Skip to main content

At Last

Akhirnya, setelah sekian lama berstress-stress ria, gw pun telah menerima rapot gw. Deg-degan bgt sih. kata guru gw sih nilai gw menurun. kalo menurut gw sih emang pelajarannya tambah susah. kata eyang gw juga gitu. berhubung eyang gw juga guru. blog gw masih blom ada followersnya. jadi males mo ngupdate blog gw. (kalo lo rada2 bingung ma bahasa gw. silahkan anda datang ke tempat sampah terdekat untuk muntah) kemarin gw ama teman-teman sd gw. hari kamisnya gw ama temen2 gw pergi ke pensi dan expo di sd gw tercinta. (jeng jeng jeng)SD PUTRA 1. pas gw ke SD gw, setiap guru yg ketemu gw pasti nanya "gimana ry pertukaran pelajarnya". hampir setiap guru yg ketemu gw pasti nanya. hari keduanya tepatnya hari jumat. gw ama temen2 sd gw (lagi) walaupun cuman yg cowo2 pada main futsal di futsal city di jalan raden inten yg tempatnya asik,gede,bagus (jadi promosi dah gw). dan dengan bodohnya kita, kita barunyadar kalo kemarin jumat itu tgl merah dan ternyata bayarannya itu 220 ribu!!!!!! gw yg bawa duitnya pas2an jadi merasa bersalah ama adi. sorry bgt ya di.(moga2 si adi baca blog gw). mau cerita apalagi ya? oh. buat yg belom add fb,fs(mang masih jaman?),hi5,plurk dan twitter gw, silahkan add di ary.ramadhan@yahoo.co.uk . gw dah bosen nih. udah dulu ya. sampai jumpa lagi. sayonara. goodbye. see you later.

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta raƱjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...