Ketika gw dihadapkan pada sebuah dogma bahwa hidup hanya untuk berdoa pada Tuhan, gw mempertanyakan lagi kebenarannya.
Benarkah kita hanya diciptakan untuk berdoa? Apakah Tuhan merupakan suatu eksistensi Maha Narsistik sehingga Dia dengan kemampuan Maha Pencipta-Nya menciptakan segala hal di muka bumi hanya agar mendapat pengakuan bahwa Dia yang Maha Segalanya? Benarkah kita hanya diciptakan untuk pemenuhan ego semata? Dengan segala kesemuan atas segala sesuatu di alam semesta, benarkah kita tak memiliki arti lain selain hamba?
Ini aneh.
Krisis identitas yang gw alami ketika gw memutuskan untuk menjadi seorang Nihilist selalu berujung pada kita memang hanya sebuah butiran debu di alam semesta yang tak terbatas. Tapi setiap detik dari sebuah lini waktu adalah hal yang berharga. Kita memang hanya bisa hidup 70 tahun lamanya (kalau lo tinggal di Indonesia, dan sesuai dengan angka harapan hidup). Dan 70 tahun itu ga sebanding sama sejarah manusia yang udah 12.018 tahun lamanya. Dan lebih ga sebanding lagi dengan umur dunia yang udah millyaran tahun lamanya. Tapi dalam waktu satu abad, kita bergerak dari sekedar manusia menjadi manusia modern. Itu tidak terjadi begitu saja, dan tidak terjadi dalam semalam. Dunia terus bergerak dengan jutaan ekor manusia yang terus berpikir dan bekerja. Mereka bertanya, mereka mencari, mereka mencoba, dan mereka berseru "Eureka!"
Kita lebih dari sekedar budak.
22 tahun gw hidup di muka bumi, setidaknya ada 4 momen besar perkembangan teknologi dalam peradaban manusia yang gw saksikan. Era menjamurnya telepon genggam murah di akhir 90an, kebangkitan kehidupan berbasis internet di awal 2000an, berkembangnya kemampuan komputasi secara eksponensial di awal 2010an, dan terwujudnya era Industri 4.0 baru-baru ini. Gw yg ketika kecil bermimpi untuk bisa punya jam tangan power ranger yang bisa nelpon temen dan keliatan mukanya, sekarang bisa punya smartwatch dengan kemampuan yang lebih gila. Gw yang ketika kecil ga pernah ngira bahwa handphone akan jadi suatu kebutuhan, sekarang sangat bergantung pada keberadaan telepon genggam cerdas milik gw. Gw ga pernah membayangkan bahwa manusia akhrinya bisa menyembuhkan kanker semudah mereka menyembuhkan flu. Well, ga segampang itu sih, tapi setidaknya udah menuju ke sana.
Kita tidak hanya sekedar cerdas.
Jadi dengan 70 tahun yang gw miliki (sisa 48 tahun sih), seharusnya banyak yang bisa gw lakukan. Gw bisa menciptakan banyak hal. Gw bisa menyelesaikan banyak hal. Gw bisa meningkatkan taraf hidup manusia secara keseluruhan. Gw bisa menjadi penting. Mungkin bukan gw yang merasakan, tapi gw siap menjadi sebuah stepping stone demi kemajuan umat manusia secara utuh. Ga perlu alasan khusus, simply karena gw bisa. Kalau lo mencoba mengerti apa yang gw pikirkan, bayangkan kalau lo tau kapan kiamat, atau gimana kiamat akan terjadi. Alam semesta bekerja akibat entropi yang terus menerus menghasilkan energi dan mendorong dunia menuju kekacauan, a necessary one, sehingga semua hukum fisika dan reaksi kimia dapat berjalan sebagaimana mestinya. Suatu hari, semua energi tersebut berhenti, alirannya tak lagi memicu benda lain, tak ada lagi reaksi berantai, semua berhenti begitu saja karena sudah semestinya. Dunia tak lagi kacau, dan tak ada lagi yang bekerja. Cuma lo gatau kapan itu terjadi, dan mulai darimana. Yang lo tau, lo akan ngalamin itu, tiba-tiba dan tanpa peringatan. Apa yang lo lakukan?
