Skip to main content

Menjadi Fitrah

Idul Fitri 1439 H. Dirinya kembali mendapat ceramah panjang dari pamannya.

"Telpon bunda mu. Udah berapa lebaran kamu ga ngehubungin dia? Biar bagaimana pun dia kan bunda kamu." Kata pamannya yang sedang sibuk menyiapkan perayaan besar esok hari.

Dia menundukkan kepala sambil tetap berusaha mendengarkan alunan musik yang di telingannya. Baginya, Lebaran memang hanya momen yang biasa saja. Akan selalu diceramahi tentang hubungannya dengan bundanya. Akan selalu bertemu keluarga-keluarga yang tak begitu dia kenal. Akan selalu mendengar kisah-kisah sukses anggota keluarganya. Akan selalu dibanding-bandingkan dengan saudara-saudaranya. Akan selalu ditanya mau sekolah dimana, kerja dimana, kapan nikah, kapan punya rumah, dan segala tuntutan lainnya. Baginya, lebaran tidak lebih dari sekadar ajang penelanjangan diri di hadapan umum. Memalukan.

"Biar bagaimana pun dia kan orang tua kamu. Terserah dia mau kayak gimana, tapi kamu ga boleh durhaka, ntar susah ke depannya." Teguran itu menampar keras egonya.

"Apakah benar aku durhaka?" Tanya nya dalam hati seraya mengingat kembali apa yang telah dilaluinya.

Dari pertama kali dia bisa mengingat, dia tak pernah melihat bundanya di rumah untuk mengasuh dia. Yang dia tahu adalah kakek dan nenek nya yang senantiasa ada menjaga, mendidik, dan menyayanginya dari pagi hingga malam. Dia selalu melihat bundanya pulang memperkenalkan banyak laki-laki yang sebenarnya tidak terlalu dia pedulikan. Dia selalu mendengar dari orang lain betapa hebat bundanya bisa membesarkan anaknya sendirian tanpa laki-laki. Dia selalu mendengar cemoohan anak-anak seumurannya karena dia tak pernah bisa bercerita siapa ayahnya. Dia selalu mendengar tangisan nenek nya berdoa untuk bundanya yang keras kepala. Dia selalu menjadi pemerhati dari semua kejadian. Lucunya, dia tidak pernah benar-benar mengenal bundanya.

Dia tidak mengenal bundanya seperti yang orang-orang lihat. Baginya bundanya tidak pernah ada di rumah. Baginya bundanya tidak pernah ada untuknya. Baginya bundanya tidak pernah menjadi ibu. Bukan karena bundanya merupakan perempuan karir yang berjuang siang dan malam membesarkan anaknya sendirian. Tapi bagaimana bundanya tidak pernah ada ketika dia mengambil rapot sekolah. Bagaimana bundanya tidak pernah ada ketika dia dipanggil gurunya karena berkelahi dengan temannya. Bagaimana bundanya tidak pernah ada ketika dia diberi penghargaan peraih nilai tertinggi di sekolahnya. Bundanya tidak ada ketika dia jatuh maupun ketika dia bangun. Yang selalu ada adalah kakek dan neneknya.

"Berhentilah merokok!" Serunya kepada bundanya ketika terakhir kali mereka bertemu. Baginya, melihat seorang ibu yang sedang masa menyusui, malah merokok dan bukan menjaga gaya hidup sehat adalah bodoh.

"Suka-suka bunda, beli juga pakai duit bunda." Balas bundanya seakan dia telah melakukan segalanya.

"Kalau ga mampu ngerawat anak, jangan bikin anak!" Balasnya dengan nada kesal. Sembari membanting pintu rumah, terdengar sayup-sayup teriakan amarah bundanya pada dirinya yang hari itu akan berangkat ujian. Setahun setelah nenek nya meninggal dan 10 tahun setelah kakeknya tiada, dia tidak lagi melihat bangunan tempatnya bernaung sebagai rumah. Cuma tempat dia harus bergumul dengan dilema batinnya. Cuma tempat dia harus bertemu monster menakutkan bernama depresi. Cuma tempat dia harus berjibaku dengan orang yang katanya melahirkan dia. Tidak ada rumah, yang ada neraka.

Sudah 3 tahun sejak dia memutuskan keluar dari tempat itu dan memulai hidupnya sendiri. Menumpang pada teman, mengontrak rumah, sampai akhirnya tinggal bersama pamannya. Dan tidak ada satu hari pun dia tidak diingatkan untuk kembali menghubungi bundanya.

