Skip to main content

Berbeda karena Setara

Terkadang kita merasa "Kenapa aku berbeda?"

Kadang karena fisik kita tak serupa, kadang karena selera musik kita tak sama, kadang karena pandangan hidup yang berseberangan, kadang karena ya memang beda saja. Kita mempertanyakan diri kita karena kita berbeda dari kebanyakan orang di sekitar kita. Apakah kita salah? Apakah kita benar? Bagaimana cara memperbaikinya?

Kemudian kita bertemu dengan dunia maya. Tempat kita dapat memilih dan menyaring orang-orang yang berada di sekitar kita. Kita memilih mereka yang sepaham. Kita memilih mereka yang serupa. Kita memilih mereka yang sama. Hingga kita menciptakan sebuah benteng perlindungan akan ideologi yang kita punya. Kita dapat berkata bahwa kita memang lumrah dan benar adanya karena kita punya lingkungan yang mendukung hal yang kita pegang teguh. Kemudian kita menciptakan stigma bahwa yang berbeda adalah salah. Kita memberikan cap pada mereka yang berbeda. "Ah dasar garis keras." atau "Ah memang cebong." atau semacamnya. Dan tanpa kita sadari, kita berubah menjadi mereka yang kita benci.

Cap, label, judul, dan apapun itu yang bisa kita berikan pada mereka yang berbeda hanya agar kita menjadi berbeda. Kita tidak ingin disebut sama. Kita melakukan segmentasi dan mensegregasi masyarakat yang kita ciptakan sendiri. Kita kemudian menjadi mudah merasa tersinggung akibatnya. Kita tak mau diberi label disaat kita melabeli yang beda. Kita tak mau salah disebut judulnya disaat kita berjuang agar tidak ada yang namanya judul. Identitas menjadi hal yang kita hindari, tetapi juga kita lindungi. Aneh memang.

Lucunya itu telah membudaya dan mendarah daging dalam diri kita. Sistem kasta tak mungkin kita hapuskan selama kita memegang teguh warisan luhur. Borjuis akan selalu ada ketika proletar masih bekerja. Kulit putih memang begitu adanya seperti kulit hitam. Perempuan tetap menjadi perempuan, begitu juga laki-laki. Belum lagi suku, agama, ras, dan antargolongan. Apalagi masalah seksualitas, politik, dan ideologi. Jadi kita memang berbeda. Kenapa kita harus takut menjadi berbeda dan menuntut persatuan? Kita seharusnya takut pada mereka yang ingin kita semua sama. Kita seharusnya takut ketika ada yang ingin menghilangkan perbedaan. Karena dengan menghilangkan perbedaan, kita hanya menghancurkan eksistensi kita sebagai umat manusia.

Terdengar seperti sebuah kritik yang pedas, apalagi mengingat kita sangat menginginkan sebuah persatuan di antara umat manusia yang sering kali berperang. "Kenapa harus berbeda kalau kita sama-sama manusia? " itu yang kerap kita pertanyakan. Tapi justru karena memang sudah sama-sama manusia, kenapa takut berbeda? Kita tidak seperti hewan lain yang akan mengucilkan mereka yang berbeda. Kita memiliki akal dan sistem sosial yang lebih komplek dari kerajaan semut bahkan. Kenapa kita jadi takut berbeda kalau memang berbeda yang memberikan kita makna sebagai manusia. Sama seperti profesi, tidak semua manusia harus jadi dokter kan? Harus ada yang mau menjadi insinyur, pengacara, politisi, ahli budaya, akuntan, dan sejuta jenis profesi lainnya. Hidup memang harus beragam dan berbeda agar seimbang. Kita tidak bisa membuat semua orang menjadi proletar, karena kaum borjuis adalah mimpi semua orang. Kita tidak bisa menghilangkan orang-orang kulit putih hanya karena kejahatan rasial yang dilakukan pendahulunya. Kita tidah bisa hanya mengagungkan satu agama ketika perjalanan hidup setiap orang berbeda dan cara mereka menemukan Tuhan pun berbeda-beda. Kita memang tidak bisa sama, maka terima lah.

Yang perlu kita sepakati bersama bahwa berbeda tidak membuat manusia menjadi lebih tinggi, lebih rendah, lebih berhak, dan lebih berkewajiban. Kita tidak berbeda karena harus ada yang dikucilkan. Kita tidak berbeda karena harus ada perpisahan. Kita berbeda agar kita setara. Kita berbeda, maka kita setara.

Belajar menerima bahwa kita berbeda akan membawa dunia ke arah yang lebih indah seperti yang kita inginkan bersama. Semoga saja

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta rañjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...