Apakah berhenti dan menyerah adalah jawabannya?
Gw dihadapkan pada rasa takut akan ketidakpastian yang mungkin terjadi setelah ini. Gw gatau kapan semua sistem dalam tubuh gw akan berhenti bekerja. Dan gw gatau apa yang terjadi setelah gw kembali menyatu dengan bumi. Dan gaada yang bisa menjamin bahwa afterlife itu beneran ada. "Tapi kan agama menjanjikan kita bahwa kita akan punya kehidupan setelah mati, apakah lo ga percaya itu?" Gw percaya, tapi definisinya yang mungkin beda. Lo diciptakan dari jutaan (kalau bukan milyaran) partikel yang asalnya dari alam semesta. Entah tanah, air, udara, luar angkasa, semua partikel itu tersusun secara fisika menjadi atom, secara kimia menjadi molekul, dan secara biologis menjadi seonggok mahluk. Ketika lo mati, sudah sewajarnya dan seyogyanya kalau tubuh lo akan kembali mengisi alam semesta dengan milyaran partikel yang dulu pernah menjadi bagian darinya. Perdebatannya muncul ketika lo nanya, trus ruh itu apa? Ruh atau jiwa itu ya sebuah kesadaran, bahwa tubuh lo adalah milik lo dan lo adalah pengendalinya. Suatu hari, kesadaran lo dapat disimulasikan dalam sebuah superkomputer dan dia bertanya, "Apakah aku nyata?". Ego kita akan menjawab, "Lo ga nyata karena gw yang nyiptain lo." Tapi kemudian kita akan bertanya pada diri kita sendiri, apakah kita nyata? Karena dengan konsep Tuhan adalah Maha Pencipta, kita hanya ciptaan-Nya.
Kalau kita memang hanya diciptakan untuk berdoa, lalu kenapa kita diberi akal? Kenapa kita diberikan kebebasan berpikir? Kenapa kita diberi kemampuan mengubah takdir? Apakah semua itu semu? Membahas tentang yang namanya "String Theory" yang mencetuskan ide bahwa alam semesta tersusun atas sebuah zat bernama String, yakni benang-benang kecil yang konfigurasinya menentukan bentuk dan fungsi benda yang dibentuknya. Seperti sebuah benda tersusun atas ribuan molekul; dan molekul tersusun atas atom; dan atom tersusun atas proton, elektron, dan neutron; dan proton, elektron, dan neutron tersusun atas quark; dan seterusnya. String menyusun alam semesta kita hingga satuan terkecil. Jika kemudian kita mampu mendefinisikannya dan mengerti cara kerjanya, kita dapat mengetahui apakah hal "Random" benar-benar acak atau sudah terencana sejak penyusunannya. Bayangkan semua pilihan yang lo pernah pilih, semua perasaan yang pernah lo rasakan, semua situasi yang lo alami, semua terjadi akibat konfigurasi suatu benda yang lo bahkan ga ngerti apa. Lo ga punya kebebasan memilih karena semua pilihan lo telah ditentukan dan disimulasikan dengan tepat oleh konfigurasi string ini. Ga pernah ada yang namanya pilihan, semua itu terjadi memang begitu jalurnya, setidaknya di semesta yang lo tinggali. Dan semua pilihan lain yang ga lo pilih, tetap terjadi di semesta yang lain. You have exactly infinite number of version of you that live their own life without the capability of choosing what happened and will happen to them, you're just a simulation of string configuration. Semua yang tersusun dalam dimensi ke-0 akan mendefinisikan hingga dimensi ke-10, hingga kita semua bertemu pada suatu dimensi ke-11 yang mendefinisikan kita sebagai sebuah singularity. Dari satu, kembali satu. Jadi lo berdoa atau ga, bukan karena lo sadar arti lo sebagai manusia, tapi karena emang "Tuhan" menggariskan bahwa lo akan berdoa, di saat itu, di tempat itu, dengan cara itu juga. Lo ga punya pilihan.
