Skip to main content

Breaking The 4th Wall

Hello, and welcome back to your favorite blog!

So, beberapa minggu belakangan gw sedikit..... ga sedikit sih.... gw stress. Lots of things happen. And I can't meet my only source of happiness. Well, basically I fucked up. Dan gw jadi demot maksimal. Gw ngerasa ga puas sama diri gw sendiri, ga puas sama pencapaian gw, ga puas sama situasi, ga puas sama kondisi, dan ke-ga-puas-an lainnya. Gw ngerasa ga bernilai dan semacamnya. I literally feel like shit man...

Have you ever love someone so hard it makes you awful? Well, it's not like she makes me awful. Tapi gw nya yang ngerasa ga pantes. Dia dengan sejuta kelebihan yang dia miliki dan gw dengan sejuta kekurangan yang gw miliki. Ini lebih dari sekedar Romeo dan Juliet. Ini udah kayak budak yang mau bercinta dengan Dewi Aphrodite.... Sejauh itu bedanya. Permasalahannya bukan di pelakunya, tapi kontrol sosialnya. Mana mungkin para Dewa mau melihat rekannya menjalin hubungan dengan mahluk rendahan. Kasarnya, lo ngeliat temen lo mau nikah sama kuda, apa yang lo lakuin? Pasti ngehakimi dan berusaha mengembalikan temen lo ke jalan yang normal. Well, that happened to me. Tapi, gw kudanya.

I've been listening to this song titled "40oz on Repeat" by Fidlar. Gw suka bagian Reff nya. It sounds like this: "Because everybody's got somebody. Everybody but me. Why can anybody just tell me that I'm somebody's?" Basically ya gw ngerasa gw bukan siapapun bagi siapa-siapa.... I'm just a speck of dust in the whole universe. Ya I know... my negative perspective towards myself has been written in every single post on my blog. But again... menjadi lebih dewasa tidak mengubah sudut pandang gw terhadap gw. Terkadang capek. Disaat gw ngeliat orang lain bisa ga kayak gw, knapa gw harus kayak gw? Maksudnya, setiap orang punya masalah, dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Dan somehow I won a jackpot on having lots of problems harder than anybody else...

"Ga gitu tau ry, masalah lo emang berat tapi ada orang lain di luar sana yang masalahnya lebih berat dari lo." dan gw udah mendengar itu ratusan juta kali. Ga. Itu ga membantu. If you only want me to not judge other people's problem by comparing my problem with them, ya lo juga ngejudge masalah gw cuy.

Bagi gw masalah berat bukan karena orang tua gw bercerai pas gw kecil, tapi yang jadi masalah adalah paradigma orang-orang terhadap anak yang berasal dari keluarga yang bercerai. Itu yang jadi masalah. Knapa itu menjadi masalah bagi gw? Karena banyak stigma yang disematkan ke gw oleh orang lain tanpa mereka tahu yang sebenarnya. Dan jadinya itu menghambat gw ketika gw ingin menggapai sesuatu. The most fucked up thing yang bener-bener bikin gw muak adalah, gw gabisa mengubah ini. I mean dengan orang tua gw bercerai semenjak gw berumur 3 tahun ga membuat gw ancur (well ada masanya tapi dah lewat). Gw tetep bisa berprestasi, gw tetep bisa membangun diri gw, dan gw tetep bisa punya banyak pencapaian yang mungkin orang lain gabisa. Ini karena gw bisa mengontrol apa yang gw lakukan. Gw punya kendali atas diri gw ssehingga diri gw ga terjerumus ke dalam lubang hitam pergaulan ga sehat yang malah ngehancurin diri gw. I have control over myself. Tapi gw gapunya kontrol atas orang lain. Mereka akan terus memandang gw sebelah mata, despite everything I've achieved. Mereka bakal berpegang teguh pada stigma yang mereka punya. DAN INI MEMBUAT GW CAPEK!

Sigh.....

Well, ga semua yang terjadi ke gw itu hal buruk sih. Gw masih punya temen-temen yang suportif. Gw masih punya dia yang mungkin masih sayang sama gw, gw harap begitu. Gw punya hobi yang bisa ngebuat gw lupa semua masalah gw. Gw punya karier akademik yang lumayan cerah dan akan memulai karier profesional yang baik juga ke depannya. The thing is, my life is not so bad. Dan gw pengen ngebagi cerita gw ke orang-orang. Karena gw tau, orang-orang yang ngerasa kayak gw itu banyak. Orang-orang yang tersingkirkan dari lingkungannya. Orang-orang yang ga disukai keluarganya. Orang-orang yang dipandang sebelah mata. Gw tau gw ga sendirian. Dan gw gamau mereka ngerasa mereka sendirian. We're on the same boat bro! Lo harus yakin sama potensi yang lo punya. Setiap orang tuh punya potensi yang sama buat menjadi sukses, jalannya aja beda-beda. Dan terkait omongan orang, ya kayak yg gw bilang, lo mau gimana? Lo ga punya kontrol atas mereka, yang lo punya cuma kontrol atas diri lo sendiri dan cukup itu yang lo kendaliin. Jangan biarkan mereka mengontrol lo dengan omongan mereka. Lo harus bisa berusaha untuk membuktikan klo mereka salah. Kalau lo bukan seperti yang mereka kira. Tinggal lo jadi kaya, sukses, trus tamparin muka mereka pake duit 5 milyar.

Setidaknya itu yang gw pakai untuk terus melangkah walaupun susah dan hampir tak berarah.

Dan dengan membawa semangat awal tahun (YEAYYY) gw harap gaada lagi orang di luar sana yang ngerasa kayak gw. Gw pengen ngebuat dunia yang lebih baik. Gw gamau ada orang yang harus ngalamin apa yang gw alami demi mencapai tujuan mereka. Dan gw lagi berusaha untuk mengubah dunia. Agar dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk gw, pasangan gw, anak-anak gw nantinya, dan semua orang yang gw sayangi.

Dan seharusnya tulisan ini gw post kemarin, namun karena saya terlalu tepar untuk melanjutkan menulis makanya baru saya post hari ini. So, selamat tanggal 4 untuk yang disana.

Sampai jumpa lagi di postingan selanjutnya!

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta rañjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...