Skip to main content

My Eternity, My Torment, My Salvation

This is a series of poetry that I write about someone. I will publish it when I'm ready and the story has (at least what I thought) a clear ending. Hope you enjoy this.


Aku (Sesali) Malam Itu

Hujan tipis membasuh di Januari
Sisa kesedihan Desember yang belum urung
Andai aku lebih menyiapkan diri
Mungkin aku tak lagi terkurung

Andai aku bisa bertemu kamu dahulu kala
Tidak akan seindah bayangan ku memang
Setidaknya yang tersisa di diriku masih layak untuk dibaca
Tidak untuk dimaklumi tapi setidanya tidak gamang

Andai aku tahu cerita mu lebih lengkap
Tidak perlu setiap menitnya, cukup hari ke hari
Sepertinya aku bisa melangkah lebih tegap
Tidak untuk menerobos benteng hati yang gagah berdiri

Andai aku mendengar mu lebih jelas
Tidak samar-samar karena fungsi telinga ku yang kurang
Seharusnya indah suara mu terekam lebih tegas
Tidak untuk diajak bicara setiap hari, hanya menyuarakan setiap pesan yang datang

Andai aku tidak terlalu fokus dengan aku
Tidak bergantung situasi untuk menelaah kamu
Sesampainya aku di ujung kota malam itu
Ku bawa pulang setiap keping memori tentang bAmu

Andai aku beranikan diri mengantar mu pulang
Tidak akan jadi apa-apa, biasa saja
Seperginya kamu dari sudut mata ku
Akan lebih besar rasa rindu yang merona

Andai aku tidak hadir malam itu
Tidak akan aku jatuh melebihi yang lalu
Sekeras hati ku menyebut nama mu dalam setiap amin ku
Tetap tak sekeras penyesalan dari semua yang tak dilaku


Aku (Berubah) Malam Itu

Sesaat ku merasa ada yang berbeda
Sekian lama ku terjebak dalam roda hamster
Mengulang setiap keping dalam bentuk yang beraneka
Linglung menjalani yang ku tahu, seperti Alzheimer


Tidak ada yang istimewa dalam pertemuan
Kopi nya masih gelap pahit sedikit asam
Asap rokok menggantung sepelipis
Udara malam memang tak sedingin sehabis hujan
Namun hati ku kembali berdenyut setelah lama dipenuhi ruam
Kamu menangkap ku dengan senyum mu yang tipis


Ditemani desir ombak di kala senja
Kawan baik ku menanyakan dengan penasaran
Mengapa aku bisa kembali merasa
Mengapa aku begitu sedih mendeskripsikan
Bagimana jika hanya sementara
Bagaimana jika tidak seindah angan

Bagi ku memang sulit menyusun
Rangkaian kata untuk sekadar menjelaskan
Seperti kata sayang, maknanya ganda tetapi anggun
Dia bisa berarti cinta kasih tetapi juga terlalu berharga untuk ditinggalkan
Sepertinya tidak sesederhana untuk bisa dituntun
Tapi tidak serumit yang aku bayangkan

Kamu begitu rapuh namun begitu indah
Aku tahu ada lautan dalam yang begitu rumit tersembunyi
Kamu begitu terluka walau sangat terasah
Aku tahu tidak mudah mengemukakan apa yang kamu alami
Kamu begitu hanyut meski tahu arah
Aku tahu banyak yang harus kamu selesaikan dan hadapi

Aku merasa aku siap mengarungi
Aku merasa aku tahu yang perlu ku miliki
Aku merasa aku bisa menjalani
Aku mau selalu menemani

Tapi aku juga takut terkadang
Pikiran gila ku sering muncul di penghujung hari
Aku memikirkan apa yang masih tahunan mendatang
Walau untuk esok pun aku tak tahu pasti
Aku seperti mencintai sosok ideal ku yang berbayang
Bercampur antara kamu yang benar adanya dengan yang aku imani

Sekiranya kamu ragu
Dengan aku yang seperti ini
Tenang saja duhai tuan putri
Aku pun juga begitu
Masih belum bisa memberi janji
Aku masih menata sekarang dan kini

Jika berkenan wahai tuan putri
Beri sedikit waktu untuk aku bersiap diri
Aku sedang melangkah walau tidak berlari
Mengejar ketertinggalan ku yang terabai

Setibanya aku ditujuan ku, aku harap kamu juga sudah tiba dipelabuhan mu, dan bersama kita akan mengarungi ruang dan waktu.


Aku (Ulangi) Malam Itu

Matahari bersinar terang hari itu
Tak sedikit pun awan menutupi cerahnya
Namun tak sedikit pun mendung pergi dari wajah mu
Sepertinya diri mu terluka
Pelukan hangat dari mu kemarin masih terasa
Obrolan tak tentu arah mengisi malam kita
Namun dingin mu pagi itu menusuk dada
Dan kata mu sudahi saja
Memang salah ku
Belum tuntas aku dengan diri ku
Banyak janji dan bualan ku
Padahal ringkih dan goyah aku
Kamu seperti ombak yang riuh
Suara-suara di kepalamu berteriak gaduh
Rumah mu sepi walau penuh
Sandaran mu hanya kamu dan kamu mulai jenuh
Kemudian ku datang menjadikan mu jangkar
Menjaga ku dari terombang-ambing bimbang
Menumpahkan seluruh duka berbalut kelakar
Berharap aku dapat bersandar ketika tumbang
Kamu butuh kompas, dan aku hilang arah
Kamu butuh atap, dan aku mencari rumah
Kamu butuh tenang, dan aku penuh gejolak
Kamu punya rencana, dan aku punya pemikiran yang berbeda
Pada akhirnya aku hanya bisa berduka
Meratapi cerita yang belum dimulai
Merenungkan semua kata-kata
Menyesali luka yang aku beri
Doa ku untuk mu di musim panas
Kamu bisa menemukan sejuk mu
Doa ku untuk mu di musim hujan
Kamu bisa menemukan teduh mu
Aku tidak lagi mampu berharap
Ataupun membayang kalau aku bisa
Membuat dirimu kembali lengkap
Karena aku pun masih memahami cinta
Jika suatu hari nanti
Kamu coba buka lagi
Hati mu yang telah lama mati
Lupakan kalau aku pernah terjadi
Kamu pantas dicintai
Oleh mereka yang benar-benar mengamati
Bersama mereka yang terus menemani
Terutama oleh diri mu sendiri

Gemamu Terisi Warna
Sampai jumpa di lain hari
Hari ketika kamu penuh damai
Dan aku sudah selesai




Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta raƱjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...