Skip to main content

Seonggok Daging yang Menyerupai Manusia

Jadi, anggap lo bisa menggambil sebuah sel dari tubuh lo. Dan lo menumbuhkan sel tersebut hingga menjadi suatu jaringan. Dan jaringan tersebut dapat dipakai sebagai pengganti kulit lo kalau lo menjadi korban luka bakar. Atau mengganti pembuluh darah lo yang tersumbat kolesterol. Atau memperbaiki paru-paru lo yang kena kanker. Keren kan?

Stem cell technology atau teknologi sel punca emang lagi ngetren sekarang. Digadang-gadangkan sebagai pengobatan masa depan. Dan yang paling penting, memperbesar angka harapan hidup manusia.

Kita lagi hidup di masa dimana dunia lagi penuh-penuhnya gara-gara generasi baby boomer yang doyan bikin anak pasca Perang Dunia 2. Tapi rate of death kita mulai menyusul rate of birth kita. Kalau kita bakteri dalam reaktor, udah mulai menjelang masa-masa Stationary Phase lah. Sampai suatu saat kita akan menuju masa dimana kematian akan datang jauh lebih cepat daripada kelahiran. Populasi kita akan menurun drastis hingga ada saatnya, kita punah. Penyebabnya bisa banyak. Jumlah populasi yang banyak membuat kompetisi di alam menjadi lebih berat dalam mencari makanan dalam suatu ekosistem. Ini berlaku di semua jenis hewan, termasuk manusia. Jumlah kita yang terlalu banyak membuat kita kesulitan dalam mengejar ilmu pengetahuan, mencari pekerjaan, dan menghidupi keluarga. Untuk menghindari kompetisi, kita berusaha mengurangi faktor yang mempersulit hidup seperti menikah dan punya anak. Tapi justru ini menciptakan penurunan dalam jumlah populasi secara luas. Ujung-ujungnya berkurang lagi dan hampir punah lagi. Dan once again, rate of birth will lose to rate of death. Trus kita jadi nyari solusi lain, yaitu ngurangin rate of death nya. And living for forever became a new dream for humanity.

Kita berusaha menemukan sejuta cara untuk memperpanjang umur kita. Dan menumbuhkan sel di luar tubuh kita sebagai cadangan apabila tubuh kita mengalami kegagalan terdengar seperti sebuah solusi yang masuk akal. Para ilmuwan sedang berusaha menumbuhkan organ. Kemudian membuat sel punca universal yang mampu digunakan semua orang. Menunggu waktu hingga manusia tak lagi seperti sekarang.

Jantung lo rusak, ganti. Tangan lo hilang, ganti. Mata lo rabun, ganti. Nanti bakal bermunculan juga bentuk-bentuk upgrade dari badan manusia. Lo gendut, bisa upgrade jadi six-pack. Lo pendek, bisa upgrade jadi tinggi. Dan berbagai maca bentuk enhancement lainnya.

Sampai kita memutuskan. Bagaimana kalau kita membuat tubuh baru saja setiap tubuh lama kita rusak. Kita mulai menciptakan klon dari diri kita sendiri, berusaha memindahkan "kesadaran" kita ke klon tersebut, mematikan tubuh lama kita, dan menjalani hidup dalam tubuh baru yang 100% fungsional dengan segala memori yang kita punya. Terdengar sangat menjanjikan. Tak ada lagi orang yang meninggal. Memiliki keturunan tak lagi menjadi hal yang relevan. Untuk apa menciptakan generasi penerus yang baru kalau kita dapat hidup hampir selamanya? Segala hal-hal yang merupakan tujuan dari memiliki keturunan tak lagi menjadi masalah. "Saya punya bisnis yang harus terus dikembangkan, kalau perlu selamanya." "Penelitian ini harus terus berlanjut hingga mencapai batasannya." "Negara ini perlu penerus dari Raja agar tetap stabil secara politik." Semuanya selesai, tanpa harus punya anak. Karena kita hidup selamanya.

Tapi apakah kita akan tetap menjadi kita? Apa yang membuat diri lo itu lo? Kesadaran? Jiwa? Apa?