Terasa aneh kan ketika lo merasa bahwa "Gw adalah manusia tercerahkan karena gw sudah beribadah lebih dari yang lain." dan akhirnya lo dihadapkan pada suatu ide bahwa yang lo lakukan pun hanya sebuah kesemuan belaka. Gw juga gitu awalnya. Sampai akhirnya gw mempertanyakan apa sebenernya mau Tuhan gw. Dalam kitab agama gw, salah satu perintah pertama yang diturunkan oleh-Nya adalah perintah untuk membaca.
Benarkah kita hanya diciptakan untuk berdoa? Apakah Tuhan merupakan suatu eksistensi Maha Narsistik sehingga Dia dengan kemampuan Maha Pencipta-Nya menciptakan segala hal di muka bumi hanya agar mendapat pengakuan bahwa Dia yang Maha Segalanya? Benarkah kita hanya diciptakan untuk pemenuhan ego semata? Dengan segala kesemuan atas segala sesuatu di alam semesta, benarkah kita tak memiliki arti lain selain hamba?
Ini aneh.
Krisis identitas yang gw alami ketika gw memutuskan untuk menjadi seorang Nihilist selalu berujung pada kita memang hanya sebuah butiran debu di alam semesta yang tak terbatas. Tapi setiap detik dari sebuah lini waktu adalah hal yang berharga. Kita memang hanya bisa hidup 70 tahun lamanya (kalau lo tinggal di Indonesia, dan sesuai dengan angka harapan hidup). Dan 70 tahun itu ga sebanding sama sejarah manusia yang udah 12.018 tahun lamanya. Dan lebih ga sebanding lagi dengan umur dunia yang udah millyaran tahun lamanya. Tapi dalam waktu satu abad, kita bergerak dari sekedar manusia menjadi manusia modern. Itu tidak terjadi begitu saja, dan tidak terjadi dalam semalam. Dunia terus bergerak dengan jutaan ekor manusia yang terus berpikir dan bekerja. Mereka bertanya, mereka mencari, mereka mencoba, dan mereka berseru "Eureka!"
Kita lebih dari sekedar budak.
22 tahun gw hidup di muka bumi, setidaknya ada 4 momen besar perkembangan teknologi dalam peradaban manusia yang gw saksikan. Era menjamurnya telepon genggam murah di akhir 90an, kebangkitan kehidupan berbasis internet di awal 2000an, berkembangnya kemampuan komputasi secara eksponensial di awal 2010an, dan terwujudnya era Industri 4.0 baru-baru ini. Gw yg ketika kecil bermimpi untuk bisa punya jam tangan power ranger yang bisa nelpon temen dan keliatan mukanya, sekarang bisa punya smartwatch dengan kemampuan yang lebih gila. Gw yang ketika kecil ga pernah ngira bahwa handphone akan jadi suatu kebutuhan, sekarang sangat bergantung pada keberadaan telepon genggam cerdas milik gw. Gw ga pernah membayangkan bahwa manusia akhrinya bisa menyembuhkan kanker semudah mereka menyembuhkan flu. Well, ga segampang itu sih, tapi setidaknya udah menuju ke sana.
Kita tidak hanya sekedar cerdas.
Jadi dengan 70 tahun yang gw miliki (sisa 48 tahun sih), seharusnya banyak yang bisa gw lakukan. Gw bisa menciptakan banyak hal. Gw bisa menyelesaikan banyak hal. Gw bisa meningkatkan taraf hidup manusia secara keseluruhan. Gw bisa menjadi penting. Mungkin bukan gw yang merasakan, tapi gw siap menjadi sebuah stepping stone demi kemajuan umat manusia secara utuh. Ga perlu alasan khusus, simply karena gw bisa. Kalau lo mencoba mengerti apa yang gw pikirkan, bayangkan kalau lo tau kapan kiamat, atau gimana kiamat akan terjadi. Alam semesta bekerja akibat entropi yang terus menerus menghasilkan energi dan mendorong dunia menuju kekacauan, a necessary one, sehingga semua hukum fisika dan reaksi kimia dapat berjalan sebagaimana mestinya. Suatu hari, semua energi tersebut berhenti, alirannya tak lagi memicu benda lain, tak ada lagi reaksi berantai, semua berhenti begitu saja karena sudah semestinya. Dunia tak lagi kacau, dan tak ada lagi yang bekerja. Cuma lo gatau kapan itu terjadi, dan mulai darimana. Yang lo tau, lo akan ngalamin itu, tiba-tiba dan tanpa peringatan. Apa yang lo lakukan?
