Skip to main content

Galau Jurusan

mimpi paling buruk ketika lo udah kelas 3 adalah lo belom tau mau kuliah dimana dan jurusan apa. men, itu pilihan hidup men. lo salah milih bisa berabe. dan masalahnya adalah, INI KENYATAAN!!!! BUKAN MIMPI!!!!! so, gw bakal meralat kalimat pertama. HAL paling buruk ketika lo udah kelas 3 adalah lo belom tau mau kuliah dimana dan jurusan apa. njir.... gw ga tau mau ngapain abis ini... gw masih pengen seneng2 T--T ga bisa apa ditunda.... apa gw yg kelamaan ya.... kayaknya gw yg kelamaan -__- bego banget dah gw....

dan akhir2 ini gw lagi ketagihan sama puisi. jadi buat menggambarkan betapa galaunya gw milih pilihan hidup gw, gw akhirnya bikin puisi. judulnya PILIHAN. check this out!


Pilihan
Tunggu aku kawan
Jangan tinggalkan aku
Aku tak dapat berjalan
Tubuh ku terasa kaku.
Berlari…
Akan ku coba untuk berlari
Meski tak pasti
Apa yang akan menanti
Semua terasa berat
Tubuhku seperti diikat
Dan di tahan beban yang berat
Apakah sudah terlambat?
Tunggu aku teman
Aku sudah lelah
Aku dihajar oleh zaman
Aku kalah
Dan semua pergi
Meninggalkan ku sendiri
Terpuruk hancur dalam hati
Perlahan tapi pasti
Aku mulai mati
Mereka melangkah jauh kedepan
Semua dengan penuh keyakinan
Seakan hidup kaya akan kepastian
Tanpa ada kepalsuan
Ku tatap dengan sendu dari pinggiran
Mereka mereka yang menapak jalan
Berharap tinggi pada angan-angan
Melangkah berpayung awan
Dan yakin bahwa hari tak akan hujan
Aku masih menunggu
Melihat orang-orang berpacu
Padahal aku masih kaku
Menanti Tuhan memberitahu
Aku tidak siap
Menentukan jalan hidup terasa berat
Mereka begitu mantap
Seakan buruan sudah terjerat
Aku takut bu…
Aku takut yah…
Ini pilihan hidupku
Yang akan ku lalui dengan susah payah
Belum
Belum
Belum
Belum
Kemudia ku ucapkan belum seratus kali
Belum
Belum
Belum
Belum
Kemudian ku ucapkan belum dua ratus kali
Tak bisa ditunda katanya
Tak bisa mengelak katanya
Tak bisa kabur katanya
Dan tak bisa yang lainnya
Aku takut kak
Aku takut dik
Ini tanggung jawab ku sebagai kakak
Tapi aku hanya ingin menjadi adik
Dan mereka berlari
Pergi mengejar matahari
Meninggalkan aku disini
Berdiam diri
Tunggu aku kawan
Aku butuh kalian
Tunggu aku teman
Aku ingin berpegangan
Untuk menentukan pilihan

 see? betapa ga ngertinya gw harus ngapain... dan ujung2nya gw bukannya nyiapin diri malah tetep asik aja twitteran, main game, nulis, dan menggendutkan badan.... gw bego banget njir.... kayaknya gw tuh harus salah dulu baru tau apa yg harus diperbaiki dalam hidup gw. ga bisa dari awal gw rencanain. hah... gw bukan calon ayah yg baik. tapi selama ini hidup gw berjalan baik2 aja, at least yg major, kalo minornya ya... tergantung sikon... ah sudahlah... sepertinya gw akan menghabiskan 3 bulan gw terakhir di SMA dengan banyak2 belajar dan ujian. jadi ini semacam first warning bahwa gw akan mulai jarang ngepost *lagi*. maaf ya, gw masih belom bisa konsisten ngeblog. jadi buat pembaca blog gw yg setia dimana pun anda berada, ingat lah, bahwa kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan, waspadalah! waspadalah!

see you later guys in the next post!!!

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta raƱjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...