Sekelilingnya dipenuhi semak belukar. Sesekali tanah longsor menutupi jalurnya. Hilang sudah akar-akar pohon yang dulu menjaganya. Bersamaan dengan gugurnya naungan daun-daun di atasnya.
Aliran sungai Aquarius tak selalu sama. Kadang kala deras dan berbahaya. Sering kali terbendung hingga seperti kering. Namun ada kalanya dia tenang dan aman.
Aquarius pernah hilang arah. Erosi mengikis badannya dan menggesernya jauh ke tempat yang tak seharusnya. Dulu dia tak tahu kemana dia akan bermuara. Gunung dan batu-batu besar di hulu kadang terbawa oleh alirannya dan merusak rumah yang berada di sekitarnya. Hilirnya dangkal terisi endapan tanah yang dibawanya sepanjang perjalanan. Hingga akhirnya tertutup rapat dan dia terpaksa berubah haluan.
Dari kejauhan, hentakan kaki terdengar lirih. Tertatih-tatih. Masih gagah berdiri, Sagitarius menatap tajam ke arah sungai Aquarius. Di kepalanya bermunculan seribu pertanyaan.
Apakah sungai ini bersih? Apakah airnya aman diminum? Apakah cukup untuk membasuh luka ku? Apakah bisa ku percayakan busur dan anak panah ku di tebing sungainya? Apakah ada yang lain yang memilikinya? Apakah dia bisa memberikan penghidupan? Apakah dia stabil? Apakah dia kuat? Seberapa lama dia bertahan hingga musim kering? Seberapa deras dia ketika musim hujan? Seberapa dalam dasarnya? Apakah dangkal? Atau malah dalam hingga menenggelamkan? Beserta ribuan pertanyaan lain yang terlontar dalam pikiran.
Wajar saja, kaki-kaki Sagitarius sudah lelah setelah berlari tanpa henti. Tubuhnya dipenuhi luka dari setiap perang yang dia hadapi. Rumahnya pernah hancur dan diacak-acak oleh orang yang dia paling kasihi. Pusakanya dibuang dan ditelantarkan sia-sia seperti tanpa pemilik. Dia terus berlari tanpa tahu arah. Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa hingga dia tiba di manapun itu berada.
Aquarius ingin menyapa hangat, menawarkan sedikit airnya, berharap bisa meredakan dahaga yang terlihat jelas di mata Sagitarius. Namun Aquarius hanya terdiam. Apa benar dia bisa membantu Sagitarius yang tangguh? Kalaupun dia berani, apa yang bisa ditawarkan dari dirinya? Vegetasi liar menutupi sekelilingnya seperti tak terurus. Sudah lama ikan-ikan tidak berenang di aliran airnya yang dangkal. Bebatuan di sela-selanya dipenuhi lumut karena tak lagi deras tenaga yang dimilikinya. Jika ada sedikit saja hal yang dapat diangkuhkan, mungkin satu-satunya hal yang Aquarius punya adalah dia masih bertahan hingga sekarang, karena yang lainnya sudah hilang ditelan waktu.
Sagitarius terus memandang tajam ke sungai Aquarius. Dirinya ragu untuk mendekat. Dia tahu yang dia butuhkan, sedikit air untuk membasahi tenggorokan yang lama kering dan membasuh luka-luka yang dimilikinya. Sedikit dedaunan obat dari pinggir untuk menutup lukanya yang sudah mengering namun masih perih terasa. Tapi rasa takut menimpa dirinya. Bagaimana jika nanti ada predator yang bersembunyi? Bagaimana kalau nanti banjir datang dan pusakanya hanyut terbawa pergi? Bagaimana kalau tiba-tiba ada longsor hingga dia terjebak padahal sedang beristirahat? Sagitarius terjebak dalam pemikiran dalamnya. Dirinya tahu dia butuh bantuan, tapi tak cukup kuat jika dunia kembali mengkhianati dirinya. Semua garisan takdir yang membawanya ke sungai Aquarius dipenuhi belukar yang menggores lebih dalam dari sayatan pedang. Sagitarius hanya bisa terdiam kaku, bertameng keangkuhannya.
Aquarius berusaha membaca apa yang ada di dalam pikiran Sagitarius. Berusaha mencari tanda-tanda yang tersembunyi, berharap bisa memahami lebih jauh apa yang Sagitarius alami. Tatapan mata yang sayu seperti lama terjebak dalam kesedihan. Garis-garis tangan yang kasar menunjukkan kerja keras yang dialaminya. Guratan-guratan halus di sekitar pipi dan dahi berbentuk tangisan, bukan senyuman. Postur tubuh yang selalu bersiap lari apapun keadaannya. Aquarius menyadari bahwa Sagitarius sedang lari, bukan dari musuh ataupun hewan buas, tapi dari masa lalu dan dirinya sendiri.
