Skip to main content

setelah 2 hari sekolah

hari ini hari ke 2 gw sekolah. masih belom bisa menyesuaikan waktu tidur. semalem aja gw tidur jam 1. kalo pagi jadi susah bangun. ok, sekarang gw pengen cerita2 tentang kehidupan para biota2 yg hidup di sekolahan dari mulai guru sampe tukang mi yg populer. hari ini merupakan hari paling aneh bagi gw gak tau kenapa pas menjelang istirahat pertama, dada gw sakit bgt kayak di tusuk2. gak tau kenapa tiba2 begitu aja. mungkin gw kena voodoo kali ya. lepas dari itu penghasilan gw hari ini naik. kemarin gw dapet 19 rb dari nganter makanan. hari ini gw dapet 27 rb dan itu udah gw pake jajan dikit. lumayan buat beli buku tulis ama ngeprint. setelah belajar dari mulai jam setengah 7 sampe jam 2 akhirnya gw bergegas mo pulang tapi nasib berkata lain. speaker pengumuman berkata "buat anak2 ec kelas 7,8,9 harap segera berkumpul di kelas 9.3" sebel bgt. baru mau cepet2 pulang biar bisa cepet2 main ghost trapper.

di pertemuan ec ternyata membahas pelantikan buat besok sabtu dan minggu. lama bgt rapatnya. setelah berjam2 membahas uang,makanan,tugas dll. capek bgt dengerinnya. setelah 2 jam dengerin semuanya jam 4 gw bisa meninggalkan sekolah. dan sampe di rumah jam setengah 5. sepertinya cerita sudah mulai membosankan karna emang gw lagi males bgt nge update blog gw.. so see you later aja deh and bye bye

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta raƱjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...