Pernah terjebak dalam kendaraan yang sedang melaju dan gapunya kendali atas arah melajunya? Like di mobil mudik keluarga, di bus rombongan karyawisata sekolah, atau di dalam suatu hubungan? Lo gabisa menentukan kemana dia jalan, dimana dia akan berhenti, dan kapan dia akan dapat menjawab kebutuhan lo.
Well, that's some shit you hate right?
Ga benci sih, mungkin cuma itu membuat lo ga nyaman. Seperti lo gatau mau apa, dan lo gatau juga kaalau dikasih kendali atas itu, lo bakal mau kemana. Tapi lo gasuka aja gapunya arah selain yang diarahin sama orang lain. Lo gabisa bilang lo maunya apa, tapi gapengen aja dipasangin kacamata kuda. Dan in the end, the only one you can get mad with is yourself.
Situasi kayak gini sebenernya sering kita hadapi. Di sekolah misalnya, sering ga sih lo ngerasa lo gasuka belajar suatu mata pelajaran karena menurut lo ga guna, tapi klo disuruh belajar yang lain juga lo gatau (bahkan mungkin gamau) pelajaran apa yg pantes buat gantiin. Di dalam pekerjaan, kadang ada deadlinenya yang membatasi kreativitas lo, atau kadang itu membuat lo gabisa mencapai standar kepuasan yang lo tetapkan sendiri. Di dalam suatu hubungan, lo harus menyesuaikan diri lo dengan pasangan lo dengan terkadang lo sendiri lupa menuntut untuk diri lo sendiri. Sadar atau ga, hidup lo udah jadi tamiya yang track nya disusun sama orang lain. Lo masih bisa ngatur seberapa cepet diri lo melaju. Lo cuma gabisa atau bahkan gatau ujungnyaa dimana. Ujung-ujungnya cuma muter-muter di tempat....
Menghela napas....
Can I stop? Please? I'm not the kind of fool who's gonna stick around to deal with your shit meanwhile someone's out there can get all the happiness in the world... I'm tired to be a trash bin for every bullshit people said to me.
"Oh you're worth it."
"You're so precious."
"You can be happy."
"Follow your passion."
"I love you."
"We care."
"Keep spirit!"
"Be yourself."
etc...
I hate when people dictate me to do my life, but when I follow their advice, they'll say that I'm wrong or I've failed or anything else. We can't please everyone right? Oh, wait. We can't please ANYONE. Including ourselves.
Remember that night when you said to yourself that you will do better tomorrow and achieve your dream? When you achieve them all and you see your reflection in the mirror, the first thing comes out from your mouth is "I don't want this." Your selfish and egoistic self will always be looking for something more. You will never be satisfied by what you have right now, or anything else you'll get in the future.
And it's human nature to feel that.
Kita manusia memang mahluk paling serakah yang Tuhan ciptakan. Bahkan iblis yang diusir dari surga tidak pernah meminta apapun selain untuk tidak bersujud pada Adam. Bahkan malaikat yang paling setia disisi-Nya tidak pernah meminta apapun selain untuk terus beribadah kepadanya. Bahkan Singa di padang savana tidak pernah meminta apapun selain tetap menjadi pemangsa. Bahkan antelop yang diburu tidak pernah menuntut apapun walaupun takdirnya hanya untuk mati. Tapi kita? Terakhir kali kita meminta sesuatu kepada Tuhan adalah sesuatu yang kita belum punya, tapi orang lain sudah memilikinya. Fuck us right?
I hate it when people feel that I can take all the shit in the world and still act like the calmest person in the world. Well, guess what? I'm sick of it.
If you want to be my friend, then act like it. Don't talk behind my back. Help me when I'm in trouble. Listen to my story when I need it. And work side-by-side with me.
If you want to be my lover, then act like it. Don't fuck someone else. Don't share your heart with someone else. Let me help you when you're in trouble.
If you want to be my family, then act like it. Don't compare me to someone else. Love me unconditionally. Don't ever ever ever spit on my grave.
If you want to be my business partner, then act like it. Be professional. Don't waste my time. Be punctual. Have a big dream to our business.
If you want to be a part of my life, please..... Don't make me explain myself...
