Skip to main content

nilaiku sayang nilaiku malang

HELLO........!!!!!!! anjrit, rasanya udah lama bgt gw ga ngepost di blog gw yg gw sayang, gw cinta, dan gw kagumi sepanjang masa *lebay*. ya gw cuma pengn curhat2 sedikit aja. banyak sih sebenernya cerita2 yg pengn gw ceritain. salah satunya tentang nilai gw yg ancur2an kyk mukanya dendi *peace den,wkwk*.

kalo ditanya separah apa nilai gw paranya itu kyk lantai keramik yg kinjek sampe pecah tru dijadiin tambelan jalan yg bolong trus ketimpa batu2 berat trus jadi butiran2 keramik trus di lebur jadi senjata pemusnah masal dalam bentuk racun. kebayang kan? ga kebayang? sama dong.

bayangkan nilai TF1 gw (yg bingung TF itu apa, TF adalah tes formatif atau gampangnya UH di 8)itu adalah koleksi2 angka yg kalo diaransemen jadi lagu bakal jadi lagu anak2 yg nadanya cuma do re mi do re mi fa re doang diulang2 -____-

setidaknya di UTS udah berhasil di tingkatin dan cuma turun dikit untuk 2 plajaran. plg drastis itu bhs jerman, pas TF nilai gw 1,45 pas UTS jadi 9,75. mantepkan.

sebenernya msh banyak yg pengen gw ceritain kyk pemilihan caang pk yg diakhiri dgn tawa,tangis dan penuh kenangan, kejadian2 di kls, suka duka jadi ketua kelas (oh iya, gw keetua kelas lho *trus knapa ry -__-*) dan banyak lagi syg modm gw mau dipake dan gw ga bisa lama2 dpn komputer karna harus belajar buat remed ekonomi. doakan gw sukses kawan2. bye...

Comments

Popular posts from this blog

Menemukan Jati Diri di Tengah Keramaian

 Aku kehilangan renjanaku. Menurut KBBI, renjana berarti rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya), sering digunakan sebagai padanan kata bahasa Inggris "passion" atau semangat mendalam terhadap sesuatu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta raƱjana, yang berarti menyenangkan atau gembira, namun maknanya di Indonesia lebih condong pada gejolak perasaan kuat, terutama cinta dan rindu. (Balai Bahasa Jawa Barat, 2021) Aku berusaha menelaah sejak kapan dia hilang. Mungkin ku jatuhkan di suatu tempat. Mungkin ku gadaikan demi sejumlah uang. Mungkin ku buang karena aku jengah. Mungkin ku lupakan karena terlena. Tapi satu hal yang pasti, aku tak lagi punya renjana... Aku ingat masa-masa ketika aku membicarakannya sebagai mantra harian ku. Semua teman ku tahu itu. Tidak ada satu hari pun aku terdiam tidak membicarakannya walau hanya dalam satu kalimat. Well... It never ends with one sentence. Aku terus meracau tentang bagaimana setiap aksi ku membangun fondas...

Mencintaimu seperti Rintik Hujan

It's been so long since I wrote a poem without a dark, nihilist-tone. So today I'm gonna try to write a poem with a more romantic, hopeful, and happy tone. Please enjoy... Mencintaimu seperti Rintik Hujan Gempita hari ku kembali berwarna setelah lama abu-abu Hembusan angin malam di kala itu menyibak segala yang palsu Akan kah ku temukan kepingan itu lagi bersama mu? Nestapa ku begitu dalam begitu pilu Itikaf mu begitu lama begitu sendu Yuwana kita bertatap dan bertanya dalam satu Teman yang bijak menguatkan mu sebelumnya Ikuti setiap jejak langkah mu dengan berani dan luhur budinya Aku menyambut hangat mereka yang menjadi teduh ketika kamu berdoa Renjana ku merekah, yakin meriah, kembali membawa asa Andai ini semua selalu ada   Walau terpisah kan 36 purnama yang menjaraki Ini janji yang aku buat untuk mu nanti Belah hati ku untuk kamu dan mereka yang kamu cintai Irama langkah ku samakan agar aku dapat mengiringi Seperti rintik hujan di penghujung musim semi Oasis ku membekali m...

Aku Membaca Makna

Hari ini terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Ku berangkat kerja seperti biasa, tapi perjalanannya lebih lama dari biasa. Ku lakukan rutinitas ku selayaknya namun terasa lebih lama dari biasa. Setiap menit yang berlalu, ku rasakan 60 detik lebih lama dari biasanya. Kemudian ku bertanya, aku sedang apa... Terdengar aneh, namun hari ini ku putuskan untuk membaca Al-Qur'an. Bukan untuk sekadar menunaikan kewajiban membaca ketika beribadah. Juga bukan untuk rutinitas pagi kantor ku yang bernuansa Islami. Hanya untuk membaca, mengisi kekosongan di sela-sela waktu yang terasa lebih lama dari biasanya. Aku terngiang satu surat yang dulu sempat ku hapal untuk ujian praktek ketika SD. Ku buka lembar demi lembar mencari di mana surat itu berada. Dan ketika ku menemukannya, aku membacanya dengan hati-hati. Aku mencari alasan ku mencari surat ini. Bismillahirrahmanirrahim In the Name of Allah—the Most Compassionate, Most Merciful Aku menarik nafas, lebih panjang dari biasanya. Aku ingi...