Dia bertanya pada dirinya tentang apa yang salah dari tidak menghubungi bundanya. Baginya sosok orang tua harusnya adalah pengasuh yang membangun diri menuju dewasa. Dia mencari arti sesungguhnya dari kebutuhan akan menjadi anak yang tidak durhaka. Dia mempertanyakan apakah dirinya masih dianggap durhaka ketika bundanya juga durhaka kepada kakek neneknya. Dan rasa hormat seharusnya diperoleh, bukan dipaksakan. Tidak ada rasa hormat yang dapat ia berikan untuk bundanya yang pergi menghilang membawa kabur sisa-sisa peninggalan kakek dan neneknya demi bersenang-senang dengan lelaki barunya.

Masalahnya, menurut kebanyakan orang, durhaka itu berlaku untuk hubungan dari anak ke orang tua, terlepas dari apapun yang dilakukan orang tuanya.

Dia terdiam. Kemudian dia bertanya pada beberapa orang, "Jadi kalau ada anak seorang pencuri disuruh sama orang tuanya untuk mencuri, kemudian menolaknya, dia durhaka?"

"Oh kalau gitu mah ya ga durhaka, kan emang dilarang Tuhan untuk mencuri. Harusnya si anak mengingatkan orang tuanya untuk jangan mencuri." Jawab sebagian besar orang lain.

"Terus kalau anaknya udah mengingatkan tapi ga didengerin?" Tanyanya lagi.

"Ya udah, anaknya harus berdoa biar dosa orang tuanya diampuni. Dan terus berusaha biar orang tuanya kembali ke jalan yang benar." Mereka membalas.

"Jadi seorang anak harus patuh sama orang tuanya dan hormat sama mereka terlepas dari apapun situasinya? Walaupun si orang tua ga pernah merawat dia? Walaupun si orang tua ga pernah ngasih pendidikan ke dia?" Tanyanya dengan mulai meninggikan suara.

"Ya kan biar bagaimana pun lo udah dilahirkan di dunia gara-gara mereka. Masa lo mau ngelawan orang yang udah melahirkan lo?" Balas mereka seakan tidak terima ideologinya terserang.

"Ya kan gw ga minta dilahirin." Tutupnya dengan menyesal pernah bertanya.

Dia mencari arti kata sesungguhnya dari orang tua. Dia membaca di kamus, dan yang tertulis adalah "Ayah dan Ibu". Rasanya lebih dari itu. Dia kembali mencari. Dan dia menemukan beberapa definisi.

Menurut Miami, orang tua adalah pria dan wanita yang terikat dalam perkawinan dan siap sedia untuk memikul tanggung jawab seabgai ayah dan ibu dari anak-anak yang dilahirkannya.

Menurut Singgih, orang tua adalah dua individu yang berbeda, memasuki hidup bersama, dengan membawa pandangan pendapat dan kebiasaan-kebiasaan sehari-hari.

Menurut Thamrin Nasution, orang tua adalah setiap orang yang bertanggung jawab dalam  suatu keluarga atau tugas rumah tangga yang dalam kehidupan sehari-hari disebut sebagai bapak dan ibu.

Jadi ada dua komponen penting yang harus dimiliki seseorang untuk dapat dianggap jadi orang tua. Bertanggung jawab terhadap anak yang dilahirkan dan membawa pandangan untuk diturunkan. Sejauh dia mengingat, yang bertanggung jawab atas dirinya dengan mengasuh, mendidik, merawat, menyekolahkan, dan segala urusan yang berhubungan dengan membesarkan seorang anak adalah kakek dan neneknya. Dan setiap nilai-nilai, kebiasaan, norma, pandangan hidup, dan filosofi yang dianutnya sekarang berasal dari kakek dan neneknya. Jadi, berdasarkan definisi yang diperoleh tadi, orang tuanya adalah kakek dan neneknya. Dan dia tidak pernah melawan atau membangkang kakek dan neneknya. Apakah ini berarti dia tidak durhaka?

Rasanya untuk menyatakan suatu hubungan adalah hubungan dari orang tua ke anak tidak lah cukup dengan apa yang dilakukan sang orang tua kepada anaknya, tapi juga apa yang dirasakan oleh sang anak ke orang tuanya. Sebuah keterikatan. Attachment.

Keterikatan adalah sebuah hubungan emosional yang terbentuk diantara beberapa objek dengan tujuan membangun rasa aman dan nyaman. Sebuah keterikatan seharusnya memberikan tempat berlindung yang dapat memberikan rasa aman bahkan disaat tertekan. Sebuah keterikatan seharusnya dapat menjadi dasar untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan memberikan kemampuan bagi seseorang untuk menjelajahi dunia secara aktif. Sebuah keterikatan seharusnya menjadi skema terstruktur yang memperkenalkan pada kemampuan untuk memahami keadaan mental diri sendiri seperti keinginan, perasaan, dan kepercayaan.

