Skip to main content

In Terms of Losing Someone and Its Aftermath

I'll have to attend a Hackathon Event in 6 hours, but I need to let this out of my chest.

---

Dalam suasana berduka, gw kadang merasa awkward dengan setting-nya. Dikelilingi oleh orang-orang yang sedang menangisi kepergian mendiang. Tangis haru bersahut-sahutan bersamaan dengan senyum getir yang tersemat di sana-sini. 

"Yang tabah ya..."

"Turut berduka cita..."

"Dia udah ga sakit lagi sekarang..."

Ucapan-ucapan yang terlontar dari banyak orang kepada keluarga yang berduka, seakan berusaha berbagi beban kesedihan dan ikut turut andil dalam merasa terluka. 

Menghadiri pemakaman juga tidak lebih baik (atau kremasi). Terlalu sedikit ruang untuk terlalu banyak orang yang sebagian hadir tanpa peran. Keluarga yang ditinggalkan duduk dan menyaksikan detik-detik terakhir mereka berhadapan dengan mendiang. Kadang syahdu, kadang mengenaskan, tak jarang juga sepi.

---

Menghadapi kematian dari seseorang yang penting dalam hidup sepertinya jadi trope umum dari karya-karya fiksi di luar sana. Naruto kehilangan sosok ayah dan ibu sebelum dia mampu mengolah emosinya, dan father-figure yang membimbingnya meninggal tanpa dapat dia saksikan. Luffy memeluk Ace di detik terakhir dia menghembuskan napas dan berteriak karena rasa sakit dalam hatinya sudah tak lagi terbendung. Tidak lumrah rasanya seseorang mengarungi hidup tanpa pernah dihadapkan dengan kematian seseorang yang signifikan dampaknya.

Tak terkecuali gw...

Malam tahun baru 2025 dimulai dengan telpon whatsapp berisikan isak tangis yang bilang "Mas Bimo udah mau gaada Ry..." dan gw cuma bisa membimbing syahadat serta adzan via sinyal digital yang entah dicatat malaikat atau engga.

Bohong kalau gw bilang gw ga sedih. Tapi semenjak kematian kakek gw tahun 2003, gw selalu gabisa nangis ketika orang yang penting dalam hidup gw meninggal. Butuh waktu untuk sampai akhirnya ada air mata yang menetes membasahi pipi gw, itupun untuk beberapa menit.

Sisanya? Hampa dan Amarah.

Hubungan gw dengan Tuhan sulit untuk dibilang baik. Gw selalu menganggap bahwa Dia tak lagi peduli sama doa dan isak tangis yang dipanjatkan orang-orang. Bukan karena Dia meninggalkan kita, tapi kita yang sudah terlampau jauh dari-Nya. At least that's what I said to myself.

But the reality is, gw marah.

Masih hangat di kepala gw 5 tahun gw menjalani kehidupan SMP sampai SMA tinggal di rumah sakit nemenin nenek gw (yang gw panggil ibu) berobat, kemoterapi, koma, masuk ICU, bangun lagi, gitu terus sampai one day, she's gone. Dia selalu berkata sama gw setiap dia sadar dari koma, "Kamu tuh kebanggaan ibu. Jangan lupa sholat, nanti kalau ibu udah gaada siapa yang ngingetin." And as always, masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Sampai akhirnya bener-bener gaada yang ngingetin.

Nenek gw orang yang religius, mentok banget religiusnya. Di tengah keluarga besar yang mayoritas menganut Kejawen, dia bersama keluarga kecilnya (as in keluarga kakek buyut gw), jadi satu-satunya yang memeluk Islam sebagai agama. Bahkan ketika dia sudah menikah sama kakek gw, kakek gw baru memeluk Islam seutuhnya setelah pulang haji, which ga lama sebelum gw lahir. Gw masih inget gw belajar ngaji ditemenin sama Kakek gw. Bukan diajarin, legit ditemenin, karena dia juga gabisa baca Al-Qur'an. Belajar baca Iqro 1 sampe 6 ya bareng gw.

Setelah Kakek gw meninggal, Nenek gw menggunakan agama dan ibadah sebagai copping mechanism untuk merasa dekat dengan Kakek gw. Bahkan dipenghujung harinya, Nenek gw cuma bisa mengingau "Pak, tungguin aku pak... Jangan pergi duluan..."