Apakah berhenti dan menyerah adalah jawabannya?
Gw dihadapkan pada rasa takut akan ketidakpastian yang mungkin terjadi setelah ini. Gw gatau kapan semua sistem dalam tubuh gw akan berhenti bekerja. Dan gw gatau apa yang terjadi setelah gw kembali menyatu dengan bumi. Dan gaada yang bisa menjamin bahwa afterlife itu beneran ada. "Tapi kan agama menjanjikan kita bahwa kita akan punya kehidupan setelah mati, apakah lo ga percaya itu?" Gw percaya, tapi definisinya yang mungkin beda. Lo diciptakan dari jutaan (kalau bukan milyaran) partikel yang asalnya dari alam semesta. Entah tanah, air, udara, luar angkasa, semua partikel itu tersusun secara fisika menjadi atom, secara kimia menjadi molekul, dan secara biologis menjadi seonggok mahluk. Ketika lo mati, sudah sewajarnya dan seyogyanya kalau tubuh lo akan kembali mengisi alam semesta dengan milyaran partikel yang dulu pernah menjadi bagian darinya. Perdebatannya muncul ketika lo nanya, trus ruh itu apa? Ruh atau jiwa itu ya sebuah kesadaran, bahwa tubuh lo adalah milik lo dan lo adalah pengendalinya. Suatu hari, kesadaran lo dapat disimulasikan dalam sebuah superkomputer dan dia bertanya, "Apakah aku nyata?". Ego kita akan menjawab, "Lo ga nyata karena gw yang nyiptain lo." Tapi kemudian kita akan bertanya pada diri kita sendiri, apakah kita nyata? Karena dengan konsep Tuhan adalah Maha Pencipta, kita hanya ciptaan-Nya.
Kalau kita memang hanya diciptakan untuk berdoa, lalu kenapa kita diberi akal? Kenapa kita diberikan kebebasan berpikir? Kenapa kita diberi kemampuan mengubah takdir? Apakah semua itu semu? Membahas tentang yang namanya "String Theory" yang mencetuskan ide bahwa alam semesta tersusun atas sebuah zat bernama String, yakni benang-benang kecil yang konfigurasinya menentukan bentuk dan fungsi benda yang dibentuknya. Seperti sebuah benda tersusun atas ribuan molekul; dan molekul tersusun atas atom; dan atom tersusun atas proton, elektron, dan neutron; dan proton, elektron, dan neutron tersusun atas quark; dan seterusnya. String menyusun alam semesta kita hingga satuan terkecil. Jika kemudian kita mampu mendefinisikannya dan mengerti cara kerjanya, kita dapat mengetahui apakah hal "Random" benar-benar acak atau sudah terencana sejak penyusunannya. Bayangkan semua pilihan yang lo pernah pilih, semua perasaan yang pernah lo rasakan, semua situasi yang lo alami, semua terjadi akibat konfigurasi suatu benda yang lo bahkan ga ngerti apa. Lo ga punya kebebasan memilih karena semua pilihan lo telah ditentukan dan disimulasikan dengan tepat oleh konfigurasi string ini. Ga pernah ada yang namanya pilihan, semua itu terjadi memang begitu jalurnya, setidaknya di semesta yang lo tinggali. Dan semua pilihan lain yang ga lo pilih, tetap terjadi di semesta yang lain. You have exactly infinite number of version of you that live their own life without the capability of choosing what happened and will happen to them, you're just a simulation of string configuration. Semua yang tersusun dalam dimensi ke-0 akan mendefinisikan hingga dimensi ke-10, hingga kita semua bertemu pada suatu dimensi ke-11 yang mendefinisikan kita sebagai sebuah singularity. Dari satu, kembali satu. Jadi lo berdoa atau ga, bukan karena lo sadar arti lo sebagai manusia, tapi karena emang "Tuhan" menggariskan bahwa lo akan berdoa, di saat itu, di tempat itu, dengan cara itu juga. Lo ga punya pilihan.