Jangan nyakitin gw lebih jauh. Gw udah gapunya cukup tenaga buat memperbaiki diri gw lagi. Gw gapunya cukup sumber daya buat ngebantu lo memperbaiki diri lo. I only have myself right now. Please don't make me lose it...
"The last thing I want is another broken heart to drive me to brink of crazy. In the end I couldn't take it cause I knew we couldn't make it. So come on, come on..."
Potongan lagi dari SWMRS, judulnya Lose It. I like this song. It pictured what I feel completely. To my friend, my ex, my family, myself... I'm gonna lose it, I think. It's not like I don't want to be by your side, but sometimes, you need to think about me too. I'm not your always-available emotional support. Ah...... udah lah.
I hate myself to feel like this. Harusnya temen tuh selalu ada buat temennya. Dan gw pernah menjanjikan itu ke banyak orang. Kalau gw akan selalu ada buat mereka. Tapi ternyata, gw gabisa selalu ada. Ternyata, selalu ada itu melelahkan. Ternyata, selalu ada itu berat. Ternyata, selalu ada itu menyakitkan. Karenaa gw harus terus membagi diri gw untuk banyak hal dan gw udah galagi sanggup kayak gitu.
Ajari gw untuk memilih diri gw sendiri. Somehow, despite how hard I tried, I can't choose myself over someone else.
"Lo tau Ry rasanya sendirian, ga enak kan? Ga boleh ada orang lain yang ngerasa kayak gitu.", kata diri gw sendiri ketika gw berusaha mencegah diri gw membantu orang lain. Tapi gw capek.... Sigh....
Ya, kita gaakan pernah puas sama diri kita sendiri. Kayak gw yang gapernah puas sama diri gw karena gw gabisa ngebantu semua orang seperti yang gw ingin lakukan.
Andai semua orang dapat duduk tenang membaca novel sembari meminum teh atau kopi tanpa peduli urusan orang lain, mungkin dunia akan jadi tempat yang lebih aman. Gaada yang pusing mikirin urusan selangkangan orang, gaada yang pusing mikirin imannya terganggu pohon natal, gaada yang peduli pemimpinnya beda golongan, gaada yang peduli apapun. Andai kita ssemua mampu menjadi egois dan memisahkan diri dari peradaban, akankah dunia menjadi tenang?
Pertanyaannya, benarkah menjadi apatis nan egois dapat memberikan kita ketenangan yang kita inginkan? Bukankah sumber kesenangan paling hakiki dari setiap insan adalah memiliki semuanya tanpa terkecuali? Materialis dan hedonis telah mendarah daging... Dan seiring berjalannya waktu, ego dan nafsu kita akan mendorong diri untuk kembali menjajah kebebasan individual orang lain. Konflik jadi tak dapat dihindari. Dan sekali lagi, kita akan mencoba memusingkan kembali kelakuan manusia lain. Gitu terus sampai dunia kiamat. Makanya dunia itu maju, karena kita terus mencari cara untuk mempercepat proses memperkaya diri sendiri. Dari perang pakai batu, sekarang perang jadi abu. Dulu luka baru mati, sekarang tak sempat merasai.
Kita seharusnya bertanya ke diri kitaa sendiri. Jika memang kita hidup untuk diri sendiri, kenapa kita masih disini? Jika hidup untuk surgawi, kenapa harus memulai dari duniawi? Jika jawabannya adalah mati, buat apa kita punya jasmani? Coba tatap refleksi diri kita dimanapun kita berada. Dan pikirkan apa memang kita ada untuk diri kita sendiri? Atau untuk sesuatu tujuan yang lebih besar untuk seluruh jagad raya? Karena kita memang sebuah bagian dari mesin raksasa bernama alam semesta yang harusnya punya tujuan.
Jadi. Mampukah lo menghentikan diri lo sendiri untuk tidak meminta lebih dari yang lo miliki? Gw belum... Gw masih berusaha untuk ga muncul jadi ksatria penyelamat bagi banyak orang. Gw masih belaajar untuk menahan diri untuk ga ngebantu orang lain melebihi kemampuan gw. Gw masih belum bisa untuk berkata tidak ketika ada yang datang meminta bantuan.
Mungkin gw akan terus begini. Tapi setidaknya gw udah jujur sama diri gw sendiri. Gw masih ngebantu temen gw karena gw masih peduli sama merekaa. Gw masih ngebantu keluarga gw karena gw gamungkin ada tanpa mereka. Gw masih ada buat kamu karena aku masih sayang sama kamu. Entah....
