Skip to main content

Ditanya Malam

Di tengah malam yang gerimis kemarin, aku ditanya oleh Malam.

Dimana kamu?

Tapi dia tahu aku di sini, di tempat terakhir ku memikirkan tentang diri ku sendiri. Menunggu sesuatu yang tak pasti. Tapi aku rela menunggu seribu tahun lagi.

Dimana kamu?

Aku masih bingung dengan tujuannya. Karena dia tahu semuanya. Senang dan duka yang telah ada. Tapi aku tetap menjaganya.

Dimana kamu?

Kemudian ku menatap refleksi diri ku pada sebuah genangan. Dan laki-laki buruk rupa itu telah berubah jadi tampan. Dia telah dapat menerima dirinya yang berkekurangan. Dan dia menyesal tak menyadarinya ketika masih dalam pelukan seorang perempuan.

Dimana kamu?

Dimana aku? Aku yang dulu tak mengerti apa arti tabu. Aku yang dulu tak bisa menerima masa lalu. Aku yang dulu membenci diri ku. Aku yang dulu... Tak lagi disini.

Malam tak lagi bertanya karena aku sudah menjawabnya. Dia tersenyum indah seraya berkata bahwa aku telah baru. Kemudian dia menangis sedih seraya berkata bahwa semuanya terlambat. Kemudian dia terdiam.

Ganti ku yang menangis sedih. Gelas kopi ku tak lagi penuh. Rasa pahit di kopi ku tak lagi nikmat. Uap kopi ku tak lagi hangat. Dan objek penuh kenangan itu terus menghantu dengan segala masa lalu dan penyesalan.

Tapi dia juga, sedih.

Dan aku sebabnya.

Setiap lembaran baru dalam kehidupan harusnya putih bersih. Tapi noda kopi itu meresap hingga ke belakang buku. Tak mungkin ku hapus, tak mungkin ku ganti. Dengan apapun ku menulis di buku kehidupan, aroma harum kopi itu akan terus tercium. Sama seperti semua kenangan yang tercipta bersamanya. Abadi dan kekal adanya.

Jika saja aku masih dapat merangkul uapnya, aku hanya ingin meminta maaf, karena ku tidak berusaha. Jika saja aku masih dapat melihat pekatnya, aku hanya ingin meminta maaf, karena aku tidak sempurna. Jika saja aku masih dapat merasakan panasnya, aku hanya ingin meminta maaf, karena aku melukainya. Jika saja aku.... enyah....

Aku mencintai diri ku. Aku seharusnya bisa bahagia. Aku bisa terbang ke awan dan bertemu dengan Tuhan dan berkata, "Aku tahu makna ku."

Dan Tuhan akan membalas, "Dia juga tahu makna mu."

Kemudian ku kembali tertidur dalam kumpulan bulu angsa beraroma buah. Lidah ku manis karena suapan kenangan masa lalu. Sayangnya mata ku tetap sembab karenanya.

Andai Nanti Kita Wajar. Aku akan selalu menunggu saat itu.

Maaf kan aku... Wahai Malam....

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta rañjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...