Terasa aneh kan ketika lo merasa bahwa "Gw adalah manusia tercerahkan karena gw sudah beribadah lebih dari yang lain." dan akhirnya lo dihadapkan pada suatu ide bahwa yang lo lakukan pun hanya sebuah kesemuan belaka. Gw juga gitu awalnya. Sampai akhirnya gw mempertanyakan apa sebenernya mau Tuhan gw. Dalam kitab agama gw, salah satu perintah pertama yang diturunkan oleh-Nya adalah perintah untuk membaca.
﴾Ų§ِŁۡŲ±َŲ§ۡ ŲØِŲ§Ų³ۡŁ
ِ Ų±َŲØِّŁَ Ų§ŁَّŲ°ِŁۡ Ų®َŁَŁَۚ ﴿96:1
(96:1) Recite in the name of your Lord Who created,
Bacalah, dengan nama Tuhan-mu yang Maha Menciptakan. Dia dengan segala ke-Maha-an yang Ia miliki, perintah pertama Tuhan adalah, baca. Apasih yang kita baca? Saat itu belom ada Al-Qur'an, belom ada kitab hadits, belom ada bahan bacaan yang munculnya dari Dia. Or it isn't. Tuhan udah menciptakan alam, dengan segala hukum fisika yang bekerja sedemikian sempurnanya dari ledakan besar hingga Adam menginjakkan kakinya di muka bumi. Tuhan telah menciptakan begitu banyak bahan bacaan yang tak terhitung jumlahnya, untuk kita baca, untuk kita pelajari, untuk kita maknai. Dan dengan sangat spesifik, Dia memerintahkan kita untuk membacanya dengan mengingat bahwa Dia lah yang menciptakan. Kenapa sih? Kenapa harus gitu? Kenapa gaboleh kita pelajari aja tanpa kita harus tau siapa yang menciptakan?
Jawabnya ada di ujung langit.
Lucunya, emang beneran gitu. Jawabnya ada di ujung langit. Kita telah sepakat bahwa alam semesta hampir tidak terbatas, setidaknya alam semesta yang dapat kita amati. Ketika kita telah membalik semua batu, mengenal setiap debu, dan bercumbu dengan setiap elemen yang ada di alam semesta, mungkin baru saat itulah kita mengerti jawaban dari semuanya. Ketika kita telah mencapai ujung dari alam semesta, baru lah kita akan sadar apa yang selama ini kita cari. Tuhan menciptakan kita dengan sebuah misi besar untuk mempelajari alam semesta, dengan sebuah agenda penyadaran bahwa kita memang ciptaan-Nya.
Kemudian ketemu sama pertanyaan baru. Lalu apakah yang kita lakukan sekarang adalah suatu yang percuma? Jelas engga, setiap usaha dalam mengembangkan pemahaman manusia akan alam semesta akan terus membawa kita semakin dekat dengan sosok Tuhan yang kita pertanyakan. Dan Tuhan telah menciptakan sebuah buku panduan sederhana mengenai bagaimana cara Dia bekerja yang namanya kitab, terserah lah lo percaya yang mana. Setidaknya dalam Al-Qur'an yang gw ketahui, ada begitu banyak hal yang dapat kita pertanyakan yang akhirnya membawa kita dalam suatu petualangan pembuktian baik secara keimanan maupun ilmu pengetahuan. Kemungkinannya ga terbatas. Lo masih bisa mempertanyakan gimana cara Nuh membawa jutaan hewan dalam Bahteranya. Gimana Isa menghidupkan orang mati. Gimana Ibrahim kebal api. Semua itu terdengar seperti sihir, tapi sihir itu hanya sains yang belum terjelaskan. Dulu, terbang itu ga mungkin, tapi sekarang pesawat adalah hal lumrah yang kita lihat sehari-hari. Dan berjuta keajaiban lain yang terjadi di masa lalu, satu persatu akan dapat kita jelaskan dan kita aplikasikan dalam kehidupan. Apakah itu mengurangi kehebatan Tuhan? Menurut gw ya engga, justru kita akan semakin takjub bahwa Tuhan memang Maha Cerdas, bahkan dia telah merancang semuanya tanpa satupun kesalahan semenjak awal. Merancang sesuatu yang bekerja literally milyaran tahun itu bukan hal yang mudah. Dan Dia melakukannya semudah itu.
