Skip to main content

Percakapan Tengah Malam

 Heyyy, ada banyak sekali hal yang ingin aku tanyakan kepada mu tapi ini akan terasa seperti interogasi. Tapi, nampaknya, aku sudah terlanjur jatuh hati. Jangan tanya kapan dan bagaimana itu terjadi. Aku pun lupa urutan kejadian yang kita lalui.

Apa yang kamu usahakan? Benar-benar dari kamu? Atau karena dipaksa? Kamu aslinya ingin apa? Kalau boleh memilih, apa yang akan kamu tinggalkan? Kalau waktu bisa kamu putar, apakah kamu akan pilih jalan yang sama? Kenapa?

Aku sangat ingin bisa membantu mu. Meniti jembatan kecil yang sulit dan sempit hanya untuk menyentuh hati mu. Bergandengan beriringan menjadi pribadi yang lebih matang dan dewasa. Menghadapi sisi kekanak-kanakan kita yang belum terobati lukanya. Melalui rintangan demi rintangan yang Tuhan persiapkan untuk kita sebagai ujian yang kelak akan membuat kita sadar bahwa itu semua memang harus dilalui walau berat sebenarnya.

Aku melihat bibir mu tersenyum, tapi mata mu sayu. Seakan kesedihan mu bisa kamu sembunyikan dengan sentuhan bedak dan torehan gincu. Aku harus menerawang dalam sedalam samudera hati mu. Menerka-nerka mana kepingan jiwa mu yang boleh aku tahu.

Aku tidak paham mengapa tidak banyak yang jatuh hati pada mu. Tak butuh lama bagi ku untuk memahami keindahan mu walau kamu sedang layu. Aku pupuk dan ku sirami sepanjang waktu. Agar aku jadi yang pertama melihat rekah kelopak warna-warni mu.

Aku hanya ingin kamu tahu kalau mencintaimu semudah merasakan hangat mentari pagi. Terlepas dari bagaimana aku menanggapinya, hangatnya tetap membasuh tubuh ku setiap hari. Dan aku berharap aku pun juga bisa membuat mu kembali bersinar seyogyanya. Walau tidak ada yang tahu aku siapa...

Andai semua orang bisa melihat mu dengan mata ku. Andai semua rasa sakit mu bisa berpindah ke hati ku. Andai semua kekhawatiran mu bisa berganti dengan berani ku. Aku sungguh-sungguh tidak mengerti mengapa kamu bisa membuat ku kembali meracau.

Tulisan-tulisan yang ku buat adalah ekspresi kompleks yang kurasakan. Paradoks dari kontradiksi di setiap kalimatnya membawa mu lebih dekat dengan inti atom hati ku yang tidak stabil. Dia bisa meledak kapanpun dan aku tak tahu bagaimana mengendalikannya. Yang aku tahu, aku selalu seperti ini dalam mengekspresikan cinta. Rasa sayang ku meluap-luap sehingga terkadang terasa intens bagi kebanyakan orang, berlebihan bahkan. Tapi aku tidak seperti ini ke semua orang. Hanya segelintir yang bisa dan pernah. Dan kombinasi perasaan ini akan selalu seperti ini.

Aku menyayangi mu seperti aku memang diciptakan hanya untuk itu. Sebelum ku lahir dan setelah ku mati adalah waktu ku menjawab pertanyaan itu. Apakah kamu yakin mau menjalani hidup untuknya, dan orang-orang terkasihnya? Seribu kali aku mati dan hidup lagi,jawaban ku akan tetap sama. Aku bersedia.

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta rañjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...