Skip to main content

Komunikasi Tanpa Arah

Hai, apa kabar?

Ini sebuah cerita yang ku rangkai untuk kau baca. Aku tahu ini bodoh, tapi ku harap kau akan membacanya.

Sudah seribu hari aku mengenalmu, mungkin lebih, aku tak begitu pandai berhitung, dan setiap harinya selalu ada kamu yang mengisi. Aku merindukan cerita mu. Cerita yang bisa kau narasikan seperti pendongeng-pendongen handal dari kerajaan-kerajaan jauh disana. Ah, untuk apa lah aku bertutur indah? Toh aku cuma ingin bercerita. Ini pertama kalinya aku begitu kehilangan dirimu. Aku yang ditelan kesibukan, dan kamu yang disita pikiran. Terkadang aku bertanya apakah kamu merasakan hal yang sama?

Kita terbiasa berbagi cerita tentang bagaimana banyak hal terjadi. Kamu bercerita tentang teman-teman mu, dan aku bercerita tentang diri ku. Lucu mengingatnya, betapa kita begitu berbeda. Kamu yang begitu memikirkan orang-orang di sekitar mu, dan aku yang hanya peduli diriku. Aku sudah pernah bilang, dan mungkin kau ingat, kamu adalah orang yang mengubah hidup ku. Basi? Bersabarlah sebentar, imajinasi dan kreativitas ku terbatas. Aku bukan orang yang terampil menyampaikan pesan, aku bukan operator dan juga bukan tukang pos. Aku hanya seorang yang kau anggap seperti seorang kakak, dan aku juga lah orang yang begitu sayang pada mu hingga gila.

Lupakan lah yang telah terjadi. Bagiku terus memandang masa lalu hanya akan menyakiti. Akan ada saatnya nanti untuk kita kembali membahas persoalan ini. Oiya, sampai lupa aku, bagaimana kabar mu? Sepertinya kau belum menjawab itu. Kamu tahu? Kamu masih menjadi orang yang ku sebut dalam doa ku, walaupun bukan satu-satunya. Maaf kan aku yang terus mengecewakan mu dan tidak bisa membuat kamu bahagia. Mungkin benar perkataan mu, bahwa kau bukan perempuan yang baik untuk ku, karena aku pun bukan laki-laki yang baik untuk mu. Hidup ku kacau, terlalu banyak duka dan pilu yang ku pikul. Aku tak mau kau ikut merasakannya, padahal kamu sendiri pun terluka karena banyak sebab.

Aku senang kita masih bisa bercerita, walaupun tanpa suara. Setiap barisan kata yang kau kirim terasa begitu hangat dan menyegarkan. Entah apakah kata-kata ku juga memberikan efek hangat yang sama pada mu. Sepertinya tidak,,, Aku tahu pemilihan kata ku aneh, tak usah kamu hiraukan. Cara kerja otak ku berbeda dari orang kebanyakan, dan hanya kamu yang bisa bilang bahwa aku normal.

Apakah kekasih mu baik-baik saja? Memang bukan hak ku untuk bertanya, tapi kau tahu seberapa besar rasa ingin tahu ku. Terserah lah kau mau menyebut dia apa, suami, pacar, sahabat, teman dekat, pendamping, bagi ku sama saja. Dia tetap laki-laki yang kau sayangi kan? Sudah lama tak kudengar kabar darinya. Semoga dia terus menemani mu ya. Dia jauh lebih baik dari aku. Aku hanya bisa memberikan kabar padamu dari jauh, bahkan aku tak cukup jantan untuk menemui mu. Jujur aku ingin berjumpa. Tapi menatap wajah mu saja aku malu. Aku bukan laki-laki yang hebat yang bisa kau sanjung.

Kenapa aku begitu negatif? Entahlah, aku pun tak dapat menjawabnya. Kau bilang kenegatifan ku tak akan bisa menolong mu, dan aku setuju dengan itu. Dan sejak hari itu, aku mengubah pemikiran ku. Lihat kan? Kamu masih mempunyai sentuhan magis itu. Hanya satu kalimat, dan aku berubah. Persis seperti ibu peri yang menyihir labu cinderella agar menjadi kereta kuda.

Aku membaca tulisan mu, dan aku merasakan perubahan pada dirimu. Kau lebih sendu. Mungkin terlalu banyak orang yang mengecewakan mu, termasuk aku. Bahkan kau menyembunyikan satu tulisan itu, yang bercerita tentang perasaan mu. Yang kau ceritaka siapa aku pada teman-teman mu. Mungkin kau lupa, tapi aku terus mengingatnya. Aku begitu senang bahwa aku pernah melintas singkat di ranah pikiran mu.

Aku berubah. Aku bukan lagi Aku yang dulu. Aku sekarang menyanyangi perempuan lain, tapi rasa sayang ku padamu tak berubah, sepeserpun. Laki-laki memang bisa mencintai lebih dari satu perempuan dengan kadar yang sama besarnya. Panggil aku brengsek, panggil aku bajingan, panggil aku sampah. Ku rasa akan lebih mudah menerima celaan dan kebencian dari mu daripada tanggapan yang biasa saja. Kau pernah bertanya bagaimana caranya bisa bertingkah biasa saja kepada seseorang yang kamu tahu memiliki perasaan kepada mu. Jawaban ku mudah, perlakukan dia layaknya teman, dan tetap teguh dengan pendirian mu. Ku rasa orang itu akan mengerti bahwa kamu tak menginginkan lebih. Tapi sekiranya kamu berubah pikiran, jangan sungkan berkata jujur padanya.

Mungkin kamu bertanya-tanya bagaimana pesan ini akan ku sampaikan. Jawabannya aku pun tidak tahu. Aku hanya punya keyakinan besar dalam pikiran ku bahwa kau akan dapat membaca tulisan ini. Entah dibantu oleh mahluk dari negeri antah berantah, atau kau yang menempuh perjalanan untuk bertemu tulisan ini. Aku menyebut ini komunikasi tanpa arah. Aku tak tahu kemana ini akan ku kirimkan. Ku rasa aku hanya harus percaya pada takdir Tuhan.

Sepertinya itu saja. Aku tak tahu harus berkata apalagi. Sesungguhnya begitu banyak hal yang ingin aku sampaikan. Tapi aku tak mau menganggu hari mu lebih jauh lagi. Aku menyanyangi mu, dan akan selalu begitu. Sampai jumpa gadis berdarah O

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta raƱjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...