Skip to main content

Bulan 12

Aku selalu benci bulan Desember.

Entah. Hasilnya tak pernah baik untuk ku. Dari mulai ku bisa mengingat, ku selalu mengalami kesialan di bulan Desember. Awalnya ku kira kutukan selama 3 bulan sebelum ulang tahun, mengingat aku dilahirkan pada bulan Februari. Itu terjadi terus menerus dari ku kecil hingga sekarang. Sepanjang ku bisa mengingat, aku selalu mengira kutukan selama 3 bulan sebelum ulang tahun itu nyata.

Aku salah.

Aku bukan sial karena ini 3 bulan menjelang ulang tahun ku. Nyatanya, cinta pertama ku berbunga di bulan Januari. Nyatanya bulan Januari sering menampakkan wajah sumringahnya kepada ku. November pun begitu, seberapa pun deras hujan turun. Tapi Desember, selalu seperti itu.

4 kali ku bertemu Desember belakangan ini, tak pernah baik hasilnya.

Desember 2013, untuk kesekian kalinya, Eyang ku koma. Namun untuk terakhir kalinya. Seseorang yang ku sayangi hingga aku tak lagi menyebut nama dalam doa selain namanya, untuk terakhir kalinya ku mendengar dia bicara. Tak ada lagi tawa. Tak ada lagi pelukan. Tak ada lagi cerita sepulang sekolah. Untuk kesekian kalinya marathon insomnia ku diuji, seberapa lama ku bertahan tanpa tidur. Namun kali ini, dijawab tak seperti biasanya. 3 bulan berselang, tepat seminggu setelah ku berulang tahun, tepat seminggu setelah dia berbicara lagi kepada ku, tepat seminggu setelah dia menitipkan pesan ke aku, Eyang ku berpulang. Mendengar kabar kepulangannya ketika ku sedang melaksanakan ujian tak mencegah ku untuk berlari keluar kelas sekencang-kencangnya. Untuk pertama kalinya, aku bisa berlari sejauh itu. Dari bukit duri, hingga manggarai. Ya, pendek. Tapi biasanya berlari dari ujung lorong saja sudah membuat ku terengah-engah. Ku berlari mengejar kopaja terakhir tujuan Blok M demi mencapai rumah sakit secepat yang ku bisa.

Uang ku hanya tinggal 2rb dikantong. Hari itu aku menyesal membeli nasi goreng di kantin, karena dengan 10rb, aku bisa naik ojek. Hari itu aku menyesal berangkat ujian, padahal perasaan ku sudah tak nyaman semenjak subuh. Hari itu aku menyesal untuk tak lagi Tahajud, karena ku lelah 3 bulan tak tidur. Hari itu aku menyesal tak mengisi paket data ku, karena keluarga ku harus bersusah payah mengabari guru ku. Hari itu aku menyesal tak tidur di samping eyang ku, karena ku terlalu bosan tidur di kursi. hari itu aku menyesal membawa baju kotor untuk dibawa pulang ke rumah, karena tas ku menjadi berat. Hari itu aku menyesal......

Dan yang terakhir ku ingat, ku ikut turun ke liang lahat untuk mengubur eyang ku. Lengkap dengan seragam putih abu abu. Dan sepatu converse yang tak lagi berbentuk.

Desember 2014. Untuk pertama kalinya aku patah hati. Bukan.... bukan patah hati cinta monyet anak sekolahan yang biasa disinetronkan. Aku patah hati karena usaha ku tak berbuah hasil. Ku korbankan semua yang ku punya. Aku hanya berharap mendapat sosok tempat bersandar, pengganti eyang ku yang sudah tiada. Aku begitu tulus mencintainya. Tapi tak bisa. Dia hanya berkata "tidak bisa" tanpa keterangan. Temannya menjelaskan bahwa tak bisa, lebih tanpa kejelasan. Aku ingat betapa berat kaki melangkah hari itu, dengan kemeja lusuh yang melekat di tubuh ku, penuh keringat dan air mata. Ku seret kaki ku dari Kuningan hingga Depok. Menaiki kereta paling malam yang bisa ku naiki. Menangis sejadi-jadinya di gerbong laki-laki. Ku pulang dari stasiun hingga rumah berjalan kaki. Sesampainya di kamar, tubuh ku ambruk di lantai. Dia tak pernah tau, dan seharusnya tak pernah tau. Tapi entah mengapa suasana malam ini benar-benar membuatku tak rasional. Semua usaha ku hanya dihargai sepiring makanan dan minuman manis yang dianggap dapat mengobati sakit hati ku. Hari itu aku menutup pembicaraan dengan "Selamat Ulang Tahun" dan ku lempar telepon genggam ku ke tembok.

