“Aku hanya tak bisa tidur” ujar ku ketika ku menenggak kopi hitam ku.
Kembali ku lihat dirinya dan aku melihat keindahan. Entah, aku tak tahu. Ini sudah kali ke sekian ku kembali ke tempat ini. Bukan karena suasana nyaman yang ku rasakan. Bukan karena minuman dan makanan lezat yang disajikan. Bukan karena sekumpulan kaum borjuis sosialita yang dapat ku temui. Tapi dia…
“Jingga.” Kata gadis bergaun merah di hadapan ku seraya menatap nanar ke luar jendela gedung bertingkat ini.
“Apanya?” Tanya ku yang bingung karena yang ku lihat hanya gelap malam. Wajar sepertinya, mengingat sekarang sudah jam 2 pagi.
“Lampu jalanan.” Ujarnya singkat.
Aku tak begitu memahaminya. Dia begitu aneh. Bukan, bukan aneh yang melakukan hal aneh. Tapi dia… aneh. Ah! Bingung aku menjelaskannya. Aku masih tak dapat mengerti isi kepalanya. Bagaimana kami bisa berkenalan? Entah. Yang ku ingat, aku sudah tak tidur 2 minggu. Insomnia mungkin, lebih tepatnya tuntutan pekerjaan. Lalu ku berjalan tanpa arah menyusuri jalan di sekitar kantor ku. Aku juga tak mengerti kenapa ku meninggalkan sepeda ku hari itu. Kemudian kami berpapasan. Selanjutnya, ku sudah ada disini. Klub Insomnia.
“Kamu suka pelangi?” Tanyanya memecah keheningan di antara kami berdua.
“Mungkin, bagi ku pelangi suatu hal yang absurd.” Tenggakan kopi ku tak sepahit biasanya.
Dia menoleh dan mengerutkan dahinya. Aku tahu kepalanya penuh tanya. Seperti ku yang terus mempertanyakan apakah dia nyata. Kau tahu, kepala seseorang yang tak tidur 2 minggu pasti sangatlah kacau. “Maksud mu?”
“Ya absurd. Pelangi ada setelah hujan. Berwarna-warni, dan indah. Tapi tak bisa dipegang, ataupun dirasa. Hanya dilihat.” Terang ku sambil menerawang jauh ke kedua bola matanya. Bola mata coklat nya begitu mempesona. Mata sipitnya seakan berusaha menyembunyikan keindahan yang disimpannya. Aku begitu ingin menyentuh pipinya.
“Justru itu.” Aku terpelatuk dari lamunan ku. “Pelangi itu ada sebagai pengingat. Bahwa keindahan yang hakiki hanyalah bualan.”
“Aneh.” Ujar ku.
“Pembicaraan kita? Selalu begitu Gis. Percakapan antara kita berdua selalu hal filosofis.” Asil menyibakkan helai rambut yang menganggu pipinya.
Aku selalu suka perempuan dengan rambut panjang, terlihat elegan. Tanpa sadar ku belai rambutnya. Kemudian tepisan tangannya mengembalikan ku ke alam sadar.
“Gis, jangan.” Ujarnya dengan suara halus itu. Oh Aphrodite. Mungkin kau telah turun di hadapan ku sekarang dalam raga fana berbentuk perempuan. Aku jatuh cinta.
“Aku jengah.” Jawab ku ketika ia bertanya mengapa aku kembali ke sini.
“Oleh ku?” Tanyanya dengan suara kecil.
“Tidak. Hidup ku.”
“Kamu tahu?” Dia menarik perhatian ku dengan memutar tubuhnya. “Kenapa kursi ini selalu kosong?” Lanjutnya seraya menunjuk bangku yang ku duduki.
“Hahaha, jangan bilang kau menyisakan kursi ini untuk ku?” Dan sesungguhnya ku berharap ia menyetujui pernyataan ku.
“Bukan.” Jawabnya tegas. “Kursi ini merupakan bukti bahwa seseorang masih berkesempatan mendapatkan ku.” Kemudian wajahnya berpaling.
Aku tak mengerti. Apa yang dia harapkan dari ku? Aku membalas pernyataannya dengan tawa canda? Atau aku menyatakan perasaan hina yang ku pendam tentangnya? Atau ku jadi mawas diri bahwa ku tak satu strata dengannya?
“Cinta itu tak tahu malu Sil.” Aku berkata dan beranjak pergi.
