Hei, apa kabar?
Entah mengapa bagian pembuka dari suatu surat selalu bagian paling canggung. Tapi sudah jadi rutinitas sepertinya menuliskan ini setiap tahunnya. Namun kali ini berbeda karena tidak ada bentuk fisiknya, hanya tertulis di sebuah media yang berharap bisa ditemukan oleh tujuannya.
Pertanyaannya masih sama, apa kabar? Sudah lama sunyi ini bertahan. Tidak ada hak juga sebenarnya untuk bertanya. Tapi... Ya..... Tidak ada salahnya mencoba bukan?
Banyak yang terlintas di dalam kepala sebenarnya, tidak hanya di sini, dan mungkin juga di sana. Gelas minuman terakhir yang menjadi jembatan pembicaraan kita sepertinya juga bingung kenapa. Semoga baik-baik saja, dan jika memang ada masalah, semoga lekas selesai.
Apakah sudah bahagia? Atau setidaknya apakah sudah ketemu bahagianya? Apa yang menghalangi dari bahagia? Jika ternyata sudah bahagia, turut senang mendengarnya.
Biasanya wejangan untuk seseorang tidak jauh-jauh dari semoga bertambah bijak, semoga bisa makin dewasa, semoga lancar usahanya, dan semoga tidak lagi mengulangi kesalahan-kesalahan yang telah lalu. Tapi... Terlalu basi rasanya mengucapkan itu semua, karena yang lain pasti juga berkata hal yang sama.
Jujur, bingung rasanya. Maka wajar lah jika ini semua terdengar kaku. Terdengar tidak tulus bahkan. Tapi percayalah, semangatnya masih sama seperti yang biasanya tertuliskan. Penyampaiannya saja yang berbeda.
Ingin rasanya kembali berbincang, membahas hal-hal yang mungkin terlewatkan. Atau bahkan yang selama ini belum pernah dibicarakan. Masih segar ingatan tentang kali pertama kita duduk dan saling bertukar kata. Sayangnya sampai sekarang, apa yang ku tahu tentang mu tidak jauh banyak bertambah. Masih banyak misteri dan masih banyak tanya yang dijawab dengan tertawa. Tidak keberatan sebenarnya, cenderung suka malah. Hal itu yang membuat ku hampir mati penasaran dan tak dapat mengalihkan pikiran.
Beberapa kali kita berjumpa untuk menceritakan keluh kesah, namun berujung pada hanya melewatkan waktu hingga masalahnya tak lagi ada di pikiran. Dari mulai pembicaraan ringan tentang bagaimana hari-hari berlalu, kemudian merangkak ke topik-topik yang tidak jelas asalnya. Sama-sama menghindari ketidaknyamanan. Mungkin itu alasannya mengapa selama ini aku selalu menutupi. Baik tentang diri sendiri maupun tentang apa yang ada di dalam hati. Sulit sebenarnya membendung rasa penasaran. Rasa ingin tahu. Keinginan untuk menyelami lautan dalam bernama masa lalu dan pikiran-pikiran yang menghantu. Tapi, lagi-lagi temboknya adalah waktu. Lagi pula, memang tidak ada keharusan bagi kita untuk mempercayai satu sama lain. Sering dikecewakan, sering terluka, dan sesederhana tidak mau menunjukkan saja menjadi beberapa dari sekian ribu alasan yang kita buat untuk tidak membuka diri.
Sudahkah bercermin akhir-akhir ini? Seharusnya kamu masih menakjubkan seperti biasanya. Banyak hal yang dilalui dan banyak kesedihan yang terjadi, namun setidaknya kamu tidak redup. Kamu masih luar biasa, dan aku percaya banyak hal yang dapat kamu capai. Tapi jangan terlalu memusingkan diri dengan perkataan orang lain. Ikuti saja kata hati. Kalau kata orang bijak, lakukan lah yang membuat mu senang, susahnya pikirkan nanti. Jangan terlalu keras terhadap diri sendiri. Kamu sudah banyak berusaha untuk sampai di sini. Manusia boleh saja menghakimi, tapi kan bukan mereka yang menjalani.
Semakin dewasa semakin sadar bahwa hidup cuma sementara. Banyak yang memilih untuk menjalaninya dengan biasa-biasa saja, menghindari masalah, dan berlomba dengan sesamanya. Rasanya lebih nikmat jika hidup untuk dinikmati saja. Susah tidak pernah bisa ditebak kapan datangnya, tetapi senang selalu bisa diwujudkan apapun keadaannya. Jalani hidup mu sepenuhnya. Jangan menjalani hidup yang diinginkan orang tua, kerabat, teman, atau siapapun itu. Toh, itu hidup mu bukan?
Banyak yang sebenarnya ingin dituliskan dan disampaikan. Banyak doa yang ingin disebutkan. Namun, sebaik-baiknya doa adalah yang dipanjatkan. Walau mungkin tahun ini sedikit berbeda, dan sepertinya begitu juga tahun-tahun berikutnya, setidaknya niatnya masih sama. Berbagi bahagia walau hanya lewat kata-kata. Jangan takut untuk berubah. Jangan berhenti karena tidak ingin berbeda. Biar waktu yang menjawab semuanya. Dan semoga apa yang dicita-citakan dapat terwujud nyata di dunia.
Tidak pernah lupa mengingatkan untuk selalu makan yang enak-enak. Seperti kata pepatah, di dalam perut yang senang, ada jiwa yang tenang. Masih banyak makanan enak di luar sana dan tempat-tempat unik untuk menikmatinya selain makanan cepat saji dan bangku tempat mu bekerja. Penuhi hari-hari mu dengan temuan terindah umat manusia.
Selamat berganti tahun. Terima kasih sudah menjadi diri mu.
Dari
Ksatria Malam
Comments
Post a Comment