai umur 22 tahun (YEAY!!!)(INTERNALLY SCREAMING). Setidaknya saya berhasil menghindari sekian usaha pembunuhan yang dilakukan oleh diri saya sendiri. Second of all, selamat hari Valentine temen-temen! Tunjukkan rasa cinta kalian pada orang-orang yang kasihi setiap hari, jangan cuma hari ini. And last but not least, semangat buat manusia yang sedang atau akan menghadapi perjuangan besarnya. Buat temen-temen yang lagi skripsian, temen-temen yang baru masuk kuliah, temen-temen yang lagi usaha ngelamar kerja, temen-temen yang mau UN, temen-temen yang persiapan SBMPTN,
temen-temen yang sudah mau menikah, temen-temen yang lagi nunggu momongan, dan sejuta temen-temen yang lain yang punya hal besar yang akan dilalui, bertahan dan terus berusaha! Usaha tidak pernah menghianati pelakunya. Kecuali gw mungkin.AAARRRGHHH!!!! (yang ini ga internally screaming, beneran teriak)
Gw capek. Gw gatau harus menggunakan kata apa lagi buat menggambarkan situasi gw sekarang. Been 2 weeks of grand mood swing. Bener-bener kerjaannya cuma nongkrong, ketawa, pulang, nangis, tidur, kuliah, nongkrong, ketawa, pulang, nangis, dan seterusnya sampai gw muak. Gw ga ngerti caranya. Kenapa selama ini gw bisa hidup biasa saja? GImana caranya? 24 jam terasa terlalu lama bagi gw. Ga bisa apa gw tidur, trus pas bangun udah selesai semua masalah gw.
Hampir semua permasalahan gw, variabel paling susahnya adalah waktu. Entah masalah timing, atau emang durasi. Waktu selalu tai. Tai buat gw at least.
Jadi, kemarin adalah hari ulang tahun gw. Hari yang seharusnya menjadi hari yg menyenangkan buat gw. Setidaknya gw harus bisa merayakan diri gw yang bisa mencapai umur 22 tahun dengan berbagai prestasi yang sebenernya juga ga lebih hebat dari orang lain, tapi ya itu gw berhasil capai. Somehow ingin bisa mengapresiasi diri sendiri ketika lautan kehidupan dipenuhi orang-orang yang mencari pembuktian bahwa "Gw bahagia" dari orang lain. Banyak-banyakan like misalnya. Dan ditengah usaha gw untuk mengapresiasi diri sendiri dan membuat perayaan kecil buat diri gw sendiri, gw malah duduk, diem, dan nangis dalam hati.
Do I really feel happy?
Bulan ini harusnya menjadi bulan paling istimewa. Setidaknya semenjak 2 tahun lalu, Februari itu harusnya bulan gw. Segudang perayaan penuh cinta dan kasih sayang sepanjang bulan dari Anniversary, ultah gw, Valentine, dan ultah dia. I used to cheerish the month so much. I loved this month. Dan yang membuat gw sedih bukan lah kesendirian yang gw alami. Hell, gw bukan jomblo ngenes yang ngemis receh kepedulian. Yang membuat gw sedih adalah, gw tau gw bisa mencegah ini terjadi. Sayangnya gw bego, payah, dan naif.
Gw menyayangkan diri gw yang dulu. Kenapa sih gw harus kayak gitu? Kenapa gw harus punya ego? Kenapa gw ga memperhitungkan risiko? Kenapa gw bodoh? Kenapa gw nyerah...? Pertanyaan terakhir sih yang paling ngehantam gw. Kemarin ketika gw bangun, ada satu pertanyaan yg terputar di kepala gw. Kenapa gw ga ngomong kalau gw masih sayang dan masih akan nunggu dia lagi ketika hari itu dia minta pisah? Kenapa gw malah ngomong kalau gw bakal pergi? Kenapa gw cuma diem trus ninggalin dia? Kenapa gw nyerah...
Entah, hasilnya mungkin gaakan beda. Tapi setidaknya gw tidak menyisakan sesuatu yang tidak terucap. Dan segala kesalahpahaman akan selalu terjadi bila komunikasi bentuknya ga langsung. Via telepon, chat, atau postingan blog pun gaakan bisa memperbaiki kesalahpahaman yang terjadi antara gw dan dia. Gw jahat sama dia...