Namanya juga hidup, kadang pahit, kadang pahit banget....
Well, that's some shit you hate right?
Ga benci sih, mungkin cuma itu membuat lo ga nyaman. Seperti lo gatau mau apa, dan lo gatau juga kaalau dikasih kendali atas itu, lo bakal mau kemana. Tapi lo gasuka aja gapunya arah selain yang diarahin sama orang lain. Lo gabisa bilang lo maunya apa, tapi gapengen aja dipasangin kacamata kuda. Dan in the end, the only one you can get mad with is yourself.
Situasi kayak gini sebenernya sering kita hadapi. Di sekolah misalnya, sering ga sih lo ngerasa lo gasuka belajar suatu mata pelajaran karena menurut lo ga guna, tapi klo disuruh belajar yang lain juga lo gatau (bahkan mungkin gamau) pelajaran apa yg pantes buat gantiin. Di dalam pekerjaan, kadang ada deadlinenya yang membatasi kreativitas lo, atau kadang itu membuat lo gabisa mencapai standar kepuasan yang lo tetapkan sendiri. Di dalam suatu hubungan, lo harus menyesuaikan diri lo dengan pasangan lo dengan terkadang lo sendiri lupa menuntut untuk diri lo sendiri. Sadar atau ga, hidup lo udah jadi tamiya yang track nya disusun sama orang lain. Lo masih bisa ngatur seberapa cepet diri lo melaju. Lo cuma gabisa atau bahkan gatau ujungnyaa dimana. Ujung-ujungnya cuma muter-muter di tempat....
Menghela napas....
Can I stop? Please? I'm not the kind of fool who's gonna stick around to deal with your shit meanwhile someone's out there can get all the happiness in the world... I'm tired to be a trash bin for every bullshit people said to me.
"Oh you're worth it."
"You're so precious."
"You can be happy."
"Follow your passion."
"I love you."
"We care."
"Keep spirit!"
"Be yourself."
etc...
I hate when people dictate me to do my life, but when I follow their advice, they'll say that I'm wrong or I've failed or anything else. We can't please everyone right? Oh, wait. We can't please ANYONE. Including ourselves.
Remember that night when you said to yourself that you will do better tomorrow and achieve your dream? When you achieve them all and you see your reflection in the mirror, the first thing comes out from your mouth is "I don't want this." Your selfish and egoistic self will always be looking for something more. You will never be satisfied by what you have right now, or anything else you'll get in the future.
And it's human nature to feel that.
Kita manusia memang mahluk paling serakah yang Tuhan ciptakan. Bahkan iblis yang diusir dari surga tidak pernah meminta apapun selain untuk tidak bersujud pada Adam. Bahkan malaikat yang paling setia disisi-Nya tidak pernah meminta apapun selain untuk terus beribadah kepadanya. Bahkan Singa di padang savana tidak pernah meminta apapun selain tetap menjadi pemangsa. Bahkan antelop yang diburu tidak pernah menuntut apapun walaupun takdirnya hanya untuk mati. Tapi kita? Terakhir kali kita meminta sesuatu kepada Tuhan adalah sesuatu yang kita belum punya, tapi orang lain sudah memilikinya. Fuck us right?
I hate it when people feel that I can take all the shit in the world and still act like the calmest person in the world. Well, guess what? I'm sick of it.
If you want to be my friend, then act like it. Don't talk behind my back. Help me when I'm in trouble. Listen to my story when I need it. And work side-by-side with me.
If you want to be my lover, then act like it. Don't fuck someone else. Don't share your heart with someone else. Let me help you when you're in trouble.
If you want to be my family, then act like it. Don't compare me to someone else. Love me unconditionally. Don't ever ever ever spit on my grave.
If you want to be my business partner, then act like it. Be professional. Don't waste my time. Be punctual. Have a big dream to our business.
If you want to be a part of my life, please..... Don't make me explain myself...
Jangan nyakitin gw lebih jauh. Gw udah gapunya cukup tenaga buat memperbaiki diri gw lagi. Gw gapunya cukup sumber daya buat ngebantu lo memperbaiki diri lo. I only have myself right now. Please don't make me lose it...