Rasa cinta Nenek gw ke Kakek gw begitu besar sampai 15 tahun lamanya setelah Kakek gw meninggal. Setelah akhirnya dia menyusul Kakek gw melalui kematiannya di RSPP pagi itu, gw menemukan bungkusan plastik kecil dalam dompet Nenek gw yang berisikan semua surat cinta yang dia terima dari Kakek gw selama dia melaut. Mungkin itu alasannya kenapa Nenek gw terus bersedih.

---

Mas Bimo is far from perfect, but he's the best that I could ask for. Om yang cuma beda 13 tahun sama gw. Terpaksa jadi sosok 'Bapak' di usia 20an buat ngebesarin gw dan ngerawat Nenek gw. Did I ask? Maybe no. Did the society ask him? Not really. Tapi dia emban tanpa minta balik semua yang dia kasih.

Di suatu sore bulan Agustus 2024, Mas Bimo dan gw ngerokok bareng di belakang rumah. Dia tiba-tiba bilang, "Lo gausah khawatirin anak-anak gw, kalau gw udah gaada, gw udah siapin semua. Lo urus adek-adek lo aja." Jujur gw gatau harus ngerespon apa. Gw cuma jawab, "Aku lagi usaha mas, buat ngejagain semua."

Bulan November 2024, out of f-ing nowhere. Mas Bimo dan gw lagi asik diskusi soal chapter terbaru One Piece via chat WA, tau-tau dia ngirim foto makamnya Kakek gw. "Di sebelah bapak ada tanah kosong Ry, gw beli apa yaa biar bisa deket sama bapak?" Gw diem. Gatau gimana cara memprosesnya. Apakah om gw suicidal? Apakah om gw sebenernya sakit keras tapi ga ngomong? Tante gw tau ga ya? seribu lebih worst case scenario muter di kepala gw dan bagaimana cara gw menanggulanginya. Yang keluar dari ketikan jempol gw cuma, "Jangan ngomong gitu mas."

Gw dapet kabar Mas Bimo kecelakaan jam 3 pagi di WA gw. Posisi gw lagi di Bali waktu itu. For the first time in forever gw pengen bisa teleport dengan segenap jiwa raga gw. Shit. Gw naik pesawat tercepat yang bisa gw naikin. Gw udah mempersiapkan diri menghadapi berita terburuk yang bisa terjadi. Tapi hati gw tetep sakit begitu gw sampai di rumah sakit. Gw liat dia koma ga sadarkan diri dengan 1/4 tengkoraknya kebuka buat ngurangin tekanan ke otaknya. Dokter bilang bisa pulih tapi kecil kemungkinannya fungsional. Keluarga gw udah tanda tangan DNR. Gw cuma bisa megang tangan dia yang setengah dingin sambil terus bilang, "Lo harus nemenin gw mas, gw belum jadi orang."

Anehnya, gw tetep gabisa nangis. Sampai hari ini pun gw belum bisa nangis. Gw balik ke Bali karena dokter udah bilang om gw stabil dan lagi proses recovery. Gw ada beberapa urusan yang harus gw selesaikan di Bali walau hati berkata harusnya gw stay. Di hari pemakaman om gw, pesawat gw delay 1 jam. Begitu gw sampai di pemakaman, semua udah selesai. Orang-orang udah pulang. Tenda udah dibongkar. Nisan om gw udah tertancap dikelilingi taburan bunga berbagai rupa dan aroma. And yet, not a single tears rolling down my eyes.

Gw ngerasa bukan manusia.

Semua orang terdekat om gw selalu bilang, "Bimo tuh bangga banget sama lo Ry. Dia udah nganggep lo anak pertamanya dia." Gw tau intensinya. Gw tau mereka juga terluka. Sayangnya, itu ga membuat gw ngerasa lebih baik.

For months gw struggling sama pemikiran ini. Apakah gw udah ga punya empati? Apakah gw sebenernya udah mati dan tubuh gw tuh cuma jalan on autopilot buat menyelesaikan apa yang udah gw mulai? Apa jangan-jangan gw memang ga pernah genuine ke orang lain? Apakah semua emosi yang gw rasakan selama ini cuma reaksi tubuh gw terhadap social cue yang ada di sekitar gw aja? Gw menatap nanar ke dalam cermin sambil nanya, "Lo tuh siapa sih?"

