Skip to main content

Meratapi Pemikiran dalam Peti Selebar Bahu

 Tidak banyak ruang untuk bergerak. Mayoritas berisikan bantal!bantal empuk untuk membuat tubuh ku nyaman. Hangatnya kain yang menyelimutiku tetap tak mampu mengalahkan dinginnya ujung-ujung jemari ku yang biru. Aku mempertanyakan mengapa ku berakhir disini. Bukan tentang sebab tapi terkait waktu. Benar kata orang, bahwa manusia yang buruk pergi dengan penuh penyesalan. Aku tak berhasil menjadi apa-apa yang ku inginkan. Hanya menjadi bagian mesin raksasa kapitalisme yang berputar karena harus, bukan karena mau.

Aku memikirkan mu. Apakah kamu menyesal pernah mengenalkan? Dengan segala hal hina yang melekat pada diri ku, mengapa masih dapat kau yakin bahwa aku bisa menjadi sesuatu. Dari semua hal yang ku takutkan, tak pernah aku takut aku kecewa, karena memang selalu begitu adanya. Tapi yang aku takutkan adalah aku menyakiti mu karena aku tak bisa menjadi apa yang kamu pikirkan aku mampu.

Dan pandangan ku terbatas tak sampai 30cm ke atas. Peti yang luas ini seakan menghimpit napas ku yang telah berhenti. Di sela-sela suara-suara asing bersahut-sahutan di luar, aku terus berharap bahwa suatu saat nanti aku bisa membuat kamu bangga. Membuat kamu bahagia. Entah harus ku bayar pakai berapa nyawa. Karena aku sudah lelah mengejar bahagia ku sendiri.

Ku biarkan dia terbaring bersama ku di dalam peti ini. Sampai waktu tiada lagi.

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta rañjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...