Skip to main content

today's story

Gw bingung mau nulis judul nya apa makanya gw tulis today's story atau cerita hari ini. Secara garis besar sih gw lagi pengen menceritakan pengalaman gw hari ini yg super duper ngebosenin. Baru beberapa hari liburan dah bosen parah. Hal yg pertama terjadi adalah gw terbangun sangat pagi. Dan mungkin itu masih tergolong malam menuju subuh. Karna jam masih menunjukkan jam setengah 3 pagi. Kalian tau kenapa gw terbangun? (lebay mode on) karna sinus gw kambuh. ya, secara tiba2 hidung gw penuh dan gw jadi gak bisa napas kecuali gw mangap2 kayak ikan mas koki. hingga akhirnya aku menyerah pada takdir kalo aku tak bisa bernapas kecuali aku meminum sang obat penawar. (jeng jeng jeng) obat itu adalah..... (jeng jeng jeng) itu adalah.... (jeng jeng jeng) RIZEN.... pasti pada gak tau kan itu obat apaan. makanya, sebenernya sih gak penting gw cerita tentang senjata rahasia gw kalo sinus gw kambuh. setelah meminum ramuan ajaib racikan pekerja pabrik obat di entah dimana dengan takaran 1 sendok makan ukuran standard beserta segelas air putih dingin, terjadilah sesuatu. Hidung ku sudah tidak mampet dan aku bisa bernafas seperti biasa. seperti di iklan panadol, "ma, suara kodoknya sudah hilang." (gak penting dot kom)

laper, itulah yg gw rasa sekarang. pengen ngelanjutin ceritanya tapi laper dan gw sekarang jadi pengen makan. ok lah kalo begitu. kita istirahat kan badan kita yg mual2 dan menunjukkan tanda2 terjangkit virus flu babi karna membaca blog ini (oh ini blog toh, gw kira tempat sampah), mari istirahat sejenak. dan see you later guys and girls.....

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta raƱjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...