Gw orang yang ga bisa lupa. Gw hampir selalu inget kejadian-kejadian kecil yang terjadi semenjak gw bisa mulai mengingat sampai sekarang. It's a gift, sih. Gw akan selalu ingat memesankan teh panas yang airnya panas banget buat dia dan dia selalu terkejut karena gw selalu tau. But it's a curse. Karena jadinya gw selalu reflek mesen kayak gitu, padahal gw lagi sendiri. Ujung-ujungnya gw cuma bisa nungguin tehnya dingin. Gw gabisa kayak dia yang bisa langsung minum teh dengan air mendidih tanpa nunggu teh nya dingin. Gw gabisa kayak dia... langsung menghadapi masalah tanpa nunggu situasinya reda dulu. Ya... gw pengecut....
Gw lagi dalam mode self-loathing. Karena ya... gatau aja. Apakah tidak ada satupun alasan dari lo membenci diri lo sendiri? Yeah gw tau kebanyakan acara motivasi dan quotes inspiratif yg viral selalu bilang untuk bisa mencintai diri sendiri. Tapi artinya akan selalu ada alasan juga untuk membenci diri lo sendiri. The thing is, gw seorang nihilist. Dilemanya adalah, dari sudut pandang eksistensial, gw harus bisa menemukan purpose gw sendiri. Dari sudut pandang cosmic, nothing matters. Jadi di satu sisi karena gw harus bisa menemukan tujuan gw sendiri, gw ngerasa sangat membenci diri gw yang sekarang karena gw melakukan banyak banget kesalahan yang gabisa gw ubah dan itu akan terus melekat di diri gw sampai gw tua nanti dan mungkin akan mempengaruhi gw dalam mencapai tujuan gw. Sedangkan kalau gw cuma ngerasa nothing matters and moved on as an cosmic nihilist, gw akan sangat ga mengerti mengapa gw harus ngerasa kayak gini. Semua bentuk perasaan yang gw rasakan dalam tubuh gw hanyalah serangkaian reaksi kimia hormon-hormon dalam tubuh gw yang akhirnya mempengaruhi kinerja organ-organ dalam tubuh gw yang memberikan efek seperti rasa sakit hati. I shouldn't have lingered in the void of cosmic nihilist from the start.
Okay, gw coba menjelaskan secara sederhana. Gw membenci diri gw. Karena banyak banget kesalahan yang gw lakukan dan sebenernya gw bisa mencegah itu kalau gw sedikit lebih mendengarkan logika dibandingkan perasaan sesaat. Ga cuma soal hubungan, tapi soal kehidupan. Jujur gw kecewa, sama diri gw sendiri. Man, lo udah punya segalanya yang lo butuhkan untuk bisa melawan dunia dan menciptakan dunia yang lebih baik. Tapi satu persatu lo lucuti dari diri lo sendiri cuma karena lo bego. Dan sekarang, udah gaada yang bisa gw lakukan untuk memperbaikinya. Gw cuma bisa "Move On".
Kemudian kayak judulnya, karena Lalu dan Kemudian. Pertanyaan paling menakutkan adalah abis ini bakal kayak gimana? Lalu apa? Apa yang terjadi kemudian? Semua kata keterangan waktu masa depan itu sangat menakutkan karena gaada kepastian di dunia selain kecepatan cahaya. Percuma lo nanya abis ini gw bakal kayak gimana. Gw punya rencana, tapi ga semuanya 100% pasti berhasil. Dari sekian mekanisme mesin Goldberg dalam hidup gw, cuma sekian mekanisme yang bisa gw pastikan 99% berhasil. The chain reaction of life ga pernah berada pada pengaturan paling sempurna.
Gw gatau abis ini kayak gimana. Bisa jadi gw masih mempertanyakan eksistensi umat manusia. Bisa jadi gw menemukan jawaban gw sebagai seorang nihilist. Bisa jadi gw malah nyerah dan jadi budak korporat. Entah, banyak kejutan yang disiapkan entropi dalam hidup gw. Dan Tuhan selalu punya caranya. Jadi gw cuma bisa jalanin aja. Ya, gw sedih kemarin, dan mungkin sepanjang bulan Februari. Ya gw gabisa menjamin gw bakal bisa merasa baik-baik aja di masa depan. Gw juga gabisa menjamin bahwa gw gaakan nyerah suatu saat nanti. Yang jelas, sekarang gw cuma pengen trus melangkahkan kaki, entah kemana pun itu. Gw gamau berenti disini. Gw gabisa berenti disini. Gw gaboleh berenti disini.
Dan semoga kalian yang lagi ngerasa kayak gw, bisa menemukan jawaban kalian sendiri.
Salam,
Ksatria Malam
Comments
Post a Comment