Sebuah keterikatan memberikan kita tempat berlindung, membangun rasa percaya diri, dan menjaga secara mental.

Hubungan yang terbangun di antara dia dan bundanya bukanlah sebuah keterikatan. Dia tidak pernah terikat secara emosional dengan bundanya. Bundanya tidak pernah menjadi tempat berlindung yang siap sedia baginya. Keberadaan bundanya mengubur dalam-dalam rasa percaya dirinya. Dan setiap usaha yang dilakukannya untuk menjaga hubungan dengan bundanya hanya menggerus kesehatan mentalnya.

Terlalu banyak dilema yang dirasakan ketika kita dihadapkan pada suatu pertanyaan tentang hubungan anak dan orang tua ketika hal tersebut tidak pernah ada sebelumnya. Di dalam kepalanya selalu berkecamuk pertanyaan apakah dia telah menjadi anak yang baik? Tapi bahkan definisi baik setiap orang tidaklah sama. Bagaimana dia dapat menjawab pertanyaan yang rancu standarnya?

Ataukah itu hanya sebuah pembelaan yang dia buat agar terlepaslah tanggung jawab untuk mendefinisikan perbuatannya?

Terlalu berat.....

Dia duduk di sudut ruangan sembari menatap layar telepon genggamnya. Sebuah pesan singkat telah dia kirimkan kepada orang yang berjudul bundanya. "Selamat Lebaran ya Bun. Mohon maaf lahir batin." begitu isinya. Terkirim dan sudah dibaca. Notifikasi balasan tak kunjung hadir mengisi keheningan yang tercipta.

"Sudah ku duga." cetusnya.

Pertanyaannya, apakah penting mendefinisikan hubungannya dengan orang tuanya? Sebatas fakta yang dapat ditangkap nalar, bundanya telah memilih untuk melahirkan dia ke dunia. Terlepas dari segala situasi yang terjadi dan akan terjadi, bundanya memilih dia daripada hal lainnya. Ketika dia harus lahir tanpa ayah, bundanya memilih dia. Ketika laki-laki yang menikahi bundanya malah menjadi parasit bagi keluarga, bundanya memilih dia. Ketika situasi tak berjalan sesuai keinginan, bundanya tetap memilih dia.

Terlepas dari apa yang terjadi diantara dia dan bundanya, bundanya adalah induk yang sewajarnya. Mungkin memang tidak ada hubungan atau keterikatan emosional yang terbangun. Mungkin memang dia tak mendapat sosok pelindung dari bundanya. Mungkin memang hubungan mereka sebatas darah. Hal tersebut tidak mengubah fakta bahwa bundanya adalah ibunya. Tidak kurang dan tidak lebih.

Hanya saja, dia memiliki sosok pengasuh yang berbeda. Tidak seperti kebanyakan orang di luar sana yang memiliki pengasuh berjudul ayah dan ibu, pengasuhnya adalah kakek dan neneknya.

Hanya saja, dia memiliki sosok pelindung yang berbeda. TIdak seperti kebanyakan orang di luar sana yang memiliki pelindung berjudul ayah dan ibu, pelindungnya adalah pamannya.

Hanya saja, dia memiliki keterikatan batin yang berbeda. Tidak seperti kebanyakan orang di luar sana yang memiliki keterikatan batin dengan orang berjudul ayah dan ibu, keterikatan batinnya terbangun dengan teman-teman terdekatnya.

Dia berbeda, tidak seperti kebanyakan orang di luar sana. Dan tidak ada yang salah dengannya. Begitu juga dengan ribuan manusia di luar sana yang memiliki kasus yang sama dengannya. Yang memiliki sosok pengasuh di luar rumahnya. Yang memiliki pelindung bukan sedarah. Yang memiliki keterikatan batin dengan orang yang bukan keluarga kandung. Tidak ada yang salah dengan mereka.

Dia kembali membuka dirinya untuk memaafkan dunia atas segala yang terjadi. Dia memilih untuk memaafkan bundanya atas segala yang tidak terjadi. Dia memilih untuk memaafkan dirinya agar terlepas segala beban yang dipikulnya hari ini, besok, dan seterusnya.

Kembali menjadi fitrah.

Untuk kemudian kembali menanti Ramadhan tahun depan.



Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta raƱjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...