Skip to main content

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa...

Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya.

Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini.


Bismillahirrahmanirrahim

In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful

Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingin sepanjang-panjangnya mengulang basmallah agar terasa di setiap langkah-langkah ku menjalani hari. Membawa terus keyakinan bahwa aku melakukan ini semua memang dalam nama-Nya. Memberi ketenangan bahwa apapun ujungnya nanti, Dia lah tempat ku kembali.


wadl-dluhâ

By the morning sunlight,

Terkadang aku terbangun ketika sang Surya belum menampakkan dirinya, tapi sering kali dia telah terang menanti ku memulai hari. Di hari-hari ku dikejar dunia, setiap menit terasa begitu berharga dan begitu ku sesali. Tapi ada kalanya aku termenung menanti pagi. Seperti mencari pertanda bahwa kesempatan ku datang lagi.


wal-laili idzâ sajâ

and the night when it falls still!

Setiap malam ku terasa sunyi walau ramai. Di kelilingi banyak orang namun kosong selalu terasa di hati. Mengukur jalan puluhan kilometer hanya untuk menemukan kamar kosong yang ku huni sendiri. Raib dari hawa kehidupan manusia, tak ada isi. Bahkan hangat tubuh ku tak terasa di kasur yang ku tiduri. Mengarungi lautan pemikiran, hanya aku dan diri ku sendiri.


mâ wadda‘aka rabbuka wa mâ qalâ

Your Lord ˹O Prophet˺ has not abandoned you, nor has He become hateful ˹of you˺.

Di saat aku menjalani tiga puluh tahun hidup ku menjauh dan memaki, Dia tak memalingkan pandangannya sedikit pun dari ku. Setiap sudut ruang dan waktu selalu ke temukan panggilan-Nya menarik ku. Seperti tak terelakkan, wahyu-Nya hadir dalam banyak bentuk yang syahdu. Embun pagi, kicauan burung, hembusan angin, cahaya pagi, rintik hujan, deru ombak, desir pasir, hingga pertemuan di penghujung Sabtu. Dia selalu ada dan memanggil ku.


wa lal-âkhiratu khairul laka minal-ûlâ

And the next life is certainly far better for you than this one.

Seperti pengingat bahwa apa yang ku cari selama ini ada di sini. Tak perlu ku kejar maupun ku lari. Hanya cukup ku resapi dan maknai. Bahwa aku penuh dengan diri ku sendiri. Aku cukup, terlepas dari apa yang orang lain celotehi. Aku yang aku cari sebenarnya ada di lubuk hati. Aku utuh, tak kurang seutas nadi.


wa lasaufa yu‘thîka rabbuka fa tardlâ

And ˹surely˺ your Lord will give so much to you that you will be pleased.

Dan aku memang kurang bersyukur atas apa yang ku nikmati. Nafas ku masih berhembus setiap pagi. Mata ku terpejam dan tetap terbuka lagi. Dunia masih berhias warna-warni. Makanan ku masih asin, manis, pahit, asam, dan umami. Suara masih bergema di telinga kanan dan kiri. Tangan ku masih bisa menggenggam erat tak terpungkiri. Kaki ku masih bisa melangkah membawa ku ke tempat yang belum pernah ku kunjungi. Doa-doa ku terjawab walau sering ku sudahi.


a lam yajidka yatîman fa âwâ

Did He not find you as an orphan then sheltered you?

Ketika motor ku mogok kehabisan bensin, tak jarang orang berhenti dan membantu ku sampai tujuan. Ketika aku kelaparan, tak jarang makanan hadir ke pangkuan. Ketika aku kehilangan arah, tak jarang ratusan orang hadir memberi kesempatan. Ketika aku butuh ketenangan, Tuhan berikan aku orang-orang yang begitu sabar menghadapi amarah ku dan meredakan. Ketika hati dan kepala ku penuh pertanyaan, Dia tunjukkan bahwa aku sudah diberi jawaban.


wa wajadaka dlâllan fa hadâ

Did He not find you unguided then guided you?

Dia jawab setiap resah ku dengan cara yang tak masuk nalar. Petunjuk-petunjuk yang seperti penuh campur tangan yang bukan manusia. Perempuan yang hadir menjadi cerminan hati yang selalu menatap nanar. Sahabat yang sedekat nadi walau terpisah jarak sejauh bumi dan sang surya. Orang tua yang tidak sedarah namun mengayomi dan berhati besar. Anak-anak kecil yang tertawa riang dan mengingatkan ku tentang tanggung jawab dan konsekuensinya.


wa wajadaka ‘â'ilan fa aghnâ

And did He not find you needy then satisfied your needs?

Apa yang ku minta dalam doa ku hanya aku ingin kembali bermimpi. Dan Dia berikan itu melalui teman-teman yang jujur tak takut menyakiti hati. Dia tunjukkan bahwa mimpi ku beriring tanggung jawab dan konsekuensi. Dia arahkan ku menjadi laki-laki yang mampu mengisi sepatu sosok ayahnya yang lama mati. Dia berikan ku kesempatan untuk kembali membuka hati.


fa ammal-yatîma fa lâ taq-har

So do not oppress the orphan

Teruntuk mu yang sedang sendirian ditemani malam. Kamu tidak sendirian. Setiap usaha mu menjadi ikhtiar jika kamu meniatkannya. Setiap tangis doa pasrah mu menjadi tawakal jika kamu mengikhlaskannya. Semua luka masa lalu mu sembuh perlahan jika kamu menerimanya. Berbagi beban bukan tanda lemah tetapi tanda bahwa kamu bijaksana.


wa ammas-sâ'ila fa lâ tan-har

nor repulse the beggar.

Dan kembali aku berlutut meminta kepada-Nya. Tuhan, cukupkan aku menjadi seorang insan yang berguna. Pantaskan aku menjadi seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Penuhi aku agar mereka yang ku nafkahi merasa cukup. Limpahi aku cinta dan kasih sayang agar aku merasa bersyukur.


wa ammâ bini‘mati rabbika fa haddits

And proclaim the blessings of your Lord.

Sesungguhnya setiap doa ku panjatkan untuk kebaikan ku dan juga kamu. Sejujurnya aku memang lebih peduli dengan mu daripada aku. Namun aku sadar sekarang bahwa gelas kosong tidak bisa mengisi. Aku memahami bahwa taman yang gersang tidak bisa menghijaukan. bahwa aku tidak akan bisa membuat mu utuh jika aku tidak utuh dengan diri ku sendiri. Ku terima setiap kurang ku dan lebih ku agar aku bisa memelukmu lebih erat dekat jiwa ku.


Seperti surat cinta yang Tuhan sampaikan melalui Nabi-Nya. Aku menulis surat cinta ini untuk diri ku di masa depan, agar aku selalu ingat apa yang ku punya. Untuk kamu yang dipersimpangan jalan, agar kamu memilih yang tepat. 

Aku harap ketika kamu membaca ini semua, kamu tahu kalau aku sudah menemukan diriku lagi. Apa yang ku suka hari ini, belum tentu masih ku lakukan setahun dari sekarang. Dan apa yang terjadi di masa lalu tidak mengurangi nilai ku sedikit pun. Begitu juga kamu...

Ku luruskan lagi niat ku mengarungi mimpi hari. Tidak lagi ku halal kan segala cara untuk hidup ini. Ku pilih yang memang ku mau dan sesuai nurani. Untuk kamu yang aku kasihi, semoga nanti dapat ku wujudkan segala mimpi. Tolong bantu aku dengan sekadar menemani dan bantu aku amini.


Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta rañjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...