I've been struggling with inability to sleep properly since I can remember. It starts with a hyperactivity during the day and the routine of Tahajud and Subuh prayers my late Grandma tried to push to me since I was 4 years old. It's not like I can't fix it. But it's easy for it to crawl back and bite me back. And this day is not so different from others.
The more actions going to happened tomorrow, the wider these eyes opened. So yeah... I'm stuck with this, whatever this is...
I will just use this moment to write some things up. To regulate my feelings. To regulate my emotions. To regulate my sanity. Before it fades away...
Mengapa Siangku Menjadi Gulita
Aku menyusuri kembali jalanan kota Jakarta malam tadi sambil menikmati guyuran hujan yang membasuh perih itu pergi. Ketika ku coba cari setiap grafiti yang ku sematkan dalam perjalanan masa lalu yang terus berulang tanpa dapat ku hentikan. Usang sudah semua mimpi yang ku pupuk dengan cinta dan kasih sayang menurut ku...
Jengah menggambarkan perasaan ku akan kota ini layaknya kamu menjerit berharap keluar dari penjara mu. Adanya aku pun berempati dengan kesepian yang menusuk kita setiap pagi. Tajam tatapannya menghunus tepat ke ruang di antara kedua bola mata mu seperti ada yang menginginkan kamu tak lagi jadi kamu. Utuh semua derita yang kamu rasakan namun tak menghentikan mu untuk terus melaju menyambut hari esok. Harga diri atau entah perasaan besar untuk bertahan hidup demi mereka yang percaya pada mu membuatmu mengabaikan tangisan kecil dalam rongga dada mu.
Cinta dan keputusan yang kita buat di usia 20an mengutuk kita dengan kematian tanpa pemakaman. Intisari dari semua yang kita usahakan seperti sirna menjadi debu yang menumpuk di permukaan perabot tua di sudut ruang rumah usang itu. Nantinya kita kembali bertanya, "Mengapa siang ku menjadi malam gulita penuh ratapan?" seraya kita menatap kosong ke gelas air setengah kosong itu. Tetapi fajar menyadarkan kita bahwa masih ada hari esok yang harus dijalani, mau tidak mau, suka tidak suka. Ada hari yang menanti kita kembali sumringah dan kamu pun akan berkata, "Sudah saatnya."
Peluk erat lagi diri mu sendiri yang kelelahan tersandung-sandung kehidupan. Aku pun tertatih menjalaninya walau sebenarnya tubuh ku menjerit karena kosong tak terisi. Di dalam amin ku, ku sematkan harapan sederhana bahwa ini semua akan indah pada waktunya, pada tempatnya, bersama orangnya. Aku harap kamu juga bisa sembuh walau sesungguhnya hampir mustahil menyeka air mata yang kamu tumpahkan. Memang hidup seperti itu rasanya, menempa kita agar kita tidak serta merta memberikan segalanya lagi. Untuk mu yang menangis dalam setiap sujud mu, ku sematkan doa ku untuk mu agar nanti kamu bisa tersenyum dari lubuk hati mu lagi.
Telaah lagi setiap proses yang kita lalui walau baru sebentar dibandingkan keseluruhan perjalanan kita. Impian mu akan terwujud entah bagaimana dan seperti apa wujudnya. Ada secercah kelap kelip indah yang menanti kamu disaat kamu melepaskan topeng hati mu. Runtuhnya benteng yang kamu bangun menjadi pertanda kamu siap menyambut hari baru dan kali ini bukan karena harus, tetapi karena kamu mampu.
and that's all folks. I intended to write a poem but it turns into a prose. I never good at expressing my feelings except through writings and this is the truest I am to myself. I'm ready to embrace the new day regardless how it will eventually become. All the happiness and sadness that were, are, and will are part of the journey meant for us. I believe in that.
Ciao
Comments
Post a Comment