Dalam agama gw, Tuhan (dan para nabi-Nya) mengharamkan segala bentuk untuk menggambarkan diri-Nya. Karena Tuhan tak berwujud katanya. Karena Tuhan bukan mahluk katanya. Dan imajinasi kita terbatas. Kita gabisa bayangin warna baru. Kita gabisa bayangin bentuk baru. Kita hanya dapat mengombinaskan pengetahuan yang kita miliki untuk memvisualisasikan hal yang terkesan baru. Kenapa hal ini menjadi penting? Karena sesungguhnya bukan visualnnya yang haram, tetapi kepalsuannya yang menjebak. Bayangin lo lagi lomba lari, dan ada suatu garis finish di ujung sana yang ga keliatan sama lo. Karena lo gabisa liat garis finish nya, akhirnya lo memutuskan untuk menggambar sendiri garis finishnya, dan lo lari ngelewatin itu. Apakah lo menang? Engga. Sampai tujuan? Lebih engga lagi. Analogi ini sama kayak Tuhan. Dalam perjalanan lo mencari Tuhan, lo gabisa menggambarkan Tuhan dengan visual. Kenyamanan yang tercipta dari sosok yang tergambarkan malah menbuat kita tidak lagi mengejar garis finish yang sesungguhnya. Kita akan terjebak dalam lubang hitam penuh kehampaan yang fana. Lo gaakan sampai tujuan.
Jadi, apakah kita diciptakan hanya untuk berdoa?
Ada suatu doa yang pernah diajarkan ke gw sama guru ngaji gw pas kecil, dan lucunya, gw baru paham maksudnya sekarang. Bunyinya kayak gini.
Jawabnya ada di ujung langit.
Lucunya, emang beneran gitu. Jawabnya ada di ujung langit. Kita telah sepakat bahwa alam semesta hampir tidak terbatas, setidaknya alam semesta yang dapat kita amati. Ketika kita telah membalik semua batu, mengenal setiap debu, dan bercumbu dengan setiap elemen yang ada di alam semesta, mungkin baru saat itulah kita mengerti jawaban dari semuanya. Ketika kita telah mencapai ujung dari alam semesta, baru lah kita akan sadar apa yang selama ini kita cari. Tuhan menciptakan kita dengan sebuah misi besar untuk mempelajari alam semesta, dengan sebuah agenda penyadaran bahwa kita memang ciptaan-Nya.
Kemudian ketemu sama pertanyaan baru. Lalu apakah yang kita lakukan sekarang adalah suatu yang percuma? Jelas engga, setiap usaha dalam mengembangkan pemahaman manusia akan alam semesta akan terus membawa kita semakin dekat dengan sosok Tuhan yang kita pertanyakan. Dan Tuhan telah menciptakan sebuah buku panduan sederhana mengenai bagaimana cara Dia bekerja yang namanya kitab, terserah lah lo percaya yang mana. Setidaknya dalam Al-Qur'an yang gw ketahui, ada begitu banyak hal yang dapat kita pertanyakan yang akhirnya membawa kita dalam suatu petualangan pembuktian baik secara keimanan maupun ilmu pengetahuan. Kemungkinannya ga terbatas. Lo masih bisa mempertanyakan gimana cara Nuh membawa jutaan hewan dalam Bahteranya. Gimana Isa menghidupkan orang mati. Gimana Ibrahim kebal api. Semua itu terdengar seperti sihir, tapi sihir itu hanya sains yang belum terjelaskan. Dulu, terbang itu ga mungkin, tapi sekarang pesawat adalah hal lumrah yang kita lihat sehari-hari. Dan berjuta keajaiban lain yang terjadi di masa lalu, satu persatu akan dapat kita jelaskan dan kita aplikasikan dalam kehidupan. Apakah itu mengurangi kehebatan Tuhan? Menurut gw ya engga, justru kita akan semakin takjub bahwa Tuhan memang Maha Cerdas, bahkan dia telah merancang semuanya tanpa satupun kesalahan semenjak awal. Merancang sesuatu yang bekerja literally milyaran tahun itu bukan hal yang mudah. Dan Dia melakukannya semudah itu.
