Skip to main content

About This Feeling

gw lagi ga tau gimana ngedeskripsiin apa yang gw rasakan. mungkin dengan nulis gw bisa menyampaikannya.

fix gw lagi galau maksimal.... terdengar klise mungkin. anak sma, suka ama cewe, cewenya ga suka balik, trus galau. ga tau kenapa gw masih merasa suka merasa galau. padahal katanya ini bukan jamannya galau lagi.... gw ga bilang gw cinta sama cewe ini. boong kalo gw bilang cinta. gw adalah orang termunafik yang pernah ada kalo gw bilang gw cinta sama dia. gw ga pernah bisa menjelaskan apa itu cinta. ada yang bilang cinta adalah perasaan yang lo rasakan. dan menurut gw, ini bukan cinta. ada yang bilang cinta sama nafsu bedanya tipis. dan itu lebih meyakinkan gw kalo gw ga cinta sama nih cewe. apalah artinya cinta, semua orang bilang cinta, tanpa tau arti yang sebenernya. cinta itu adalah benda fiksi yang diciptakan sebagai teman khayalan manusia yang dipercaya sebagai benda nyata...

ini bukan cinta, ini ga sekompleks itu....

gw sayang dia. hanya se simple itu....

gw ga tau apa bedanya sayang dan cinta. tapi karena gw ga tau apa arti dari cinta maka gw ga mau pake kata-kata itu. sayang itu lebih menggambarkan perasaan gw ke dia. gw merasa nyaman didekatnya, bicara sama dia terasa begitu akrab, melihatnya membuat hati gw tenang, dia memberi efek adiktif yang parah ke diri gw.

gw sayang sama dia. tanpa gw sadari gw mulai hilang akal sehat. gw melupakan batasan-batasan yang gw ciptakan. dia merubah gw menjadi sesuatu yang lain. tapi gw ga menyesal... dia merubah gw, membuat gw berevolusi menjadi makhluk baru, yang lebih baik, dan gw suka itu.... dia merubah gw menjadi pribadi yang lebih dewasa seiring berjalannya waktu....

gw sayang sama dia. gw emang bukan siapa-siapanya dia. hanya teman laki-laki yang sama sekali ga menarik. cuma temen ngechat dan temen sekolah. dia begitu sempurna dengan segala kebaikan yang dia punya. dan gw begitu cacad dengan segala keburukan yang gw bawa. gw dan dia berbeda. dan dia menyeimbangkan hidup gw...

gw sayang sama dia. setiap kali gw berusaha mengerti isi hati diri gw sendiri, gw selalu buntu di satu titik. apa benar yang gw rasakan ini adalah sayang? gw merasa hilang tanpa dia, gw merasa sendirian tanpa dia, gw merasa hina tanpa dia, tanpa dia gw merasa gw bukan siapa-siapa... lo mungkin bilang gw lebay, tapi itu yang gw rasakan...

gw sayang ama dia. ada satu titik gw merasa dia dan gw berada di kondisi terdekat dimana gw dan dia mengerti satu sama lain, entah apakah dia merasakan hal yang sama atau tidak, tapi itu yang gw rasakan. gw senang dengan keadaan ini. kenyamanan ini memabukkan gw... gw bermain aman di comfort zone gw dan dia yang gw ciptakan....

gw sayang ama dia. namun ada satu titik dimana dia menjauh dari gw. menjauh sejauh-jauhnya bagaikan bumi dan pluto di orbit terjauhnya. gw merasa asing di dekatnya, dia kayak ga pernah mengenal gw sebelumnya. jauh, dingin, kaku, kesan itu yang muncul disaat gw melihat dia. gw seperti terhunus sebilah pisau belati yang begitu tajam, tepat di jantung. rasanya sakit, perih, dan menyiksa. ga ada lagi comfort zone. yang ada hanya gw, sendirian, hilang ditengah kegelapan....

gw sayang ama dia. gw ga bisa nyerah gitu aja, semua yang gw perjuangkan ga bisa hancur gitu aja. gw harus bisa mempertahankan kedudukan gw. gw harus bisa merubah status quo. ga bisa gini terus. gw rela melakukan apapun, cuma buat bikin dia ada di dekat gw lagi. perlahan gw berusaha mendekatkan diri, dan sedikit harapan muncul....

gw sayang ama dia. gw ga tau lagi mau bilang apa. gw sayang dia. cuma kata-kata itu yang terputar di kepala gw berulang-ulang. gw sayang dia. kalau aja waktu bisa dikendalikan, gw akan memutar waktu dan memperbaiki semua kesalahan yang gw perbuat, tapi gw ga tau salah gw apa. gw berada pada titik terburuk manusia. gw ga tau kesalahan gw dimana, gw ga bisa belajar dari kesalahan gw. setiap hari gw terbangun dengan kepala yang terasa berat karena memikirkan kesalahan apa yang telah gw perbuat. gw sayang dia. cuma itu yang bisa gw ucapkan untuk menenangkan suasana hati gw.

gw sayang dia. gw ga suka kalo dia deket sama cowo lain. panas rasanya badan tiap melihat dia ngobrol dengan akrabnya ama cowo lain. benci rasanya melihat dia disentuh cowo lain, walaupun cuma sekedar memegang tangan atau menyentuh pipinya. dendam rasanya melihat dia bersama cowo lain. amarah ini terakumulasi dalam diri gw seperti satelit yang memenuhi lapisan terluar atmosfer bumi. gw ga tau gw masih merasakan sayang itu atau tidak....

gw sayang dia. gw berusaha dan terus berusaha. dan sampailah gw kembali di satu titik yang sama yang dulu pernah gw lalui, sebuah titik yang begitu dekat dengan dia sampai-sampai dengan arogansi dan egoisme tingkat tinggi gw menobatkan titik itu sebagai comfort zone gw dan dia. gw memutuskan untuk membawa ini lebih jauh, gw akan lebih mendekatkan diri gw dengan dia. gw ingin lebih dekat dengannya, sedekat yang gw bisa. walaupun tidak akan pernah bersatu pada akhirnya, gw cuma pengen dekat dirinya. ga apa-apa kalo kedekatan gw ke dia sama kayak garis asymptote. gw akan terus di dekat dia, dan terus mendekat, hingga sangat dekat, tapi tidak pernah menyentuh angka 0....

gw sayang dia. gw merasa bodoh. gw ga pernah berani menyatakan perasaan gw ke siapapun. lidah ini terasa kelu. mungkin memang gw ga ditakdirkan untuk mudah mendapatkan apa yang gw mau. sebagai seorang laki-laki gw harus menyelesaikan apa yang sudah gw mulai. dan gw ga akan nyerah.

gw ga berharap dia baca tulisan ini. gw cuma pengen mengungkapkan perasaan gw yang ga bisa gw ungkapkan lewat ucapan mulut. thanks for reading, see you later guys...

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta raƱjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...