Skip to main content

Where to Find Me?

Menginjakkan kaki di rumah ketika sudah pukul 11 malam hari itu terasa berbeda dari malam lainnya. Bukan karena hari ini merupakan hari perayaan wisuda yang lama dinantikan, tapi lebih ke kepuasan yang ku dapatkan.

Lucunya, sama sekali tidak ada hubungannya dengan wisuda.

Hari itu aku menatap wajah-wajah gembira dan sumringah dari kebanyakan orang tua dan para wisudawan yang hadir. Kebanyakan. Sebagian kecil lainnya ada wajah kecewa karena orang tuanya tidak dapat hadir secara lengkap. Sebagian lainnya kecewa karena berbagai riasan wajah yang dipolesnya mulai luntur akibat keringat. Sebagian lainnya juga ada yang bersedih karena baru kehilangan seseorang yang penting di hidupnya, padahal sangat dinantikan kehadirannya. Sebagian hanya bisa berdiri dan menatap dari kejauhan sambil menanti siapa yang akan mengisi ceritanya hari ini.

Aku memang kurang suka kerumunan, terlalu banyak manusia, dan aku memang sangat suka memperhatikan setiap detail. Alhasil, kepala ku kelebihan muatan hari ini. Aku melihat ratusan wajah familiar di lautan manusia hari ini. Ku perhatikan setiap detail ekspresi, pakaian, aroma, dan gesture tubuh orang-orang yang ku kenal. Tak semuanya menyadari kehadiran ku di sekitarnya, dan karena memang aku tidak berniat ditemukan. Aku ingin menyatu di antara kerumunan untuk merasakan euforia yang semua orang rasakan.

Nyatanya, sepi memang selalu menghampiri mereka yang sendirian. Aku masih dapat melihat wajah-wajah sedih dari mereka yang tak didampingi ketika wisuda, baik oleh keluarga, pasangan, atau teman.

Aku kehilangan diri ku di tengah kerumunan.

Seberapa dalam ku mencari siapa aku di antara para kerumunan, aku selalu jadi objek di luar cerita. Tak sedikit orang yang mengenali ku berlalu lalang tanpa sedikitpun menghiraukan ku. Mungkin karena aku tidak melihat ke arah yang tepat. Mungkin karena aku tidak terlalu mencolok perhatian. Mungkin memang aku tak berarti.

Dimana aku dapat menemukan diri ku?

Dengan setumpuk berkas-berkas yang harus ku kerjakan setiap harinya semenjak hari itu membuat ku kembali tenggelam dalam kesibukan duniawi. Aku coba menyibukkan diri ku dengan berbagai hal lain agar aku terlupa. Tapi nyatanya pertanyaan itu terus menghatui setiap langkah kaki. Dan aku berhenti di ujung jalan buntu yang ku sebut pekerjaan.

Masih ingat jalan menuju atap bangunan yang kita datangi? Aku tak jauh dari situ, tidak beranjak bahkan. Terjebak malahan. Namanya juga pekerjaan.

Setiap hari menatap layar 12 inch dengan keyboard yang tak berhenti berdetak. Aku disini, menatap langit yang sama dengan yang ku tatap hari itu.

Hidup tidak banyak berubah. Mungkin kita saja yang menyesuaikan diri dengannya.

Jika kamu mencari ku, aku tak jauh dari anak tangga menuju langit yang pernah dilalui banyak orang. Jika kamu mencari ku, aku menunggu di ruang kaca yang sering diabaikan banyak orang. Jika kamu mencari ku, dan jika kamu dapat menemukannya, beri tahu diri ku dimana aku. Aku tersesat...

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta rañjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...