Desember 2015. Sama saja. Kali ini lebih parah. Ku kira satu tahun dapat mengubah hati seseorang. Ku kira usaha ku yang lebih keras akan berbuah hasil. Orangnya sama, aku masih ingat setiap detail wajahnya. Aku ingat semua hal yang kami lalui bersama. Aku ingat ciuman pertama ku yang terasa begitu istimewa. Aku ingat pelukan hangat itu yang mengobati rindu ku akan kasih sayang yang tak pernah ku dapat semenjak kecil. Aku ingat hembusan nafasnya di leher ku setiap dia bersandar. Aku ingat genggaman tangannya yang begitu melekat di tangan ku. Aku ingat semua, setiap aspek setiap detail. Aku ingat semua, yang direnggut oleh teman ku sendiri. Agak berbohong kalau ku bilang Desember lah awalnya, tapi Desember lah puncaknya. Untuk pertama kalinya aku merusak diri ku begitu jauh. Sejauh yang pernah ku bayangkan. Aku tak mengira bahwa pecahan kaca itu akan mampu ku letakkan di leher ku. Aku tak mengira waktu bisa terasa begitu lambat. Aku tak mengira air mata ku sebanyak itu. Aku tak mengira bahwa tak makan 3 hari benar-benar membuat ku tak berdaya. Aku tak mengira bahwa aku tetap tak bisa mabuk, terlepas apapun yang masuk ke tubuh ku. Aku tak mengira bahwa aku mampu merusak pintu kayu. Aku tak mengira kalau darah ku bisa mengering secepat itu di tembok. Aku tak mengira kalau teman ku bisa seperti itu. Aku tak mengira kalau dikhianati rasanya sesakit itu. Ini bukan melebih-lebih kan. Aku merasakan apa itu sakit hati. Tapi bukan cuma perasaan. Raga ku merasakan sakitnya menjalar. Dari dada yang tiba-tiba menjadi sesak. Kemudian jemari ku terasa beku, dingin. Tangan ku tak lagi bertenaga untuk meraih apapun. Kaki ku gemetar. Perut ku terasa dikocok dengan hebat. Kepala ku berat. Paru-paru ku panas. Telinga ku berdengung. Pandangan ku kabur. Pita suara ku seakan putus. Dan aku merasakan itu terus menerus.

Desember 2016. Aku pikir aku sudah bahagia. Dapat menjalin kisah yang selama ini ku harapkan dengan orang yang selama ini ku nantikan. Sosoknya yang begitu sempurna, lengkap dengan segala kekurangan yang membuat ku jatuh cinta. Namun untuk kesekian kalinya kebahagiaan ku terenggut. Aku harus melepasnya. Aku masih ingat cacian dan makian yang disampaikan orang tuanya di telinga ku. Terasa begitu nyata. Masih seperti kemarin. Semua ungkapan yang begitu pedas. Katanya aku anak yang tak punya masa depan. Kata nya aku dari keluarga berantakan. Katanya aku pembawa masalah. Katanya aku pengaruh buruk. Katanya aku bukan siapa-siapa. Katanya aku tak bisa jadi apa-apa. Katanya aku rusak. Katanya aku sampah. Dan ribuan juta makian lainnya. Dan aku tahu, aku memang begitu. Aku memang berasal dari keluarga berantakan yang bahkan aku tak tahu wajah ayah ku semenjak ku kecil.Orang yang ku anggap keluarga hanya Kakek dan Nenek ku, yang sudah berpulang ke Sang Pencipta, serta om ku yang juga harus menanggung keluarga kecilnya. Aku selalu dikucilkan di keluarga besar, dibilang aib, dibilang tak berprestasi, dibilang gabisa bawa nama keluarga. Terakhir ku bertemu mereka, ucapan mereka adalah "Ngapain masuk jurusan kuliah yang ga terkenal gitu? Menghindari persaingan?" di depan sepupu-sepupu ku yang sukses masuk Fakultas Kedokteran entah di manapun kampusnya. Aku sangat sadar betapa rendahnya diriku. Dan rasanya seperti ditampar ketika mendengar kata-kata tersebut dari mulut orang tua kekasih ku.

Desember 2017. Entah. Aku yang terlalu jemawa atau memang nasib buruk selalu menghantui ku. Untuk perempuan yang terkasihi. Maaf... Hanya itu yang bisa ku sampaikan. Masih dengan masalah yang sama dengan Desember sebelumnya. Namun kali ini entah bisa terselesaikan atau tidak. Jujur aku muak. Bukan muak dengan kekasih ku atau dengan segala hal yang harus ku usahakan. Aku muak dengan situasinya. Tak bisakah aku dipandang sebagai manusia? Tak bisakah Tuhan memberikan ku waktu beristirahat sejenak? Tak bisakah aku bahagia? Ku beri darah mereka minta jantung. Ku beri jantung mereka minta hati. Ku beri hati mereka minta otak. Ku beri otak mereka minta tangan. Ku beri tangan mereka minta kaki. Ku beri kaki mereka minta badan. Begitu semua hal yang ku punya dari ujung kepala hingga kaki mereka miliki, aku dibuang begitu saja. GILA APA!? Apa lagi yang harus ku lakukan? Menguras lautan dengan sendok obat? Menggali tanah hingga tembus ke Amerika? Terbang ke bulan dengan benang layang-layang? Sebutkan semua hal yang tak mungkin dilakukan, dan kurasa mereka tetap tidak akan puas.

Aku lelah.

Dengan angka harapan hidup manusia Indonesia yang 68 tahun, dan usia ku yang baru menginjak 21 tahun, masih ada 47 Desember yang harus ku lalui. Dan setiap kali ia datang, ia merobek dada ku hingga tembus ke tulang belakang.

Ya. Entah....

Mungkin mati lebih cepat akan lebih baik untuk semuanya. Setidaknya aku tak lagi merasakan kesialan bulan Desember. Dan tak ada lagi orang yang harus direpotkan oleh ku.

Aku selalu benci bulan Desember....

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta raƱjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...