Kita tahu bahwa setiap sel dalam tubuh kita setidaknya telah tergantikan minimal sekali dalam hidup kita. Artinya, diri lo yang sekarang udah galagi punya sel yang sama dengan diri lo yang dulu lahir dari rahim ibu lo. Jadi, tubuh lo udah bukan tubuh lo. Trus klo tubuh lo berubah, apa yang membuat diri lo itu lo? Kesadaran itu seperti serangkaian program dalam otak kita yang mengatur proses berpikir dalam menyelesaikan masalah dalam hidup kita. Lo melakukannya tanpa sadar dan tanpa diperintah. Begitu juga dengan A.I. atau kepintaran buatan. Gimana kalau "kesadaran" lo berhasil dipetakan secara matematis dan disimulasikan dalam suatu komputer. Terus ketika komputer itu "sadar", siapakah yang diri lo? Dia atau lo? Tapi dia sadar, dan proses berpikirnya sangat sama dengan lo. Gaada satupun yang beda. Ketika lo berpikir keras apakah lo harus memutuskan hubungan dengan seseorang karena berbagai pertimbangan, komputer itu juga menjalani alur berpikir yang sama. Ketika lo impulsif beli es krim ketika lagi belajar, komputer itu juga mengirimkan sinyal impulsif yang sama. Jadi siapa yang berjudul "Diri Lo"?

Andaikan komputer tersebut dipindahkan ke sebuah tubuh yang tercipta dari sel punca dari tubuh lo. Dan dia menjadi suatu mahluk yang memiliki kesadaran selayaknya manusia. Apakah lo telah menciptakan dua orang "lo" dalam satu dunia? Atau dia menjadi orang lain? Ketika dia membunuh lo, apakah itu berarti dia membunuh dirinya sendiri?

Seonggok daging yang menyerupai manusia itu akan mulai menguasai dunia.

Dan kita hanya dapat menyaksikannya.

Lucunya, populasi "Manusia Palsu" ini sudah mulai banyak. Manusia-manusia di luar sana yang tak tahu tujuan hidupnya dan hanya menjalani "program" yang tertanam di kepalanya. Mereka tak lagi mempertanyakan atau memanusiakan dirinya. Mereka berjalan dan bekerja seperti robot. Sementara para robot berusaha menjadi manusia dengan meningkatkan ke-manusia-an nya, kita berusaha menjadi robot dengan meningkatkan ke-efisiensi-an kita.

Jadi, kenapa harus takut ketika kita dihadapkan pada premis bahwa kita bisa saja menciptakan diri kita dari komputer dan onggokan daging?

Karena nyatanya, kita bukanlah sesuatu yang begitu istimewa. Kita tak se-spesial yang kita kira. Kita pun menciptakan pembelaan dengan berkata "Manusia memiliki jiwa."

Apakah hewan lain tak punya jiwa? Apa itu jiwa? Sesuatu yang bersifat astral? Apakah jiwa benar-benar ada?

Kita selalu mencari bentuk pembelaan pada sesuatu yang sulit dibuktikan keberadaannya. Seakan-akan kita tak memiliki kesanggupan untuk menyelesaikan masalah kita sendiri. Ketika ditanya kenapa berbuat baik, ada saja yang menjawab "Karena aku ingin masuk surga." Tak bisakah kita menjawab "Karena memang sudah seharusnya." Ketika ditanya kenapa berbuat jahat, ada saja yang menjawab "Aku terkena godaan setan." Tak mampukah kita mengakui bahwa sesungguhnya memang kita lah setannya. Sangat mudah menyalahkan suatu hal lain yang kita sulit buktikan keberadaannya. Karena orang lain pun tak dapat membuktikannya. Tanpa sadar, kita menciptakan tembok besar penuh perlindungan bagi ego kita.

"Aku membunuh karena aku melindungi nama Tuhan ku."

Padahal memang kita saja yang tak berperikemanusiaan. Kemudian muncul lagi pertanyaan, apakah manusia? Kalau kita hanya seonggok daging yang punya kesadaran. Apa yang membuat kita menjadi manusia?

Kembali ke titik nol.

Mempertanyakan eksistensi tak pernah salah, begitu pun tak mempertanyakannya. Tapi apakah lo ga pernah resah tentang siapa kita dan apa tujuan kita hidup? Yang pasti ga sesimple makan-makanan hits kekinian jaman now. Tapi apakah serumit itu sampai kita sendiri tak mampu mengidentifikasinya? Apakah tujuan kita? Apa yang harusnya kita lakukan? Bagaimana cara melakukannya?

Pertanyakan lah, jika tak mampu terjawab setidaknya lo sadar kalau lo harusya punya tujuan. Jika ternyata terjawab, sebarkanlah. Karena manusia-manusia resah banyak tersebar di luar sana.

Jangan hanya mejadi seonggok daging yang menyerupai manusia. Manusiakan lah diri lo sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta rañjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...