Tapi Aquarius juga tak jauh berbeda. Masa kejayaannya sudah lewat, atau tidak pernah mencapai puncaknya bisa dibilang. Aquarius tak pernah mencapai puncak potensinya. Terakhir dia berada di puncak dunia, gravitasi menariknya jatuh. Terjun bebas tanpa ada yang menyambutnya. Dia hanya bisa terus mengalir, mengikuti kontur alam yang menjadi rumahnya. Terkadang dia menggenang diam tak tahu arah harus kemana. Terkadang dia mengalir deras menghantam dan membelah batuan. Terkadang dia begitu tenang dan menarik kehidupan. Namun tak jarang dia kebingungan mencari muaranya. Aquarius terlalu mudah menerima siapapun yang menghampirinya. Tak pernah berburuk sangka ataupun curiga. Sedikit demi sedikit dia berubah karena pertemuan-pertemuan yang tak dia duga. Sambutannya sering dibalas seadanya jika tidak bisa dibilang hina. Banyak yang meminum airnya, banyak pula yang membuang sampah di tubuhnya. Ikan-ikan segar berenang-renang bersamanya namun dirinya dibendung ketika terlalu deras. Aquarius seperti tak memiliki kendali atas bagaimana dirinya bertindak dan berlaku. Dia menggantungkan nasibnya pada hal-hal eksternal yang tak kunjung memberinya jawaban. Dia hanyut dalam aliran dirinya sendiri yang tak berujung.
Sagitarius kalah dengan rasa penasarannya, rasa haus dan kelelahan yang dia rasakan menggodanya untuk beristirahat sejenak. Dia beranikan diri menginjakkan kakinya di aliran air Aquarius, mencoba membasuh luka-lukanya. Dia rasakan sejuk yang lama tak dia rasakan, namun curiganya tak goyah. Matanya terus melihat sudut-sudut gelap disekitarnya. Gemericik air menaikkan bulu kuduknya. Dia tenang namun waspada.
Aquarius terlalu girang menghadapi pertemuan ini. Sudah lama semenjak terakhir kali ada yang menyentuhnya. Di relung hutan yang gelap gulita ini, tak pernah dia menyangka akan ada mahluk lain yang mau menghampirinya. Dia mencari apalagi yang bisa dia berikan agar pertemuan ini semakin meriah. Apakah dia harus semakin deras? Apakah dia harus turun dari langit dalam bentuk hujan? Apakah dia cukup menjadi tenang dan jernih? Bagaimana caranya agar dia bisa lebih bersih dari ini? Dan tanpa sadar keraguan dan kebimbangan dirinya membuat dirinya bergejolak.
Sagitarius terhentak, kaget dengan tingkah laku Aquarius. Terbukti benar sudah semua curiga dan waspadanya selama ini, tak seharusnya dia lengah. Tidak ada ruang untuk membuat kesalahan. Pelariannya belum usai walau tak ada tujuannya. Satu kesalahan akan menghancurkan segalanya. Atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Dan dengan sadar dan penuh keyakinan, dia melompat keluar dan lari. Menjauh sejauh yang dia bisa tanpa menoleh ke belakang.
Perpisahan itu terjadi tiba-tiba tanpa Aquarius pernah siap. Dia tak tahu apa yang terjadi dan mengapa harus terjadi. Tubuhnya kembali terdiam dan tak beriak. Hanya bisa menatap derap langkah yang diambil oleh Sagitarius. Dia menyalahkan dirinya sendiri. Andai dia lebih dalam, tak sedangkal sekarang. Andai dia lebih tenang, tak berisik seperti sekarang. Dan ribuan perandaian lainnya mengisi sungai Aquarius.
Hingga akhirnya senja tenggelam. Sagitarius telah berlari pergi entah berapa ribu hasta, dan Aquarius masih termenung meratapi kejadian barusan. Senti demi senti Aquarius mencoba mengubah alirannya mengejar Sagitarius. Tapi waktu memang bukan sahabat bagi keduanya. Pertemuan yang seandainya terjadi di waktu berbeda mungkin menghasilkan cerita, sekarang hanya meninggalkan luka bagi keduanya.
Suatu hari nanti, Sagitarius akan menemukan tenangnya, tempatnya bisa beristirahat dan bersandar tanpa harus menjadi tangguh, bersanding dengan kedua pusakanya yang dia sayangi. Tak lagi takut dan tak lagi berlari. Hanya melangkah dengan bahagia karena sudah damai yang ia temukan.
Suatu saat nanti, Aquarius akan menjadi lautan, begitu luas, begitu berwarna, dan begitu tenang. Dia tak lagi kebingungan mencari muaranya karena dia lah tempat bermuara. Apapun yang mahluk lain lakukan kepadanya tak lagi mempengaruhinya karena dia tenang dengan dirinya. Tak lagi ragu apakah dia mampu karena dia sudah dan tahu dia mampu.
Apakah keduanya akan bertemu pada saat itu? Bukan itu inti ceritanya. Aquarius dan Sagitarius akan bahagia dengan atau tanpa satu sama lain. Mereka akan merasa cukup dengan dirinya sendiri. Bahagia dengan cara masing-masing sesuai dengan tempat dan waktunya. Jikalau mereka dipertemukan lagi oleh takdir, semoga dalam keadaan cukup mereka dipertemukan. Agar tak ada lagi luka yang masih basah. Agar tak ada lagi sesal yang tersisa.
Comments
Post a Comment