Peran apa yang aku mainkan hari ini?
Sebuah pertanyaan yang selalu terlintas di kepala ku setiap pagi. Terkadang ia muncul dengan berbagai versi. Salah satunya adalah "Apakah aku tokoh utama dalam cerita ku?".
Tokoh utama adalah tokoh yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita (Nurgiyantoro, 1995).
Masihkah aku yang menjadi tokoh utama dalam cerita ku? Apakah aku hanya menjadi tokoh pembantu dalam cerita orang lain? Cerita apa yang aku jalani?
Di dalam setiap buku novel, sang Tokoh Utama acap kali diceritakan sebagai orang yang memiliki tujuan, maksud, dan objektif yang ingin dicapai. Harry Potter misalnya. Sedari awal cerita, kita sebagai pembaca tahu bahwa Voldemort adalah suatu entitas yang menjadi tujuan Harry Potter. Sebuah tugas mulia untuk mengenyahkan kejahatan dari muka dunia demi kebaikan bersama. Dalam perjalanannya, Harry tidak serta merta mengetahui tujuannya. Hidupnya dimulai sebagai anak asuh yang teraniaya yang kemudian mendapat suatu keajaiban. Menjadi penyihir menjadi jalan keluarnya, yang kemudian menghadapkan dia dengan tantangan lain, yakni mengalahkan pembunuh orang tuanya. Konflik dalam ceritanya tereskalasi bersamaan dengan pengembangan karakter yang terjadi pada dirinya. Meningkatnya tensi dalam cerita sekaligus mendewasakan karakternya sebagai anak muda yang sedang tumbuh. Kita, sebagai pembaca, memiliki kuasa untuk mengetahui segalanya. Yang terjadi di masa sekarang, masa lalu, dan menerka masa depan. J.K. Rowling sebagai penulis tentunya memiliki kuasa yang jauh lebih besar, dia mampu mengubah jalannya cerita sesuka hatinya. Pada akhirnya, Harry hidup tak sebagai tokoh utama bagi dirinya. Harry merupakan pengejawantahan idealisme yang dimiliki penulisnya. Bahwa Harry adalah penyelamat dunia yang diinginkan oleh Rowling.
Okay, terlalu cepat.
Tokoh Harry tumbuh bersama pembacanya. Kita terpesona dengan perjalanan hidupnya. Kita tahu setiap penggalan hidupnya. Kita tahu semua hal yang dilaluinya. Kita mengalami yang dia alami. Sangat mudah bagi kita untuk tahu bahwa dia tokoh utama dalam cerita. Bagaimana karakter lain yang mungkin sangat singkat diceritakan? Tokoh V dalam novel grafis "V for Vendetta" misalnya. Kita tak tahu (bahkan hingga akhir cerita) siapakah V. Yang kita tahu bahwa dia punya tujuan, dan ia rela melakukan segalanya demi mencapai hal tersebut. Kita tak pernah diyakinkan bahwa apa yang dia lakukan adalah benar atau sesuatu yang harus dilakukan. Kita hanya menyaksikan bagaimana V menginsepsi Evey dengan ide-ide anarkisme dan penghancuran struktur kelas. V tak ambil pusing apakah pembaca menyukai idenya atau tidak, bahkan V tak peduli pada pendapat Evey. Atau secara lebih gamblang, Alan Moore sebagai penulisnya tak peduli apakah kita sebagai pembaca dapat ikut mengimani ide yang dibawakan. Jalan ceritanya begitu singkat tapi dalam menggambarkan bahwa tujuan mulia V memang mulia sedari awal. Usahanya untuk menghancurkan Konformitas yang terlanjur eksis di masyarakat membuatnya agak sedikit dipertanyakan. Dan secara filosofis kita akan bertanya pada diri kita sendiri, mampukah kita menghancurkan konformitas dalam hidup kita? dan bila iya, apakah itu membuat kita menjadi antagonis di dalam cerita kita sendiri?
Protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, yang salah satu jenisnya secara populer disebut hero, yaitu tokoh yang merupakan pengejawantahan norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita (Altenbernd dan Lewis dalam Nurgiyantoro, 2002). Protagonis menjalankan idealisme yang dibawanya. V tetap menjadi protagonis walaupun tujuannya adalah mengacaukan dunia (dari sudut pandang umum). Harry pun protagonis dalam dunianya. Dari sudut pandang tokoh Harry, Voldemort adalah antagonis, tokoh yang menjadi penyebab konflik, yang berlawanan dengan protagonis. Tapi tak selamanya protagonis adalah orang baik. Becky Sharp dalam novel Vanity Fair karya William Makepeace merupakan seseorang yang manipulatif yang tak segan memanfaatkan orang-orang terdekatnya demi mencapai tujuannya. Tak sepenuhnya jahat, tapi tak bisa dibilang sempurna. Begitu juga Hamlet dalam Hamlet karangan William Shakespeare. Hamlet sebagai tokoh utama tidak memiliki determinasi yang kuat seperti tokoh utama dalam cerita lain. Dia indesisif, cenderung labil, dan mudah terpengaruh. Dan sekali lagi, protagonis dan antagonis sangat bergantung pada sudut pandang.