Dia tidak menghentikan ku.
--------------
Ini sudah hari ketiga dia tak datang. Aku sudah lelah menunggu. Dan aku masih tak dapat tidur. Bahkan aku sudah lupa kapan terakhir aku tidur. Bahkan mungkin, aku masih mengenakan kemeja dan jas yang sama seperti kali pertama aku ke tempat ini. Ingatan ku kabur. Sepertinya insomnia ku mulai membuat ku linglung. Disorientasi ini begitu memusingkan kepala ku. Terlalu banyak hal yang berlalu lalang di kepala ku seperti jeritan perempuan paruh baya yang dicopet ditengah pasar tadi pagi, kedipan lampu kamar mandi kantor yang sudah mulai rusak, panasnya komputer ku karena sudah menyala berminggu-minggu, nota pengingat dari atasan ku mengenai presentasi produk baru, dering telepon dua hari yang lalu, aroma bensin yang ku hirup kemarin sore, tekstur roti hampir basi yang ku makan minggu lalu, dan banyak hal lainnya. Aku masih dapat mengingat dengan jelas semuanya.
Aku rindu dia.
Tapi dia siapa?! Aku bahkan tak terlalu mengenalnya. Dia yang membawa ku ke tempat aneh ini. Masalah tidur ku menjadi tambah akut semenjak ku berkenalan dengannya. Aku tidak tahu nama lengkapnya, ataupun alamat rumahnya. Hal yang ku ketahui hanya dia perempuan bernama Asil yang selalu meminta jus tomat segar dan menggunakan gaun merah menyala dan gincu marun menghiasi bibirnya. Selebihnya? Aku lebih dapat memberitahu apa warna dasi yang rekan kerja ku di lantai 6 gunakan di hari selasa minggu ke 3 bulan lalu dibanding informasi tentang Asil.
Namanya begitu indah. Asil. Nama yang dia bilang berarti bangsawan, ningrat, darah biru.
Mungkin dia berkata seperti itu untuk menunjukkan bahwa ku tak mungkin bersamanya. Aku tak pantas untuknya. Aku memang payah. Mahluk nihilis yang tak tahu arah. AH! AKU MUAK! Mengapa diri ku tak bisa menjadi lebih baik? Jikalau ku lebih kaya atau lebih pintar atau memiliki jabatan yang lebih prestisius mungkin aku dapat memenangkan hatinya.
Oh Ares. Berikan ku keberanian. Aku begitu takut akan ketidakpastian.
“Jangan berpikir terlalu keras, tidak sesuai muka mu dengan keseriusan mu.” Suara manis itu menutup rapat mulut ku.
“Akhirnya.” Sahut ku dengan lega.
Dia menarik tangan ku, kami menuju ruangan di belakang akuarium kaca berisikan gurita berwarna hitam gelap.
Aku mendekatkan wajah ku. Dia begitu cantik hari itu.
Dia tersenyum pada ku.
Ku genggam tangannya dan bertanya, “Ada apa?”
“Tidak ada.” Tapi dia terus menatap ku, tepat di kedua bola mata coklat ku. Dapat kulihat jelas mata coklatnya yang menghanyutkan. Tanpa sadar kami berdua terdiam begitu lama, menatap ke dalam jiwa masing-masing. Menit berlalu dan tak ada kata yang terucap.
Dia berkata, “Aku ingin waktu berhenti.”, dan genggaman tangannya semakin erat.
“Sayang, aku tak sanggup melakukannya.” Ku jawab sambil membelai rambut hitamnya.
“Tidak apa.” Dia mendekatkan wajahnya. Dapat ku rasakan hembusan napas hangatnya. Degup jantung ku meningkat. Fokus ku terpusat padanya.
Lalu kami berciuman.
Manis. Bibirnya terasa manis. Selama beberapa saat sepertinya ku hilang kesadaran. Kemudian hentakan tangan di dada ku menjatuhkan ku dari nirwana.
“Kamu sudah milik orang lain Gis.” Kepalanya tertunduk menutupi wajahnya yang malu.
“Aku tahu.”
Februari 1989. Jam menunjukkan pukul 6 pagi dan aku harus mengantar Anna ke kampusnya.
Untuk pertama kalinya, aku yang meninggalkannya sendirian di tempat ini.
--------------
Februari 1993. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, aku kembali mengalami insomnia. Ku kira setelah malam itu, aku akan dapat tidur dengan normal setiap harinya. Setidaknya itu terjadi, sampai hari ini.