"The last thing I want is another broken heart to drive me to brink of crazy. In the end I couldn't take it cause I knew we couldn't make it. So come on, come on..."
Potongan lagi dari SWMRS, judulnya Lose It. I like this song. It pictured what I feel completely. To my friend, my ex, my family, myself... I'm gonna lose it, I think. It's not like I don't want to be by your side, but sometimes, you need to think about me too. I'm not your always-available emotional support. Ah...... udah lah.
I hate myself to feel like this. Harusnya temen tuh selalu ada buat temennya. Dan gw pernah menjanjikan itu ke banyak orang. Kalau gw akan selalu ada buat mereka. Tapi ternyata, gw gabisa selalu ada. Ternyata, selalu ada itu melelahkan. Ternyata, selalu ada itu berat. Ternyata, selalu ada itu menyakitkan. Karenaa gw harus terus membagi diri gw untuk banyak hal dan gw udah galagi sanggup kayak gitu.
Ajari gw untuk memilih diri gw sendiri. Somehow, despite how hard I tried, I can't choose myself over someone else.
"Lo tau Ry rasanya sendirian, ga enak kan? Ga boleh ada orang lain yang ngerasa kayak gitu.", kata diri gw sendiri ketika gw berusaha mencegah diri gw membantu orang lain. Tapi gw capek.... Sigh....
Ya, kita gaakan pernah puas sama diri kita sendiri. Kayak gw yang gapernah puas sama diri gw karena gw gabisa ngebantu semua orang seperti yang gw ingin lakukan.
Andai semua orang dapat duduk tenang membaca novel sembari meminum teh atau kopi tanpa peduli urusan orang lain, mungkin dunia akan jadi tempat yang lebih aman. Gaada yang pusing mikirin urusan selangkangan orang, gaada yang pusing mikirin imannya terganggu pohon natal, gaada yang peduli pemimpinnya beda golongan, gaada yang peduli apapun. Andai kita ssemua mampu menjadi egois dan memisahkan diri dari peradaban, akankah dunia menjadi tenang?
Pertanyaannya, benarkah menjadi apatis nan egois dapat memberikan kita ketenangan yang kita inginkan? Bukankah sumber kesenangan paling hakiki dari setiap insan adalah memiliki semuanya tanpa terkecuali? Materialis dan hedonis telah mendarah daging... Dan seiring berjalannya waktu, ego dan nafsu kita akan mendorong diri untuk kembali menjajah kebebasan individual orang lain. Konflik jadi tak dapat dihindari. Dan sekali lagi, kita akan mencoba memusingkan kembali kelakuan manusia lain. Gitu terus sampai dunia kiamat. Makanya dunia itu maju, karena kita terus mencari cara untuk mempercepat proses memperkaya diri sendiri. Dari perang pakai batu, sekarang perang jadi abu. Dulu luka baru mati, sekarang tak sempat merasai.
Kita seharusnya bertanya ke diri kitaa sendiri. Jika memang kita hidup untuk diri sendiri, kenapa kita masih disini? Jika hidup untuk surgawi, kenapa harus memulai dari duniawi? Jika jawabannya adalah mati, buat apa kita punya jasmani? Coba tatap refleksi diri kita dimanapun kita berada. Dan pikirkan apa memang kita ada untuk diri kita sendiri? Atau untuk sesuatu tujuan yang lebih besar untuk seluruh jagad raya? Karena kita memang sebuah bagian dari mesin raksasa bernama alam semesta yang harusnya punya tujuan.
Jadi. Mampukah lo menghentikan diri lo sendiri untuk tidak meminta lebih dari yang lo miliki? Gw belum... Gw masih berusaha untuk ga muncul jadi ksatria penyelamat bagi banyak orang. Gw masih belaajar untuk menahan diri untuk ga ngebantu orang lain melebihi kemampuan gw. Gw masih belum bisa untuk berkata tidak ketika ada yang datang meminta bantuan.
Mungkin gw akan terus begini. Tapi setidaknya gw udah jujur sama diri gw sendiri. Gw masih ngebantu temen gw karena gw masih peduli sama merekaa. Gw masih ngebantu keluarga gw karena gw gamungkin ada tanpa mereka. Gw masih ada buat kamu karena aku masih sayang sama kamu. Entah....
Namanya juga hidup, kadang pahit, kadang pahit banget....
Comments
Post a Comment