Dalam agama gw, Tuhan (dan para nabi-Nya) mengharamkan segala bentuk untuk menggambarkan diri-Nya. Karena Tuhan tak berwujud katanya. Karena Tuhan bukan mahluk katanya. Dan imajinasi kita terbatas. Kita gabisa bayangin warna baru. Kita gabisa bayangin bentuk baru. Kita hanya dapat mengombinaskan pengetahuan yang kita miliki untuk memvisualisasikan hal yang terkesan baru. Kenapa hal ini menjadi penting? Karena sesungguhnya bukan visualnnya yang haram, tetapi kepalsuannya yang menjebak. Bayangin lo lagi lomba lari, dan ada suatu garis finish di ujung sana yang ga keliatan sama lo. Karena lo gabisa liat garis finish nya, akhirnya lo memutuskan untuk menggambar sendiri garis finishnya, dan lo lari ngelewatin itu. Apakah lo menang? Engga. Sampai tujuan? Lebih engga lagi. Analogi ini sama kayak Tuhan. Dalam perjalanan lo mencari Tuhan, lo gabisa menggambarkan Tuhan dengan visual. Kenyamanan yang tercipta dari sosok yang tergambarkan malah menbuat kita tidak lagi mengejar garis finish yang sesungguhnya. Kita akan terjebak dalam lubang hitam penuh kehampaan yang fana. Lo gaakan sampai tujuan.
Jadi, apakah kita diciptakan hanya untuk berdoa?
Ada suatu doa yang pernah diajarkan ke gw sama guru ngaji gw pas kecil, dan lucunya, gw baru paham maksudnya sekarang. Bunyinya kayak gini.
"Ya Allah, seandanya ibadahku kepada-Mu karena aku takut masuk api neraka, maka masukkanlah aku ke dalamnya. Dan seandainya ibadahku kepada-Mu karena aku ingin masuk surga, maka jauhkanlah aku darinya."
Awalnya gw bingung. Kalau lo ibadah bukan buat dapet surga dan menghindari api neraka, trus buat apa dong? Gw masih belom nemu jawaban sesungguhnya sih, tapi yang gw yakini sekarang bahwa lo beribadah harus karena lo memang pengen beribadah. Tuhan ga butuh disembah, tapi kita butuh nyembah Tuhan (sorry Gnostic Atheist people, but I'm an Agnostic Theist). Kenapa kita butuh? Karena lo butuh ketenangan. Tuhan bukan pelacur yang akan mengabulkan permintaan semua orang. Tuhan adalah Maha Adil yang telah menentukan porsi bagi semua orang dengan tepat. Dia bekerja dengan cara yang belum dapat dijelaskan sekarang. Yang gw yakini sekarang adalah, jika Tuhan ada, Dia bekerja menggunakan hukum fisika. Dia Maha Adil karena kita tak punya pilihan. Dia Maha Pencipta karena rancangan-Nya tak ada celah. Dia adalah awal sebagaimana Dia adalah akhir. Dia adalah penyusun dalam dimensi ke-0 sebagaimana Dia adalah ujung dalam dimensi ke-11. Dari Dia kita berasal, dan kepada-Nya kita kembali.
Jadi, apa jawabannya?
Jawaban gw jelas. Hidup ga cuma buat berdoa. Hidup itu perjalanan untuk lo menemukan siapa diri lo, apa arti lo, apa tujuan lo, apa makna lo. Dan dalam perjalanan panjang itu, lo akan menemukan sebuah garis akhir berjudul "Tuhan". Untuk lo mengenal Tuhan lo, lo perlu mengenal diri lo. Kalau lo gatau siapa diri lo, mau darimana lo memulai perjalanan lo.
Pertanyakan dan temukan. Mulailah perjalanan baru dalam hidup lo dan kejarlah sampai ke tujuan yang sebenarnya.
Comments
Post a Comment