Tidak banyak ruang untuk bergerak. Mayoritas berisikan bantal!bantal empuk untuk membuat tubuh ku nyaman. Hangatnya kain yang menyelimutiku tetap tak mampu mengalahkan dinginnya ujung-ujung jemari ku yang biru. Aku mempertanyakan mengapa ku berakhir disini. Bukan tentang sebab tapi terkait waktu. Benar kata orang, bahwa manusia yang buruk pergi dengan penuh penyesalan. Aku tak berhasil menjadi apa-apa yang ku inginkan. Hanya menjadi bagian mesin raksasa kapitalisme yang berputar karena harus, bukan karena mau.
Aku memikirkan mu. Apakah kamu menyesal pernah mengenalkan? Dengan segala hal hina yang melekat pada diri ku, mengapa masih dapat kau yakin bahwa aku bisa menjadi sesuatu. Dari semua hal yang ku takutkan, tak pernah aku takut aku kecewa, karena memang selalu begitu adanya. Tapi yang aku takutkan adalah aku menyakiti mu karena aku tak bisa menjadi apa yang kamu pikirkan aku mampu.
Dan pandangan ku terbatas tak sampai 30cm ke atas. Peti yang luas ini seakan menghimpit napas ku yang telah berhenti. Di sela-sela suara-suara asing bersahut-sahutan di luar, aku terus berharap bahwa suatu saat nanti aku bisa membuat kamu bangga. Membuat kamu bahagia. Entah harus ku bayar pakai berapa nyawa. Karena aku sudah lelah mengejar bahagia ku sendiri.
Ku biarkan dia terbaring bersama ku di dalam peti ini. Sampai waktu tiada lagi.
Comments
Post a Comment