Skip to main content

That Kind of Mental Breakdown That Happened After You Achieve Everything

20 menit yang lalu gw baru saja merebahkan badan gw di kasur. Setelah seharian lelah mengurusi sejuta macam urusan terkait skripsi, organisasi, lembaga, kepanitiaan, bisnis, dan semacamnya.

Gw nangis.

Ga ngerti. I mean, nothing triggered me. As if it waits for me to be defenseless, and then they just pouring out of my eyes. Entah.....

Memulai proses introspeksi dengan bertanya, apa yang membuat gw sedih? Skripsi gw sudah selesai sampai bab 3 dan tinggal menunggu sidang proposal di tanggal 4 Januari nanti. Proses eksplorasi calon ketua yang telah gw persiapkan selama 1 bulan terlaksana dengan lancar. Keuangan kepanitiaan yang gw pegang sedang menunggu aliran dana saja. Besok ada interview buat join start-up orang. Bisnis kopi dan apparel udah mau masuk tahap pelaksanaan. I think, nothing's wrong... Tapi apa yang membuat gw sedih.....

Well, it's been 3 weeks since the last time I met my girlfriend. The circumstances are not so friendly right now. And for 3 years ahead too...

Jujur gw kangen... gatau.... se-stuck itu. Gatau harus apa, gatau mau ngapain, gatau harus diapain, gatau mau minta tolong ke siapa, gatau mau minta tolong apa, gatau apa-apa.

I mean, everything is alright... at least I think everything is alright. Despite we can't meet each other, I know she's doing fine with her study, and I should try to finish my study too. Dan semua hal yang gw rencanakan untuk gw capai di tahun ini sedikit demi sedikit mulai tercapai. Gw berusaha menyibukkan diri gw beberapa hari belakangan ini biar gw fokus sama kerjaan gw, dan gw bisa fokus membangun masa depan gw untuk pacar gw kelak. Gw berusaha untuk ga terus-terusan sedih dan tertahan oleh situasi yang ada sekarang.

Trus pas gw udah mencapai semua yang bisa gw capai di tahun ini. Gw jadi gatau harus ngapain.

Gw biasanya nanya dia gw harus apa.

Se-gabisa itu...

Dan hal yang bisa gw lakukan cuma bengong, dan berusaha sekuat tenaga untuk ga mental breakdown.

AARRRGGHHHH!!!!!

Orang bilang, "Ujian itu datang sesuai kemampuan orangnya." dan gw udah sampai di tahap dimana gw mending dianggap lemah sama Tuhan biar gw dikasih masalah yang sederhana aja. Gw udah sampai di tahap dimana gw udah muak ketemu masalah. Gw udah sampai di tahap dimana gw capek. Kenapa setiap langkah yang gw ambil harus setara dengan 100 langkah orang lain susahnya. Sejuta judment orang yang mereka sematkan ke tubuh gw karena mereka simply gatau apa yang udah gw lalui, dan gw masih harus keep up sama sejuta hal lainnya. Rasanya mau pecah kepala gw.

Biasanya gw klo kayak gini, gw nelpon dia buat nangis dan cerita.

Ya, gw selemah itu. Ya, gw cowo tapi gw nangis. Ya, gw kelihatan tangguh tapi ternyata ada cewe yang lebih tangguh dari gw. Ya.... Gw ga kayak yang kalian kira.

Gw mulai ngerasain sejuta anxiety attack yang bertubi-tubi. Gw takut gw gagal, gw takut gw ga bisa sesukses yang gw kira, gw takut cewe gw ninggalin gw buat orang lain, gw takut gw udah berusaha tapi gw tetep gabisa sama cewe gw, gw takut gw udah berusaha dan sukses tapi terlambat. Will I ever be good enough? Even I'm not good enough for myself.

Gw ngerasa gapuas sama diri gw. Bahkan untuk memenuhi standar yang gw buat sendiri, gw harus struggling sesusah itu. Gw yang biasanya bikin makalah 10 halaman harus minimal baca 10 jurnal dan total daftar pustakanya bisa sampe 6 halaman, pas ngerjain proposal skripsi setebal 43 halaman gw cuma bisa bikin daftar pustaka 4 halaman. Damn, I'm not good enough for myself.

"Ah, itu mah cuma perasaan lo doang Ry, banyak orang diluar sana yang punya masalah yang lebih berat dari lo." I know.... I know.... semua orang pasti bilang gitu. Cuma gw udah sampe ditahap dimana yang mencegah gw untuk berkembang bukan lagi halangan dari luar, tapi limitasi yang diri gw sendiri ciptakan di kepala gw. Dan gw butuh kunci buat ngelepas segel itu. Masalahnya gw gatau dimana kuncinya.... Ngerti ga sih?

Sesusah itu lho ngejelasin bahwa gw lagi sangat tidak sehat dari segi mental dan psikologis.

Gw butuh ke dokter yang jelas. Gaharus psikiater sih.... mungkin bisa mulai dari psikolog. Tapi gw ga ngerti.... Sebenernya gw harus apa. Dan gw gayakin medication that I will get can mend my mind. Gw butuh seseorang buat jadi tempat gw nangis.... cerita semua masalah gw.... gw butuh ditenangin. Tapi gw gatau siapa yang bisa. Gw takut siapapun itu, dia gabisa nerima semua cerita gw. Bahkan temen gw dari gw SMP (berarti udah 8 tahun temenan), masih harus gw jelasin masalah-masalah gw dulu baru dia konek gw kenapa. Dan cerita hidup gw yang udah 21 tahun itu ga dikit..... Banyak orang yang gabisa nerima gw karena masa lalu gw dan semua masalah yang pernah gw lewati. Dan gw takut untuk mulai cerita ke orang lain. Gw udah malas menceritakan semuanya dari awal cuma buat dapet rejection di akhirnya.

Gw cuma pengen cerita ke cewe gw.... tapi gabisa....

Ngerti ga sih?

Ah, sudahlah....

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta raƱjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...