Menginjakkan kaki di rumah ketika sudah pukul 11 malam hari itu terasa berbeda dari malam lainnya. Bukan karena hari ini merupakan hari perayaan wisuda yang lama dinantikan, tapi lebih ke kepuasan yang ku dapatkan.
Lucunya, sama sekali tidak ada hubungannya dengan wisuda.
Hari itu aku menatap wajah-wajah gembira dan sumringah dari kebanyakan orang tua dan para wisudawan yang hadir. Kebanyakan. Sebagian kecil lainnya ada wajah kecewa karena orang tuanya tidak dapat hadir secara lengkap. Sebagian lainnya kecewa karena berbagai riasan wajah yang dipolesnya mulai luntur akibat keringat. Sebagian lainnya juga ada yang bersedih karena baru kehilangan seseorang yang penting di hidupnya, padahal sangat dinantikan kehadirannya. Sebagian hanya bisa berdiri dan menatap dari kejauhan sambil menanti siapa yang akan mengisi ceritanya hari ini.
Aku memang kurang suka kerumunan, terlalu banyak manusia, dan aku memang sangat suka memperhatikan setiap detail. Alhasil, kepala ku kelebihan muatan hari ini. Aku melihat ratusan wajah familiar di lautan manusia hari ini. Ku perhatikan setiap detail ekspresi, pakaian, aroma, dan gesture tubuh orang-orang yang ku kenal. Tak semuanya menyadari kehadiran ku di sekitarnya, dan karena memang aku tidak berniat ditemukan. Aku ingin menyatu di antara kerumunan untuk merasakan euforia yang semua orang rasakan.
Nyatanya, sepi memang selalu menghampiri mereka yang sendirian. Aku masih dapat melihat wajah-wajah sedih dari mereka yang tak didampingi ketika wisuda, baik oleh keluarga, pasangan, atau teman.
Aku kehilangan diri ku di tengah kerumunan.
Seberapa dalam ku mencari siapa aku di antara para kerumunan, aku selalu jadi objek di luar cerita. Tak sedikit orang yang mengenali ku berlalu lalang tanpa sedikitpun menghiraukan ku. Mungkin karena aku tidak melihat ke arah yang tepat. Mungkin karena aku tidak terlalu mencolok perhatian. Mungkin memang aku tak berarti.
Dimana aku dapat menemukan diri ku?
Dengan setumpuk berkas-berkas yang harus ku kerjakan setiap harinya semenjak hari itu membuat ku kembali tenggelam dalam kesibukan duniawi. Aku coba menyibukkan diri ku dengan berbagai hal lain agar aku terlupa. Tapi nyatanya pertanyaan itu terus menghatui setiap langkah kaki. Dan aku berhenti di ujung jalan buntu yang ku sebut pekerjaan.
Masih ingat jalan menuju atap bangunan yang kita datangi? Aku tak jauh dari situ, tidak beranjak bahkan. Terjebak malahan. Namanya juga pekerjaan.
Setiap hari menatap layar 12 inch dengan keyboard yang tak berhenti berdetak. Aku disini, menatap langit yang sama dengan yang ku tatap hari itu.
Hidup tidak banyak berubah. Mungkin kita saja yang menyesuaikan diri dengannya.
Jika kamu mencari ku, aku tak jauh dari anak tangga menuju langit yang pernah dilalui banyak orang. Jika kamu mencari ku, aku menunggu di ruang kaca yang sering diabaikan banyak orang. Jika kamu mencari ku, dan jika kamu dapat menemukannya, beri tahu diri ku dimana aku. Aku tersesat...
Aku kehilangan diri ku di tengah kerumunan.
Seberapa dalam ku mencari siapa aku di antara para kerumunan, aku selalu jadi objek di luar cerita. Tak sedikit orang yang mengenali ku berlalu lalang tanpa sedikitpun menghiraukan ku. Mungkin karena aku tidak melihat ke arah yang tepat. Mungkin karena aku tidak terlalu mencolok perhatian. Mungkin memang aku tak berarti.
Dimana aku dapat menemukan diri ku?
Dengan setumpuk berkas-berkas yang harus ku kerjakan setiap harinya semenjak hari itu membuat ku kembali tenggelam dalam kesibukan duniawi. Aku coba menyibukkan diri ku dengan berbagai hal lain agar aku terlupa. Tapi nyatanya pertanyaan itu terus menghatui setiap langkah kaki. Dan aku berhenti di ujung jalan buntu yang ku sebut pekerjaan.
Masih ingat jalan menuju atap bangunan yang kita datangi? Aku tak jauh dari situ, tidak beranjak bahkan. Terjebak malahan. Namanya juga pekerjaan.
Setiap hari menatap layar 12 inch dengan keyboard yang tak berhenti berdetak. Aku disini, menatap langit yang sama dengan yang ku tatap hari itu.
Hidup tidak banyak berubah. Mungkin kita saja yang menyesuaikan diri dengannya.
Jika kamu mencari ku, aku tak jauh dari anak tangga menuju langit yang pernah dilalui banyak orang. Jika kamu mencari ku, aku menunggu di ruang kaca yang sering diabaikan banyak orang. Jika kamu mencari ku, dan jika kamu dapat menemukannya, beri tahu diri ku dimana aku. Aku tersesat...
Comments
Post a Comment