Skip to main content

Karena Sesuatu

hello guys. dah lama nih ga ngepos. susah banget nyempetin waktu buat ngepos selama SMA, ga pernah sempet. jadi maap ya jarang di update

trus, ceritanya karena sesuatu gw jadi galau gitu... *curcol* tapi gw gamau energi gw kebuang percuma buat galau, dan akhirnya gw berhasil bikin puisi. ga tau sih bagus atau ga, dibaca dulu aja ya....



Ksatria Tanpa Ratu

Dengarkan kisah ku sobat
Tentang pencarian hakikat
Tersesat dalam hutan nan lebat
Menanti perahu tertambat
Mencoba terus sadar dan melihat
Sambil bergantung pada besi berkarat
Dengar cerita ku saudaraku
Tentang ksatria berhati beku
Tubuhnya keras terdiam membatu
Pandangannya kedepan tertuju
Menanti datangnya seorang ratu
Dengarkan sajak ku kawan
Tentang segala perjuangan
Melihat api yang mencairkan
Membawa sejuta harapan
Ketika ketidakpastian menjadi keyakinan
Wajahnya…
Pesonanya…
Senyumnya…
Suaranya…
Harum tubuhnya…
Bibir merahnya…
Rambut hitamnya…
Semua terasa sempurna…
Perlahan semua menjadi jelas tentu
Api kehidupan mencairkan hati yang beku
Semua terjadi di depan mataku
Bagaimana ksatria itu terus membisu
Sang ratu membuatnya luluh…
Ratu itu menari-nari menebar bunga-bunga
Langit dipenuhi pelangi tujuh warna
Matahari menggantung bercahaya
Ksatria berdiri dan membuka mata
Dia jatuh cinta…
Awan tipis menyelubungi
Bintang-bintang menerangi
Ksatria mengikrarkan janji
Selalu ada sampai mati
Walau Tuhan yang menghakimi
Hati yang beku telah berdetak
Rasa itu menyeruak
Berpikir tanpa otak
Ksatria merindu terpisah jarak
Katanya hanya Tuhan yang tahu rasanya
Pintanya kepada angin tuk sampaikan pesannya
Di medan perang dia bergelut
Berharap dia dapat kembali hanyut
Didalam pesona sang ratu
Ksatria pulang dengan pedang ditangan
Berharap ratu datang menyambut
Namun muncul sosok pangeran
Bermacam pikiran tersangkut
Masihkah ratu merindu akan hadirnya?
Andai Tuhan dapat berdusta
Katakan bahwa ini bohong pintanya
Terhunus hatinya oleh pedang tak bermata
Mulutnya terkunci rapat tanpa kata-kata
Apakah rasa itu tlah tiada?
Kebenaran begitu menyakitkan
Hidupnya kehilangan tujuan
Hatinya retak karena satu alasan
Ratu pergi tanpa ucapan perpisahan
Bersama seorang yang mengaku pangeran
Apakah dia pantas?
Apakah dia layak?
Apakah dia orang yang tepat?
Apakah dia lebih baik aku?
Semua pertanyaan tertinggal tak terjawab
Di puncak ke dua puluh lima
Di terangi Sembilan bintang
Sang ksatria berteriak
Melepas semua amarah
Namun apalah yang dapat batu lakukan
Hanya diam bergeming tak merespon
Apalah yang dapat air lakukan
Hanya mengalir tak menentu
Apalah yang dapat angin lakukan
Hanya bertiup membawa debu
Andai hujan turun
Dia berharap ingatannya mengalir pergi bersama airnya
Andai angin bertiup
Dia berharap tubuhnya menjadi debu
Andai matahari bersinar terik
Dia berharap dirinya mencair
Andai Tuhan muncul dihadapannya
Dia akan meminta dirinya tiada
Dengarlah ceritaku teman
Tentang pengkhianatan
Oleh seorang berkedok pangeran
Ksatria terdiam membisu
Melihat perginya sang ratu
Dan hatinya kembali membeku


jadi begitulah puisi yang gw buat. gausah protes gara2 jelek atau apa, gw emang jarang bikin puisi, jadi ya gini2 doang bisanya. kali2 kalo sering nulis entar jadi sekeren Farhan puisinya.

oke deh, segitu dulu ya postingan kali ini. kapan2 gw ngepost lagi deh. see you later guys!!!!

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta raƱjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...