In the pursuit of humanity, I lost my sanity.

---

Kemarin pagi gw dapet kabar dari Leon, salah satu adik asuh dan mentee gw, kalau Karen meninggal. Sebuah program tiba-tiba ke trigger dalam diri gw. Gw sebar beritanya, ngabarin orang-orang yang relevan, ngegeser jadwal dan beberapa agenda, dan langsung meluncur ke rumah duka. Sesampainya di sana gw menyaksikan puluhan (kalau bukan ratusan) orang-orang yang berduka dan bersedih soal kepergian Karen. Dan gw kembali terjebak dalam situasi awkward dimana gw gatau harus merespon gimana.

Kalau ditanya apakah gw kenal Karen secara personal dan sangat dekat, I could said yes but my consience not letting me. Selain surface level knowledge and interaction, gw ga sedeket temen-temen yang hadir di rumah duka. Gw cuma kakak tingkat yang kebetulan satu jurusan, dipertemukan dalam program pembinaan, yang develop jadi hubungan sharing ilmu aja. Interaksi gw dan Karen seperti hubungan akademia yang bertukar pikiran dan wawasan serta mendiskusikan hal-hal yang di luar jangkauan tangan sambil sesekali bercerita tentang keseharian. Ga lebih dan ga kurang. Dan dalam interaksi gw dengan Karen selama 9 tahun terakhir, sepertinya gw ga sesignifikan itu, pun sebaliknya.

Tapi hari ini terasa lain, tiba-tiba mata gw perih. Gw meneteskan air mata walau hanya setitik ketika gw pertama kali melihat Karen di dalam peti. Ada rasa sakit yang gw gatau kalau gw bisa rasain. Rasa sedih ini seperti memuncak ketika gw berdiri disebelah dia sambil merasakan harum melati menusuk lidah dan hidung gw. Gw butuh waktu memproses ini.

Sembari gw menulis eulogi yang ga jelas arahnya ini, gw menyadari bahwa rasa sedih yang gw rasakan ketika gw mengucapkan doa buat Karen tidak hanya berasal dari rasa kehilangan seorang kakak, tapi juga rasa kecewa dan marah terhadap diri sendiri bahwa gw gagal mewarnai hari-hari orang yang gw anggap penting.

Gw seperti menangisi sisi diri gw yang hilang entah kemana. Realisasinya muncul ketika gw dihadapkan sama kepergian orang yang selalu hadir buat semua orang. Deep inside gw tau kalau gw mengaggumi Karen, dan gw pengen jadi dia. Dia selalu tersenyum dan berbagi kepada orang-orang disekitar dia. Dia selalu ingin tahu kabar dari setiap orang. Dia selalu memberikan kata-kata manis yang mungkin bagi sebagian orang hanya noise, tapi gw tau dia genuine sama orang lain. 

Ga semua orang suka Karen, tapi gw tau semua orang pernah disentuh hidupnya sama Karen, one way or another. Seperti bagaimana Mas Bimo menyentuh hidup banyak orang. Sebagaimana Kakek gw juga. Yang sayangnya gw gabisa. Orang gasuka sama gw, dan gw ga peduli. Orang care dan peduli sama gw, dan gw tetep ga peduli. Gw melihat sosok orang yang gw ingin ada dalam diri gw di dalam pribadi Karen. Dan gw masih gabisa menemukannya di dalam cermin.

---

Teruntuk kalian yang sedang, pernah, atau mungkin akan berduka, remember their kindness and keep moving forward. Semua hal yang udah kalian lalui bersama adalah prasasti kehadiran dia di dunia ini. Semua salah yang terjadi di masa lalu adalah pembelajaran untuk terus maju dan berubah menjadi lebih baik, bukan belenggu yang membuat kita terus merunduk sedih. Ketidakhadirannya memberikan kita ruang untuk berbagi hal yang dulu dia bagi buat kita. Tersenyumlah untuk dia yang selalu kita cari. Pada akhirnya, mereka semua ingin kita bahagia selamanya sampai kita mati. Dan pada saat itu, kita bisa berkumpul bersama lagi.

Menjadi manusia seharusnya menjadi peduli. Peradaban dimulai dari bukti bahwa kita merawat orang lain, bukan dari teknologi. Semoga kita dapat terus berbagi. Sampai nanti.... 

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta raƱjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...