Ku telusuri jejak kaki ku setahun yang lalu. Langkah-langkah yang ku ambil untuk menuju klub insomnia. Ku rasakan dorongan yang aneh untuk menuju tempat itu. Aku tahu aku harus kesana, tak peduli alasannya.
Asil. Apakah dia masih disana? Apakah dia masih mengenakan gaun merah favoritnya? Apakah dia masih cantik dengan torehan gincu di bibirnya? Apakah dia memikirkan ku?
Empat tahun waktu yang cukup lama dan ku pikir aku mampu melupakannya. Mengingat ku sudah memiliki kekasih sempurna yang selalu menanti ku pulang di rumah, sebuah ide untuk jatuh cinta dengan perempuan lain adalah hal yang konyol. Nyatanya? Tak sehari pun ku lewatkan tanpa berpikir tentangnya.
Ku buka pintu kayu dengan ukiran singa itu. Aku masuk dengan kepala tertunduk. Aku tak mau langsung menatap meja di sudut ruang itu. Tempat ku dulu bercengkrama dengannya. Tempat ku dulu menatap kota bersamanya, berdampingan, kiri dan kanan.
Alunan musik kontemporer mengembalikan ingatan ku tentangnya. Aroma kopi hitam membangkitkan kenangan yang terpendam. Terang lampu kota ditemani rerintik hujan di luar sana memaksa ku untuk tak lupa. Ku tengadahkan kepala ku. Aku tak pernah lupa mata coklat itu. Aku menghampirinya dan ku duduk di kursi itu, lagi.
“Aku rindu hujan.” Katanya ketika menatap nanar ke luar kaca. Masih hangat diingatan tentang hari itu, hari ku dan nya. Ketika sunyi itu tiada. Ketika mata saling bertatap.
Tiba-tiba dia kembali menatap ku dan bertanya, “Kalau kamu?”
“Aku rindu kamu….” Dan aku terdiam menatap wajah lugu itu.
“Apa kabar?” Sapanya kaku. Tapi senyum nya… Tetap merekah indah.
“Baik…. Sangat baik… Kamu?” Jawab ku berusaha terlihat sempurna. Nyatanya tidak…. Aku tak pernah sama semenjak dia pergi. Tak pernah setangguh dulu. Tak pernah sebahagia dulu. Tak…. seperti dulu…
“Aku…” Dia terdiam sambil memegangi jari manisnya. Cincin emas tersemat di tangan mungil itu
“Ya. Hahaha, mungkin memang rasa ku hanya sepihak.” Tutur ku seakan aku menerima.
“Tidak… Rasa mu juga rasa ku.” Jawabnya sambil mendekat ke arah ku.
Lalu aku memeluknya. Erat.
“Kenapa kamu mencintai ku?” Tanyanya seakan tak yakin akan apa yang aku katakan.
“Karena kamu orangnya.” Jawab ku seraya menatap jendela jiwanya.
“Ada begitu banyak orang yang lebih baik dari ku di luar sana. Kenapa harus aku?” Dia meyembunyikan mukanya, enggan untuk ku tatap.
“Andai aku tahu alasannya, aku akan mencari cara untuk berhenti.” Ketangguhan ku hilang. “Sayangnya aku tidak tahu, dan tak bisa tahu. Mungkin akan terus begini. Aku mencintaimu yang tak bisa mencintaiku. Andai aku dapat menghindari untuk jatuh cinta kepada mu, mungkin aku hanya akan meminta satu hal. Agar kita tidak pernah berubah.”
Dia mendorongku perlahan. Aku tahu ini sebuah perpisahan.
“Selamat tinggal Gisa. Kali ini untuk selamanya.” Dia meninggalkan ku di tempat ini.
Sekarang bangku itu kosong. Tak lagi berisi dan mungkin takkan pernah terisi.
Tamat
So, I joined this short story competition. And I didn't even pass the selection, hahahhaha. But I think this is worthy to share. So I post this on this blog. Ceritanya ga terlalu berkembang sih.... gw cuma fokus sama dialog dan perasaan Gisa ke Asil. Nama mereka aneh.... gw tau. Sengaja milih nama bahasa asing, wkwkkwkw. Biar ga baper *lho*. I wish you enjoy it and want to share it. See you later on my next post!!!
Comments
Post a Comment