Skip to main content

Tenggelam dalam Senyap

Lelah tak lagi sanggup menggambarkan apa yang gw rasakan.

Terkadang gw mempertanyakan apakah yang gw lakukan selama ini benar? Karena faktanya begitu banyak kekecewaan yang gw rasakan dan gw sebabkan. Gw munafik kalau bilang bahwa gw ga pernah salah, karena toh memang gw selalu berada dalam posisi yang salah. Terlalu memaksakan kehendak terkadang. Terlalu ambisius terkadang. Terlalu pasif terkadang. Sampai ketika semua sudah terlambat, gw akan berada dalam keadaan di mana gw hanya bisa bilang "Ah, shit..."

Gw sedang berada pada suatu persimpangan yang memaksa gw memilih untuk "Istirahat" atau "Maju". Manusia normal pada umumnya akan memilih untuk terus maju, terlepas dari situasi maupun kondisi mereka. Bagi sebagian besar orang, maju berarti progres, progres berarti berkembang, berkembang berarti baik, dan baik adalah tujuan semua orang. Terus pertanyaannya, ketika maju akan membuat lo sukses, tapi dengan konsekuensi lo kehilangan semuanya selain kesuksesan lo, apakah lo akan terus memilih  untuk terus maju? Dan mungkin itu yang sedang terjadi dengan gw. Jujur gw lagi... sakit hati. Gw ga ngerti kenapa. Dan gw mulai merasa bahwa terus maju malah membuat diri gw semakin kehilangan. Ya... gw tau apa yang gw kejar sekarang itu adalah yang selama ini gw inginkan. Tapi diinjak setiap hari juga bukan hal yang gw mau. Walaupun itu membawa gw selangkah demi selangkah menuju kesuksesan gw.

Sebenernya sederhana aja. Apa yang gw tuliskan kali ini cuma beban emosional gw yang gabisa lagi gw salurkan seseorang, karena gw ga punya siapa-siapa buat berbagi.

Gw benci diri gw. Sebesar apapun gw berusaha untuk mencintai diri gw, gw tetep benci diri gw. Gw kadang menangis di tengah malam cuma karena gw kecewa sama diri gw sendiri. "Kenapa gw harus kayak gini?", gw bertanya pada diri gw yang gw lihat di dalam cermin. Dan gaada jawaban. Gw cuma merasakah lubang yang semakin dalam di hati gw setiap gw menanyakan itu.

Gw kira gw udah biasa aja. Well, a normal break-up will make you sad for around 2 months people said. Dan... sejauh gw mengingat, gw putus dengan cara paling normal yang bisa terjadi diantara dua orang yang lagi pacaran. Ketemuan, ngomong, putus. Nothing special, nothing important. Detail hari itu terasa kabur karena yang gw inget cuma gw ngerasain gempa yang awalnya gw pikir cuma diri gw yang shock, gataunya gempa beneran. The next thing I know, she is with someone else, the exact someone I told her to keep her distance with.

I hate myself for not being good enough. If she asks me how I'm doing, I will obviously say I'm not doing fine. I'm not doing fine in spite of my achievement of being the 2nd highest grade point last semester. I'm not doing fine in spite of my business started to bloom. I'm not doing fine despite I finally stopped smoking and drinking. I'm not doing fine in spite of my praying to god. I'm not doing fine in spite of everything, because I'm not good enough in your eyes. I'm still the same old Arya who think about himself and himself only. I'm not good enough for your parents. I'm still the same old Arya who date you for your money and your fame. I'm not good enough to be your partner in life. Because I'm not what I'm not.

sigh....

Gw masih gabisa biasa aja.

Rasa sakit di dalam dada gw masih mebumbung begitu tinggi setiap gw mengingat dia. Dan setiap kegagalan yang terjadi dalam hidup gw akan gw kaitkan dengan dia.

Aku ingin bisa menjadi egois.

Gw ga pengen dengerin kata orang lagi. Gw gamau hidup dalam bayang-bayang ekspektasi. Gw gamau terus-terusan depresi. Gw capek terus jadi orang yang ngingetin lo buat ga nyilet dan ngelukain diri lo sendiri tapi gw sendiri malah terus mencoba bunuh diri. Gw capek jadi orang yang bisa nyembuhin trauma lo tapi gw sendiri malah nambah trauma buat diri gw sendiri. Gw capek jadi orang yang terus mendengar jeritan kesedihan lo tapi gw sendiri malah tenggelam dalam senyap karena gw gapunya siapa-siapa buat cerita.

Gw capek jadi lilin yang ngebakar diri nya biar orang lain hangat.

Gw cuma pengen ada seseorang disana yang ada buat gw dan mau nemenin gw ngelewatin perjalanan hidup gw. Gw pengen ketika gw sukses nanti, ada dia yang selama ini nemenin gw dalam setiap proses menuju sukses gw. Jadi gw tau harus menghadiahkan siapa. Gw tau siapa yang pantas. Gw ingin dia ada ketika gw jatuh, dan dia ada ketika gw naik. Gw capek ditinggal.

Emotional baggage gw gede... gw tau. Ga semua cewe bisa nerima masa lalu gw dan gimana itu berdampak kepada gw secara emosional dan psikologis. Gw capek harus mengulang semua cerita gw ke siapapun itu yang datang ke dalam hidup gw cuma buat ngeliat dia pergi meninggalkan gw lagi. Gw capek harus meniti langkah dari awal untuk seseorang yang baru cuma buat ngeliat dia memilih orang lain.

Ya.... ini jeritan lelahnya gw.

Kalau kamu? Apa kabar?




Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta rañjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...