Kembali membedah tentang sudut pandang. Dalam novel Brave New World karya Aldous Huxley, kita dikenalkan pada sebuah cerita tanpa tokoh utama. Lebih tepatnya, sang tokoh utama adalah representatif dari banyak orang yang berpikiran sama. Di dalam novel tersebut, sebuah dunia bernama "a World State" hadir menjadi solusi dari permasalahan umat manusia. Sang Direktur, yang merupakan pengendali dunia, menawarkan kesenangan sebagai solusi dari segudang masalah yang terjadi di dunia. Manusia secara umum dipisahkan menjadi orang-orang yang layak dan tidak layak. Para manusia yang menurut diberi kehidupan dengan kesenangan tanpa batas sedangkan mereka yang menolak diasingkan jauh dari peradaban. Di awal cerita, Bernard Marx merupakan manusia yang berada di dalam "peradaban". Ketidakpuasannya dengan pemerintah yang terus mengontrol hidupnya membuat dia memulai perjalanan untuk keluar dari tatanan masyarakat. Di paruh kedua cerita, John, the Savage, memberontak sistem dan berusaha menghancurkan dunia utopis ini. Dari sudut pandang kedua karakter, mereka adalah protagonis, mereka yang merasa diri mereka unik ingin tak sekedar dianggap seonggok manusia di dalam sistem. Mereka dengan segala daya dan upaya berusaha membongkar paradigma dan mengatur ulang hirearki dunia. Mereka tidak sendiri, banyak yang berpikiran sama dengan mereka, akan tetapi orang-orang yang tak mau keluar dari zona nyaman melampaui mereka secara jumlah. Bagi mereka, kehidupan telah sempurna. Bernard dan John tak lebih dari sekelompok teroris yang akan menghilangkan kenyamanan yang mereka punya. Bernard dan John adalah antagonis bagi dunia.
Hal ini lumrah terjadi di dunia. Hitler adalah antagonis bagi sebagian besar umat manusia, tapi bagi segelintir orang, dia adalah pemimpin yang berhasil membuat Jerman kembali berjaya setelah terpuruk akibat perjanjian Versailles. Spartacus adalah pahlawan bagi para budak di era romawi. Usaha pembebasan yang dilakukannya menggerakkan hati para budak yang teraniaya. Akan tetapi bagi bagi kekaisaran Roma, dia tak lebih dari sekedar pemberontak yang berusaha menghancurkan tatanan sosial yang telah berlaku ratusan tahun. Dan masih banyak lagi contoh bagaimana seorang protagonis dapat menjadi antagonis dengan mengubah sudut pandang. Dan untuk dapat melihat ini, kita harus mampu mengimani hal yang mungkin tak biasa kita imani. Mempercayai bahwa Kaisar Jepang adalah titisan Dewa Matahari menjadi hal yang perlu kita lakukan untuk mengerti mengapa tentara Jepang rela melakukan Kamikaze. Mempercayai bahwa hidup sesungguhnya adalah hidup di dunia tanpa rupa (Arupadhatu) membuat kita mengerti mengapa pasifisme Gandhi adalah hal yang wajar. Mengubah sudut pandang adalah hal yang wajib sifatnya dalam mengerti mengapa banyak orang melakukan banyak hal.
Dan kita kembali kepada pertanyaan awal.
Apakah kita merupakan tokoh utama dalam cerita kita?
Tak ada yang membatasi sebenarnya antara tokoh utama dan tokoh pembantu selain jalan cerita. Luke Skywalker adalah tokoh utama dalam seri Star Wars episode 4 hingga 6. Tapi secara keseluruhan saga, cerita ini berkutat pada Anakin Skywalker sebagai pemenuh ramalan penyeimbang dunia. Bahkan secara keseluruhan, Luke lebih menjadi tokoh pembantu dalam perjalanan Anakin memenuhi takdirnya. Dan sekali lagi, sudut pandang sangat berpengaruh dalam definisi. Kita dapat menganggap Anakin adalah sang tokoh utama dengan Luke adalah perpanjangan tangannya untuk menjadi penyeimbang the Force. Kita juga dapat membuat pernyataan bahwa Luke lah sang tokoh utama dengan Anakin hanya menjadi pendahulu bagi sang Tokoh utama, sebagaimana Dumbledore menjadi mentor bagi Harry dalam usahanya mengalahkan kekuatan jahat. Hal serupa juga terjadi dalam Saga Lord of The Rings. Dari sudut pandang yang disajikan dalam ketiga buku Lord of The Rings, Frodo Baggins adalah tokoh utama penyelamat dunia dengan misinya untuk menghancurkan cincin Sauron. Tapi menarik jauh ke buku lain dalam legendarium yang sama, Silmarillion, kita jadi tahu bahwa perang antara baik dan buruk ini telah terjadi sejak awal penciptaan dunia. Pertempuran antara Frodo dkk dengan Sauron hanya pengulangan dari perang antara Eru dan pengikutnya dengan Melkor dan bawahannya. Signifikansi tokoh utama tergantung seberapa jauh kita memandang ceritanya.
Jadi, apakah kita masih tokoh utama dalam cerita kita? Jawabannya, iya, hingga batas tertentu. Definisi akan cerita menentukan seberapa besar peran kita di dalamnya. Bagi diriku yang memandang dunia sebagai satu kesatuan mesin yang bekerja beriringan, aku tak lebih dari butiran debu di alam semesta. Tapi aku tetap tokoh utama dalam perjalanan diri ku menjadi manusia bermanfaat. Jika kamu bertanya pada diri ku apakah kamu tokoh utama dalam cerita mu, jawaban ku akan serupa. Tergantung kamu memaknai hidup mu. Dan pada akhirnya yang penting bukan apakah kita tokoh utama yang ditentukan dari awal atau tidak, tetapi apakah kita mampu menjadi tokoh utama bagi diri kita sendiri.
Semoga kamu dapat menemui makna mu.
Comments
Post a Comment